Tak ada rotan akar pun jadi. Peribahasa ini sepertinya menginspirasi pemuda di Durgapur, Benggala Barat, India untuk bisa mabuk dengan cara yang tak lazim.
Jika biasanya obat-obatan terlarang atau alkohol yang lazim digunakan untuk mabuk, namun pemuda di Benggala Barat menggunakan kondom rasa untuk bisa mabuk.
Tak ayal, fenomena aneh tersebut membuat sejumlah outlet yang menjual kondom rasa cepat kehabisan stok.
Dilansir dari South China Morning Post, sejumlah outlet penjual kondom rasa seperti apotek yang menjual alat kontrasepsi tersebut semakin sulit didapat.
“Sebelumnya, tiga sampai empat bungkus kondom terjual setiap hari. Dan sekarang paket kondom menghilang dari toko,” kata seorang penjaga toko dari toko medis.
Menurut penjaga toko tersebut, kondom beraroma yang direndam dalam air panas, akan melepaskan poliuretan yang dapat menghasilkan alkohol hingga bisa menyebabkan mabuk selama 10 hingga 12 jam.
Berdasarkan laporan Vice, kondom biasanya dibiarkan terendam dalam air selama enam hingga delapan jam sebelum seseorang meminum air tersebut. Seorang karyawan di Rumah Sakit Divisi Durgapur, Dheeman Mandal mengatakan hal tersebut bisa membuat ketagihan.
"Kondom mengandung senyawa aromatik kemudian terurai menjadi alkohol. Ini membuat ketagihan. Senyawa aromatik ini juga ditemukan pada lem dendrit. Begitu banyak orang menggunakan dendrit untuk kecanduan juga," kata Mandal kepada News 18.
Berdasarkan pendapat ahli kepada Vice, jika mengonsumsi air kondom yang memabukkan menyebabkan konsekuensi.
Baca Juga: Sudah Mabuk dan Bikin Onar, Geng Motor Keroyok Bocah di Jalan Gus Dur Jombang
"Minum air ini bisa menyebabkan keracunan dan kecanduan. Jika dikonsumsi berulang kali, akan berdampak negatif pada paru-paru dan ginjal, serta membahayakan sistem saraf tubuh,” kata Pakar penyakit dalam di Rumah Sakit Fortis, Kolkata, Joydeep Ghosh kepada Vice.
Kepala perawatan kritis di Rumah Sakit SL Raheja di Mumbai, Sanjith Saseedharan menambahkan, dalam percakapan dengan Vice, jika mengonsumsi tersebut dalam jangka panjang akan menyebabkan kelainan mental.
"Penggunaan jangka panjang ini dapat menyebabkan kelainan mental, termasuk perilaku kekerasan, ketidaksadaran, dan (dalam kasus tertentu) bahkan kematian.”
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Apa Saja Zodiak yang Termasuk dalam Elemen Api? Ini Daftar dan Karakteristiknya
-
3 Lip Balm Wardah untuk Bibir Kering dan Gelap, Pilih yang Sesuai Kebutuhan Menurut Review
-
Menghapus Jejak "Hantu" di Cloud dan Memutus Rantai Penguntitan Siber Pasca-Hubungan
-
Bulog Catat Penyerapan 3,5 Juta Ton Setara Beras, Perkuat Cadangan Pangan Nasional
-
Sebut Pramono 'Asbun', Waketum PSI: Prabowo dan Surya Paloh Bukti Sukses Keluar dari Partai Lama
-
Dari Casual sampai Formal, 4 Ide Outfit Minimalist Classy ala Roh Yoon Seo
-
Hari Anak Nasional: Perjuangan Veronika Reni dan Dukungan PNM Mekaar Wujudkan Prestasi Sang Anak
-
Kulit Kuning Langsat Jangan Asal Pilih! Ini 2 Warna Cushion Skintific Terbaik Sesuai Review
-
Review Leave No One Behind: Drama Laga Kepolisian Berantas Kejahatan TPPO!
-
Dorong UMKM Naik Kelas, Pelatihan Ekspor BRI Peduli Sukses Antar Usaha Lokal ke Pasar AS