Suara.com - Di tengah krisis iklim dan lonjakan kebutuhan listrik global, ketergantungan pada energi fosil masih menjadi tantangan besar bagi banyak negara. Namun, data terbaru menunjukkan pergeseran mulai terjadi—dengan energi bersih kian mendominasi pertumbuhan listrik dunia.
Laporan terbaru Ember bertajuk Global Electricity Review 2025 mencatat, lonjakan kapasitas tenaga surya dan angin mendorong pertumbuhan listrik bersih di Asia hingga 37% sepanjang tahun 2025.
Energi Terbarukan Tembus Sepertiga Listrik Global
Dalam laporan tersebut, Ember menganalisis data kelistrikan dari 215 negara, termasuk 91 negara yang mewakili 93 persen permintaan listrik global.
Hasilnya, energi terbarukan, seperti surya, angin, dan air, menyumbang 33,8 persen dari total pembangkitan listrik global pada 2025. Ini menjadi pertama kalinya porsi energi bersih melampaui sepertiga produksi listrik dunia dan bahkan menyalip batu bara.
Sebaliknya, pembangkitan listrik dari batu bara turun ke 33,0 persen atau sekitar 10.476 TWh, angka terendah dalam sejarah pencatatan.
Tenaga Surya Jadi Motor Utama
Pertumbuhan ini didorong terutama oleh tenaga surya. Sepanjang 2025, listrik dari tenaga surya meningkat 636 TWh menjadi 2.778 TWh, atau naik sekitar 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Tenaga surya bahkan menyumbang 75 persen dari total pertumbuhan permintaan listrik global.
Baca Juga: 1,3 GW PLTS Atap Terpasang, Indonesia Bidik Target Ambisius 100 GW
Dalam jangka panjang, peningkatan ini sangat signifikan. Sejak 2015, pembangkitan listrik tenaga surya global telah meningkat lebih dari sepuluh kali lipat.
Perkembangan ini juga diperkuat oleh teknologi penyimpanan energi. Pada 2025, kapasitas baterai global meningkat 46 persen menjadi sekitar 250 GWh—cukup untuk mengalihkan 14 persen produksi listrik surya dari siang hari ke waktu lain.
China dan India Mulai Tekan Fosil
Laporan ini juga menyoroti perubahan penting di dua negara dengan konsumsi listrik terbesar, China dan India. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, pembangkitan listrik berbasis fosil di kedua negara tersebut menurun.
Di China, listrik fosil turun 56 TWh (-0,9%), sementara di India turun 52 TWh (-3,3%). Penurunan ini terjadi karena peningkatan tajam pada energi surya, angin, serta tenaga air, yang bahkan melampaui pertumbuhan permintaan listrik.
Energi Bersih Lampaui Pertumbuhan Permintaan
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Bulan di Laut, 4000 Marinir di Kapal Induk USS Gerald Ford Harus Ngantri Buat BAB
- 7 Bedak Compact Powder Anti Luntur Bikin Glowing Seharian, Cocok Buat Kegiatan Outdoor
- Kecewa Warga Kaltim hingga Demo 21 April, Akademisi Ingatkan soal Kejadian Pati
- 7 Rekomendasi Lipstik Terbaik untuk Kondangan, Tetap On Point Dibawa Makan dan Minum
- Cari Mobil Bekas untuk Wanita? Ini 3 City Car Irit dan Nyaman untuk Harian
Pilihan
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
Terkini
-
Konflik Parkir di Blok M Memanas: Pemilik Lahan Diancam Dibakar hingga Dibunuh
-
Dasco Lepas Keberangkatan Kloter I Jemaah Haji ke Mekkah Hari Ini
-
Geger Jejak Misterius di Mars, NASA Temukan Struktur Aneh seperti Sisik Hewan
-
Efek Jera ala Tanah Abang: Pencuri iPhone Diarak Sambil Dikalungi Tulisan 'Saya Copet'
-
Tak Hanya dengan Rudal, Begini Cara Bejat Tentara Zionis Usir Warga Palestina dari Tepi Barat
-
Siap-siap Nabung! Presiden Prabowo Berencana Perbanyak Konser K-Pop di Indonesia
-
Harga BBM dan Sembako Naik, Puan Minta Pemerintah Lakukan Mitigasi Cepat
-
Kejagung Bongkar Perusahaan Bayangan Zarof Ricar, Dibuat Khusus untuk Pencucian Uang
-
Nasi Hambar dan Salah Jam Makan, Peneliti Celios Temukan Banyak Siswa Buang Jatah MBG
-
Terusir dari Rumah Sendiri, Kisah Suku Yanomami yang Tinggal di Paris Hutan Amazon