/
Jum'at, 07 Oktober 2022 | 19:29 WIB
argentina polisi

Insiden berdarah yang menewaskan suporter kembali terjadi. Setelah tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022, kembali pecah insiden berdarah di Liga Argentina tepatnya usai pertandingan antara Gimnasia vs Boca Juniors, Jumat (7/10). 

Dalam insiden berdarah ini satu orang suporterr bernama Cesar Regueiro atau Lolo dinyatakan meninggal dunia. Dugaan sementara Lolo meninggal akibat serangan jantung saat terjadi kepanikan akibat tembakan gas air mata yang ditembakan oleh aparat kepolisian. 

Seorang juru kamera dari media Argentina, TyC Sports, Fernando Rivero menceritakan bahwa aparat kepolisian tidak hanya menembakan gas air mata ke arah suporter tapi juga peluru karet

"Polisi menembak tanpa henti," kata Rivero seperti dikutip dari TyC Sports. 

"Saya masih terguncang dengan apa yang terjadi karena saya melakukan pekerjaan seperti biasanya ketika kemudian pecah kerusuhan," jelasnya. 

Dijelaskan oleh Rivero, kondisi tak terkendali usai pertandingan berakhir tanpa gol. Para suporter yang keluar dari stadion kemudian meluapkan emosi mereka. 

"Saya mengambil kamera dan mulai merekam saat para suporter marah dan polisi yang menggunakan kuda mulai menghalau mereka. Mereka mulai melempar batu ke arah polisi. Saya berlari mencari perlindungan tapi saya masih terus merekam,"

Saat dirinya bersembunyi di balik pohon untuk mencari perlindungan, seseorang yang ia duga aparat kepolisian memintanya untuk berhenti merekam. 

"Orang ini melompati pagar dan datang langsung untuk menembak saya agar saya tidak melanjutkan merekam kejadian. Saya bisa melihat orang itu serius mengancam saya," ungkapnya. 

Baca Juga: Tragedi Kanjuruhan Terulang, Tembakan Gas Air Mata Tewaskan Suporter di Argentina

Rivero terkena tembakan di area selangkangan. Ia merasakan sakit yang luar biasa, ia tumbang. Saat jatuh, seorang suporter kemudian meminta polisi menghentikan aksi brutal mereka. "

"Saya menerima tembakan di area selangkangan dan saya kesakitan. Saya terjatuh ke lantau. Beberapa orang datang dan berkata kepada mereka, 'Apa yang kamu lakukan? Apakah kamu tidak melihat bahwa kamu menembak seorang juru kamera' tapi polisi tidak bergeming dan terus menembak," kata Rivero. 

"Ketika saya merasakan sakit dan terbakar. Saya melihat celana saya dan melihat lubang. Ada bekas peluru," tambahnya.

Rivero juga menyebut bahwa tembakan gas air mata berulang-ulang dari polisi membuat kondisi area sekitar Stadion Juan Carmelo Zerillo sangat berkabut dan penuh sesak. 

"Seluruh kawasan itu penuh dengan gas. Itu membuat Anda tidak bisa bernafas. Kami masuk ke truk. Tenggorokan dan mata sangat perih dan itu bisa membunuh Anda," 

Rivero mendapat tiga kali tembakan peluru karet saat insiden berdarah di La Plata tersebut.  

Load More