News / Internasional
Sabtu, 18 April 2026 | 19:30 WIB
Indonesia tidak masuk dalam daftar negara sahabat yang diizinkan Iran melintas bebas di Selat Hormuz. (Suara.com/Aldie)
Baca 10 detik
  • Iran kembali menutup Selat Hormuz pada Sabtu (18/4/2026) sebagai respons atas blokade pelabuhan oleh Amerika Serikat.
  • Militer Iran memperketat pengawasan selat dan menembaki kapal dagang yang mencoba melintas di perairan tersebut.
  • Situasi ini memicu ketidakpastian bagi industri pelayaran global, menyebabkan sejumlah kapal tanker membatalkan perjalanan mereka.

Suara.com - Iran kembali menutup Selat Hormuz pada Sabtu (18/4/2026) sebagai respons atas blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhannya.

Keputusan ini diambil hanya beberapa jam setelah jalur vital tersebut sempat dibuka kembali.

Dilansir dari Aljazeera, militer Iran menegaskan bahwa kendali atas Selat Hormuz kini kembali ke kondisi sebelumnya dengan pengawasan ketat oleh angkatan bersenjata.

Di tengah penutupan tersebut, muncul laporan bahwa kapal cepat Iran menembaki sebuah kapal dagang yang mencoba melintas.

Insiden ini semakin memperkeruh situasi keamanan di salah satu chokepoint terpenting global.

Garda Revolusi Iran (IRGC) menyebut blokade AS sebagai tindakan perompakan dan pencurian maritim.

Selat Hormuz (Gemini AI)

IRGC menegaskan bahwa kontrol penuh atas selat akan tetap diberlakukan hingga Washington mencabut pembatasan terhadap kapal-kapal Iran.

“Selama AS tidak memulihkan kebebasan navigasi penuh bagi kapal dari dan menuju Iran, status Selat Hormuz akan tetap dikontrol ketat,” demikian pernyataan resmi militer Iran.

Data terbaru menunjukkan setidaknya delapan kapal tanker minyak dan gas berhasil melintas hingga Sabtu pagi.

Baca Juga: Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman

Namun, jumlah yang hampir sama dilaporkan berbalik arah akibat ketidakpastian situasi.

Kondisi ini memicu kebingungan di kalangan pelaku industri pelayaran global.

Banyak kapal memilih menunda perjalanan karena adanya informasi yang saling bertentangan dari pihak-pihak terkait.

Pakar maritim dari Texas A&M University, John-Paul Rodrigue, mengatakan situasi saat ini sangat tidak jelas.

“Banyak kapal mencoba melintas, tetapi kemudian berbalik karena situasi yang tidak pasti,” ujarnya.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan optimisme bahwa kesepakatan damai dengan Iran sangat dekat.

Load More