Suara.com - Mantan pelatih Persema Malang, Timo Scheunemann, memberikan saran yang masuk akal untuk PSSI agar Liga Putri Indonesia bisa digelar secara profesional dan banyak peminat.
Saran pertama, Liga Putri Indonesia tidak perlu diikuti 18 klub seperti BRI Liga 1. Delapan tim pun cukup agar kompetisi bisa berjalan dengan baik dan profesional.
Saran yang kedua, Timo Scheunemann melihat pentingnya ada kerja sama dengan universitas. Sebab, orangtua akan mendukung apabila putrinya bisa bermain sepak bola sekaligus mengeyam pendidikan tinggi.
“Saya justru melihat kalau idealnya liga pro itu tidak usah banyak tim, misalnya delapan kota saja, dan dihubungkan dengan universitas. Jadi mereka main pro sekaligus main di tim universitas. Jadi ada liga universitasnya, tapi juga ada liga pro-nya dengan pemain yang kira-kira hampir sama gitu,” ucap Scheunemann kepada Antara di Kong Soccer Arena, Jakarta, Minggu.
“Orang tua lebih mungkin mendukung anaknya jika ada jaminan pendidikan. Jadi mereka bisa melihat sepak bola sebagai jalur ke universitas,” lanjutnya.
Dengan jumlah tim peserta yang tidak banyak, maka jalannya roda kompetisi tidak terlalu panjang.
Hal itu menurut Scheunemann lebih realistis diterapkan di Indonesia, karena pada umumnya seorang atlet putri pada usia tertentu sudah menikah dan dihadapkan pada kewajiban-kewajiban lain.
“Kalau perempuan tidak realistis seperti itu (liga rutin bergulir setiap pekan), karena kita juga harus lihat semuanya itu ada faktor ekonomi kan. Dan kalau putri biasanya juga, apalagi di Asia, umur 25 udah menikah dan sebagainya,” kata sosok yang sudah lama berkecimpung di pembinaan sepak bola putri itu.
Saat ini PSSI merencanakan menggulirkan kompetisi sepak bola putri secara reguler di usia dini, yakni Piala Pertiwi untuk usia 14 dan 16 tahun. Kompetisi itu dirancang untuk menjadi Liga 1 Putri yang rencananya digelar pada 2027.
Baca Juga: Prestasi Indonesia di Singapura Ikut Dongkrak Animo Sepak Bola Putri di Jakarta
Terakhir kali Indonesia memiliki liga sepak bola putri adalah pada 2019 dengan mengusung nama Liga 1 Putri. Saat itu Persib Putri menjadi juara setelah mengalahkan Tira Persikabo Kartini dalam dua leg final.
Meski masih minim kompetisi, tapi belum lama ini timnas putri Indonesia berhasil mengukir prestasi dengan menjuarai Piala AFF putri pada Desember 2024.
Kapan Liga Putri Digelar?
PSSI merencanakan kompetisi sepak bola putri, Liga 1 Putri Indonesia, akan digelar pada 2027. Dengan ini, maka rencana awal pelaksanaan Liga 1 Putri yang ditargetkan tahun 2026 ditunda.
Erick Thohir selaku Ketum PSSI sebelumnya menjelaskan bahwa 2026 adalah tahun ideal dimulainya Liga 1 Putri karena ia menilai di tahun itu talent pool pesepak bola putri akan terkumpul.mis (20/2).
“Memimpin rapat dengan jajaran PSSI untuk perencanaan Liga 1 Putri yang akan bergulir pada 2027,” kata Erick, dikutip dari akun resmi Instagram miliknya, Jumat.
Berita Terkait
-
Prestasi Indonesia di Singapura Ikut Dongkrak Animo Sepak Bola Putri di Jakarta
-
Coach Timo Soal Naturalisasi di Timnas Putri: Kalau Tak Istimewa, Lokal Saja
-
Tim Putri Indonesia Kokoh di Puncak Klasemen JSSL Singapore 7's 2025, Laga Penentu Menanti
-
Dari Kudus ke Panggung Asia, 2 Tim Putri Indonesia Siap Berlaga di Singapura
-
Pelatih Jerman Gembleng 24 Pesepak Bola Putri Indonesia Jelang JSSL Singapore 7s 2025
Terpopuler
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
- Kunjungi Korban Gempa di NTT Hari Ini, Gus Miftah Gelontorkan Bantuan Rp500 Juta
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
The Magician's Nephew: Menelusuri Penciptaan dan Asal Mula Dunia Narnia
-
Tawuran di Bukit Duri Dipicu Anak SD Tertabrak, Sempat Bikin Perjalanan KRL Terganggu
-
Purbaya Batasi BBM Subsidi ke Desil 10, Klaim Bikin Hemat Anggaran 10 Persen
-
Jadi Saksi Praperadilan Febrie, Eks Dirdik Jampidsus: Dia Orang Jujur dan Manut Pimpinan
-
Karhutla Picu Kabut Asap, Kualitas Udara Sumsel Masuk Tahap Peringatan
-
Harta Dua Wakil Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK, Punya Aerox hingga Pajero Sport
-
Kalimantan dan Bali Bakal Dikeliling Transportasi Kereta Api
-
Pengguna QRIS Capai 65,77 Juta, Diterima di 44,68 Merchant
-
Wamenko Polkam: Pemulihan Korban Terorisme Jadi Tanggung Jawab Mutlak Negara
-
Pasokan Melimpah, Panas Bumi yang Terbuang Bakal Diolah Jadi Listrik 45 MW