Suara.com - Timnas Indonesia tengah diterpa masalah yang cukup serius usai menyelesaikan putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Kelemahan-kelemahan yang tampak saat melawan tim-tim besar, termasuk Jepang, menjadi pekerjaan rumah penting yang harus diberesakan sebelum melangkah lebih jauh.
Ini bukan hanya soal kualitas lawan yang lebih unggul, tetapi juga masalah internal skuad Garuda yang harus diberesakan jika ingin tampil lebih maksimal di putaran keempat.
Dalam beberapa pertandingan terakhir, tampak jelas bahwa performa Marselino Ferdinan dan kawan-kawan masih inkonsisten, sehingga rentan saat melawan tim-tim yang lebih matang dan unggul taktik.
Selain masalah konsistensi, tantangan yang dihadapi juga bukan kaleng-kaleng. Di putaran keempat nanti, Indonesia harus bersaing melawan tim-tim dari kawasan Timur Tengah, yaitu Arab Saudi, Qatar, dan Irak.
Tak hanya soal kekuatan masing-masing tim, proses pertandingan juga lebih sulit karena tuan rumah babak kualifikasi tersebut nanti juga diselenggarakan di Arab Saudi dan Qatar, sesuai pilihan FIFA.
Ini menjadi pekerjaan besar bagi skuad Garuda. Jika permasalahan yang tengah terjadi tidak diberesakan, peluang untuk melangkah lebih jauh dan lolos ke Piala Dunia 2026 juga akan terancam. Lantas apa saja masalah yang tengah melanda Timnas Indonesia saat ini?
1. Organisasi Permainan yang Masih Amburadul
Organisasi permainan Indonesia tampak amburadul saat melawan tim-tim Tier 1 FIFA, seperti saat takluk di tangan Jepang. Kelemahan tersebut terjadi bukan hanya di satu lini, tetapi juga melibatkan koordinasi di tengah dan pertahanan.
Ketika melawan Jepang, para bek tampak kesulitan menjaga pergerakan penyerang lawan. Hal tersebut terjadi karena koordinasi pertahanan yang lemah, sehingga masing-masing lebih memilih menjaga area sendiri, bukan menjaga satu tim. Keahlian individu memang tampak, tetapi kerja sama yang lebih luas tampak kurang, sehingga gawang Indonesia lebih mudah dibobol.
Baca Juga: Penyerang Naturalisasi Timnas Indonesia Akhirnya ke Liga 1! Siap Bantu Tim Bersaing
Selain pertahanan, koordinasi lini tengah juga menjadi masalah yang harus diberesakan. Aliran bola dari tengah ke depan sering terputus, sehingga serangan lebih sulit dibangun. Mengoptimalkan kerja sama antarpemain dan menjaga posisi masing-masing harus menjadi prioritas jika ingin lebih unggul di putaran keempat.
2. Taktik Formasi yang Perlu Mengikuti Perkembangan Zaman
Selain masalah koordinasi, taktik formasi juga dianggap masih terlalu kaku dan mudah dibaca oleh lawan. Mengandalkan formasi tiga bek yang diterapkan saat melawan Jepang tampak tidak cukup mampu menjaga pertahanan sekaligus memberikan tekanan.
Patrick Kluivert punya peluang untuk melakukan variasi taktik yang lebih kreatif. Mengoptimalkan formasi lima bek — diberi dukungan oleh dua bek sayap — dapat memberikan pertahanan lebih kokoh sekaligus membuka ruang serangan dari flank.
Selain itu, penambahan satu gelandang bertahan dan dua gelandang tengah juga penting demi menjaga kestabilan permainan di tengah lapangan. Dengan satu penyerang tengah dan satu penyerang bayangan, Indonesia dapat lebih unggul saat melancarkan serangan balik, sambil menjaga pertahanan yang lebih rapi.
3. Susunan Pemain yang Masih Belum Kompak
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
AI hingga Microchip, RI-China Buka Jalan Baru Kerja Sama Teknologi
-
Kalimantan Belum Selesai, Karhutla Kini Kepung Papua Tengah: Api Makin Meluas
-
Tampang Maulana Paputungan Ayah Keji Pembunuh Disertai Mutilasi Anak Kandung di Merauke
-
Beli Voucher Game di BRImo Dapat Cashback Saldo 50 Persen
-
Investasi RI Tembus Rp1.010 Triliun, HIPMI Dorong Pengusaha Lokal Ikut Menikmati Dampaknya
-
Karhutla Kalimantan Mengganas, Presiden Prabowo Optimistis Bisa Segera Dijinakkan
-
22,69 Juta Pengguna Kripto RI, Tantangan Berikutnya Bikin Mereka Tak Lari ke Platform Asing
-
Bukan Sekadar Hitung Langkah, Galaxy Watch Ultra2 dan Watch9 Bantu Atur Beban Latihan
-
Korban FOMO Merapat! Eksotisnya Wajah Sungai Bogowonto Purworejo Saat Surut
-
Prabowo Tak Main-Main! Bidik 4 Korporasi di Balik Karhutla Kalimantan, Izin Bakal Dicabut