- KPK menyita uang milik 122 jemaah haji dari Ustaz Khalid Basalamah sebagai barang bukti kunci adanya dugaan suap dari oknum Kemenag
- Nasib pengembalian uang jemaah sepenuhnya bergantung pada putusan majelis hakim di pengadilan
- Kasus ini adalah bagian dari skandal korupsi haji yang lebih besar di Kemenag dengan estimasi kerugian negara mencapai Rp1 triliun
Suara.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya buka suara terkait penyitaan sejumlah besar uang dari biro perjalanan haji milik pendakwah kondang, Ustaz Khalid Basalamah. Uang yang merupakan milik ratusan jemaah haji PT Zahra Oto Mandiri atau Uhud Tour itu kini menjadi barang bukti kunci dalam pusaran mega korupsi penyelenggaraan ibadah haji di Kementerian Agama (Kemenag).
Publik, khususnya para jemaah, dibuat bertanya-tanya mengapa uang tersebut tidak kunjung dikembalikan. Pelaksana Tugas Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK, Asep Guntur Rahayu, memberikan penjelasan lugas yang menempatkan sang ustaz di tengah simpul perkara.
“Pertama, uang tersebut masih ada di ustaz Khalid Basalamah,” ujar Asep Guntur Rahayu di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, pada Kamis (18/9) malam.
Menurut Asep, karena dana tersebut masih berada di tangan Khalid Basalamah dan belum dikembalikan kepada jemaahnya, KPK memandang penyitaan sebagai langkah strategis. Uang itu, kata Asep, adalah bukti vital yang menunjukkan adanya permainan kotor dalam penentuan kuota haji.
“Bukti bahwa memang ada oknum dari Kementerian Agama yang meminta uang kepada setiap jemaah untuk biaya percepatan kuota haji khusus,” jelasnya sebagaimana dilansir Antara.
Lantas, bagaimana nasib uang para jemaah? Asep menegaskan bahwa keputusan akhir tidak berada di tangan KPK, melainkan di palu majelis hakim.
“Saat sudah dibawa ke persidangan, kami tunggu nih putusan dari hakim. Vonis hakim mengenai putusannya terhadap uang tersebut apakah dirampas untuk negara atau dikembalikan,” katanya. Jika hakim memutuskan untuk mengembalikan, maka uang tersebut akan diserahkan kembali kepada para jemaah Uhud Tour.
Sebelumnya, Ustaz Khalid Basalamah, yang juga menjabat sebagai ketua asosiasi Mutiara Haji, telah angkat bicara melalui kanal YouTube Kasisolusi pada 13 September 2025. Ia mengungkapkan telah menyerahkan uang tersebut ke KPK.
Ia merinci bahwa uang itu merupakan biaya dari 122 jemaah Uhud Tour yang disetorkan kepada Komisaris PT Muhibbah Mulia Wisata, Ibnu Mas’ud. Setiap jemaah diwajibkan membayar 4.500 dolar AS. Tak hanya itu, Khalid menyebut ada pemerasan lebih lanjut.
Baca Juga: Efek Domino Korupsi Haji, KPK Ancam 'Sikat' Biro Travel di Luar Jawa
Sebanyak 37 dari 122 jemaah dipaksa membayar uang tambahan sebesar 1.000 dolar AS.
“Apabila tidak membayar, visa jemaah Khalid tersebut tidak akan diproses oleh Ibnu Mas’ud,” ungkapnya dalam tayangan tersebut.
Kasus yang menyeret nama Khalid Basalamah ini merupakan bagian dari penyidikan besar-besaran KPK terhadap dugaan korupsi penyelenggaraan haji Kemenag tahun 2023–2024 yang dimulai sejak 9 Agustus 2025. Penyelidikan ini bahkan telah menyeret mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, yang sudah dimintai keterangan dan dicegah bepergian ke luar negeri.
KPK memperkirakan kerugian negara dalam skandal ini mencapai angka fantastis, yakni lebih dari Rp1 triliun. Temuan ini sejalan dengan hasil kerja Pansus Angket Haji DPR RI yang menyoroti kejanggalan pembagian 20.000 kuota tambahan dari Arab Saudi.
Kemenag membaginya rata 50:50 untuk haji reguler dan khusus, padahal undang-undang mengamanatkan porsi 92 persen untuk haji reguler dan hanya 8 persen untuk haji khusus.
Berita Terkait
-
Efek Domino Korupsi Haji, KPK Ancam 'Sikat' Biro Travel di Luar Jawa
-
Jemaah Antre Puluhan Tahun, Kuota Haji Ternyata Bisa Dibeli Tanpa Izin?
-
Manuver Eks Dirut Allo Bank Indra Utoyo Kandas, Bukti KPK Kantongi Bukti Koruptor Proyek Rp2,1 T?
-
KPK Periksa 5 Sosok Terkait Korupsi Haji, Mayoritas Direktur Biro Haji dan Umrah
-
Belum Tetapkan Tersangka Korupsi Kuota Haji, KPK Bantah Ada Intervensi dari Penegak Hukum Lain
Terpopuler
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- Pasca Penonaktifan, 3.000 Warga Kota Yogyakarta Geruduk MPP untuk Reaktivasi PBI JK
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 7 HP Murah Terbaru 2026 Buat Gaming: Skor AnTuTu Tinggi, Mulai Rp1 Jutaan!
- 5 Sepeda Lipat Kalcer Termurah, Model Stylish Harga Terjangkau
Pilihan
-
Polisi Jamin Mahasiswi Penabrak Jambret di Jogja Bebas Pidana, Laporan Pelaku Tak Akan Diterima
-
Komisi III DPR Tolak Hukuman Mati Ayah di Pariaman yang Bunuh Pelaku Kekerasan Seksual Anaknya
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
-
Selamat Jalan 'Babeh' Romi Jahat: Ikon Rock N Roll Kotor Indonesia Tutup Usia
-
Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja Dijaga Ketat
Terkini
-
Tarif Mulai Rp2.000, Transjabodetabek Cawang-Cikarang Resmi Beroperasi Hari Ini
-
Pramono Anung dan Deklarasi 'Kerja Otak': Saat Gorong-gorong Tak Lagi Jadi Panggung Pemimpin Jakarta
-
Kemenag Usulkan 630 Ribu Guru Madrasah Swasta Jadi P3K, Skema Afirmasi Disiapkan
-
Membaca Radar Hashim: Siapa Pejabat di Kabinet yang Terancam Dicopot?
-
Kejagung Sinyalir 26 Perusahaan Terlibat Korupsi Ekspor CPO, Kerugian Capai Rp14 Triliun
-
Korban Bencana Sumatra Dapat Kompensasi hingga Rp 60 Juta Lebih, Ini Rinciannya
-
Kemensos Mulai Salurkan Santunan Korban Banjir Sumatra ke Ahli Waris, Segini Nominalnya
-
Kronologi Penembakan Pesawat Smart Air di Papua: Pilot dan Kopilot Gugur Usai Mendarat
-
Tercemar Pestisida, Kapolres Tangerang Kota Larang Warga Konsumsi Ikan Mati di Sungai Cisadane
-
2 Pilot Pesawat Smart Air Tewas Usai Diserang OTK di Papua, Polisi Buru Pelaku