- Fenerbahce memecat Jose Mourinho karena gaya permainannya yang defensif dianggap tidak sesuai dengan DNA sepak bola menyerang milik klub.
- Kekalahan dari Benfica di kualifikasi Liga Champions menjadi pemicu, namun cara bermain tim yang pasif adalah kekhawatiran utama manajemen.
- Fenerbahce kini mencari pelatih asing baru yang dianggap lebih berpengalaman di level Eropa untuk menangani skuad multinasional mereka.
Suara.com - Sebuah ironi yang menyakitkan tersaji di Istanbul. Fenerbahce yang musim lalu mengemas 99 gol dan 99 poin di liga, justru memecat pelatih legendaris sekelas Jose Mourinho dengan satu alasan utama: gaya sepak bolanya dianggap tidak cukup baik.
Keputusan pemecatan ini memang terasa kejam. Namun bagi Presiden Fenerbahce, Ali Koc, ini adalah langkah yang tak terhindarkan.
Warisan pragmatisme dan taktik bertahan ala The Special One dinilai telah membunuh DNA asli klub yang sejatinya adalah sepak bola menyerang dan dominan.
Pukulan pamungkas datang saat Fenerbahce tersingkir secara menyakitkan dari babak playoff kualifikasi Liga Champions.
Kekalahan agregat 0-1 dari Benfica pada 29 Agustus lalu menjadi pemicu utamanya.
.Ozan KOSE / AFP
Namun, bagi sang presiden, biang keladinya bukanlah skor akhir, melainkan cara timnya bermain.
Kekalahan itu seolah menjadi cerminan dari performa musim lalu yang membuat manajemen khawatir.
Ali Koc melihat timnya terlalu terkekang, tak mampu mengeluarkan potensi ofensif yang sesungguhnya.
Meskipun menyebut keputusan ini "menyakitkan", Ali Koc tak ragu untuk mengambil langkah tegas demi masa depan klub.
Baca Juga: Pemain Keturunan Ini Sukses Taklukkan Tim Belanda dan Selangkah Lagi Lolos Liga Champions
“Berpisah dengan seseorang yang menjadi teman di atas segalanya itu sulit,” kata Koc, dikutip dari ESPN, menunjukkan betapa beratnya keputusan personal tersebut.
Selama lebih dari setahun menukangi Fenerbahce, Mourinho memang gagal mempersembahkan satu pun trofi.
Mereka finis sebagai runner-up liga, tertinggal 11 poin dari sang juara Galatasaray, dan tersingkir di perempat final Piala Turki serta Liga Europa.
Meski begitu, Koc tetap menganggap perekrutan Mourinho sebagai sebuah kesuksesan dari sisi citra.
Kehadirannya sukses membawa perhatian dunia ke Fenerbahce. Namun, perhatian saja tidak cukup. Di atas lapangan, filosofi mereka berseberangan.
Kini, era Mourinho telah resmi berakhir. Fenerbahce segera bergerak mencari pengganti.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Jayapura Masih Memanas, Suporter Persipura Rusuh dan Rusak Sejumlah Fasilitas
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Dikalahkan Adhyaksa FC, Persipura Jayapura Gagal Promosi ke Super League Musim Depan
-
Duel Klasik Persija vs Persib Pindah ke Samarinda, Paulo Ricardo Tegaskan Mentalitas Pemenang
-
Mauricio Souza: Apakah Persib Diuntungkan dengan Hal Ini?
-
Persija Kehilangan Hak Kandang di Jakarta, Mauricio Souza Semprot Situasi Jelang Lawan Persib
-
Timnas Indonesia Hadapi Mozambik Selain Oman di FIFA Matchday Juni 2026
-
Jadwal Liga Italia Pekan Ini: Inter Milan dan Sassuolo Main Sabtu, Cremonese Minggu
-
Mehdi Mahdavikia, Si Roket Iran yang Taklukan Bundesliga dan Bungkam AS di Piala Dunia
-
Kisah Kelam Legenda Brasil Ademir di Piala Dunia: Dari Orang Suci jadi Simbol Patah Hati