- Van Bommel ditolak FC Twente karena ingin membawa empat asisten, permintaan yang dianggap berlebihan.
- Kandidat pengganti Joseph Oosting kini mengerucut pada empat nama yang lebih realistis.
- Twente butuh pelatih yang efisien dan segera mampu mengangkat performa tim setelah start buruk.
Suara.com - Klub Eredivisie yang dibela Mees Hilgers, FC Twente terpaksa menolak tawaran Mark van Bommel untuk menjadi pelatih baru gantikan Joseph Oosting.
Pasalnya, Van Bommel meminta membawa empat asisten untuk mendukungnya, sebuah permintaan yang dianggap terlalu berlebihan oleh banyak pihak, termasuk pakar sepak bola Belanda, Valentijn Driessen.
Dalam pernyataannya kepada Kick-Off, Driessen mengkritik keras sikap Van Bommel. “Asisten tidak membuatmu juara.
Jadi permintaan Van Bommel membawa empat asisten itu benar-benar konyol,” tegas Driessen, Senin (8/9/2025).
Menurutnya, satu atau dua asisten mungkin masuk akal, tapi membawa seluruh rombongan staf untuk mengendalikan klub jelas berlebihan.
Driessen bahkan menekankan bahwa Van Bommel “tidak sebanding” dengan permintaan tersebut.
“Ini bukan FC Barcelona. Mereka tidak memiliki skuad 40 pemain. Jadi apa urusannya dengan membawa empat asisten? Benar-benar tidak masuk akal,” katanya.
Pernyataan Driessen ini menyoroti fakta bahwa Van Bommel selama ini belum menunjukkan konsistensi besar di karier kepelatihannya, sehingga permintaan ini dianggap tidak proporsional.
Selain itu, Driessen menyoroti timing negosiasi yang dianggap terlalu mepet.
Baca Juga: Mees Hilgers dan FC Twente Sama-sama Lagi Sial
Menurutnya, direktur teknis FC Twente, Jan Streuer, ingin segera memperkenalkan pengganti Joseph Oosting yang baru dipecat.
“Van Bommel baru dihubungi Jumat lalu. Terlalu terlambat untuk negosiasi serius,” ujarnya.
Penolakan terhadap Van Bommel membuka peluang bagi kandidat lain untuk menjadi pelatih Twente.
Jurnalis De Telegraaf menyebut empat nama yang kini dikaitkan, Rogier Meijer, asisten pelatih Bayer Leverkusen; René Hake, asisten Robin van Persie di Feyenoord; Dick Lukkien, pelatih utama FC Groningen; dan John van den Brom, yang saat ini tanpa klub.
Keempat kandidat ini dianggap lebih realistis dan sesuai dengan kondisi finansial dan struktur klub.
Keputusan Twente menolak Van Bommel menegaskan bahwa manajemen lebih mengutamakan keseimbangan finansial dan efisiensi staf daripada nama besar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan