-
Pelatih John Herdman memantau pemain keturunan di Eropa untuk target Piala Dunia 2030.
-
Pemain dari klub Almeria dan Fenerbahce menjadi incaran utama untuk memperkuat lini belakang.
-
Herdman menegaskan pemain liga domestik saja tidak cukup untuk bersaing di level dunia.
Suara.com - Era kepemimpinan John Herdman di kursi pelatih Timnas Indonesia kini membawa angin segar bagi publik sepak bola tanah air.
Pelatih berkebangsaan Inggris tersebut sedang menjalankan misi khusus memantau talenta keturunan di benua Eropa yang memenuhi syarat naturalisasi.
Langkah strategis ini diambil sebagai persiapan matang menghadapi agenda FIFA Series 2026 yang sudah di depan mata.
Target besar yang diusung pun tidak main-main yakni membawa skuad Garuda menembus putaran final Piala Dunia 2030.
Dalam lawatannya ke Eropa, Herdman mengantongi daftar nama potensial hasil kurasi dari Direktur Teknis PSSI, Alexander Zwiers.
Fokus utama dari kunjungan ini adalah menyuntikkan kualitas dunia ke dalam tubuh tim nasional yang sedang bertransformasi.
Mantan pelatih Timnas Kanada ini dilaporkan sedang menelaah enam pemain diaspora yang berkarier di kompetisi kasta tertinggi Eropa.
Profil pemain yang menjadi incaran bukan sembarangan karena ada yang memiliki jam terbang di Premier League serta Bundesliga.
Dua nama yang menjadi pusat perhatian dalam radar pemantauan ini adalah Daijiro Chirino dan juga Jayden Oosterwolde.
Baca Juga: John Herdman Harus Lirik Pemain Keturunan Rp 1,3 Miliar Penentu Kemenangan MVV Maastricht
Daijiro Chirino saat ini tercatat sebagai bek potensial yang sedang merumput bersama klub Almeria di kompetisi Spanyol.
Pemain bertahan tersebut memiliki akar keturunan Indonesia yang berasal dari kakek serta neneknya yang lahir di Maluku.
Di sisi lain, Jayden Oosterwolde merupakan sosok pemain bertahan multifungsi yang kini membela klub raksasa Turki, Fenerbahce.
Kehadiran para pemain ini diharapkan mampu memberikan dampak instan pada kokohnya tembok pertahanan pasukan Merah Putih.
Herdman diprediksi akan menyisipkan talenta-talenta ini ke dalam skema andalannya yaitu format permainan 3-4-3 yang sangat dinamis.
Langkah memaksimalkan pemain diaspora ini dianggap sebagai keputusan logis di tengah perkembangan pesat industri sepak bola modern.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Jepang Ukir Rekor Spesial di Piala Dunia 2026 Usai Lolos ke Babak 32 Besar
-
Klasemen Akhir Grup E Piala Dunia 2026: Jerman Juara Grup, Pantai Gading Cetak Sejarah
-
Lolos 32 Besar Piala Dunia 2026, Jepang Hadapi Brasil, Belanda Tantang Maroko
-
AFC Ajax Boyong Marc-Andre ter Stegen, Maarten Paes Dibuang?
-
Duka Mendalam Klub Juara Liga Champions untuk Korban Gempa Venezuela
-
Strategi Keliru Hong Myung-Bo, Korea Selatan Terancam Angkat Koper Lebih Cepat dari Piala Dunia 2026
-
Mourinho Minta Real Madrid Bajak Fernandez, Los Blancos Tak Sanggup Bayar
-
Bukan Sekadar Taktik Pochettino! AI Kunci Sukses Timnas AS di Piala Dunia 2026
-
Kegocek Wagub Jabar! Dirumorkan ke Persib, Jese Perpanjang Kontrak di Las Palmas
-
Socceroos Hadapi Paraguay Tanpa Bek Kanan Murni, Jacob Italiano Cedera