Bola / Bola Indonesia
Kamis, 05 Maret 2026 | 13:34 WIB
Riono Asnan (PSSI)
Baca 10 detik
  • Legenda sepak bola Indonesia Riono Asnan meninggal dunia pada usia 68 tahun di Sidoarjo.

  • Almarhum merupakan bek andalan Timnas Indonesia periode 1979-1983 dan mantan pelatih kepala Persebaya.

  • Riono dikenal sebagai pelatih bertangan dingin yang pernah menukangi Persiku Kudus hingga Persiba Balikpapan.

Suara.com - Panggung sepak bola tanah air kembali dirundung duka yang mendalam pada pekan pertama Maret 2026. Mantan penggawa lini belakang Timnas Indonesia, Riono Asnan, dikabarkan telah mengembuskan napas terakhirnya, meninggal dunia.

Berita mengenai wafatnya sang legenda pertama kali tersiar luas pada hari Rabu, 4 Maret 2026 kemarin.

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia kemudian memberikan konfirmasi resmi terkait kabar duka ini lewat media sosial.

Melalui unggahan Instagram Story pada Kamis pagi, federasi menyampaikan rasa kehilangan atas kepergian sosok yang sangat dihormati.

Almarhum dikenal publik sebagai salah satu pilar pertahanan paling kokoh yang pernah dimiliki oleh negara.

Dalam kurun waktu tahun 1979 hingga 1983, beliau menjadi bagian inti dari skuad Garuda di level internasional.

Kemampuannya dalam membaca arah serangan lawan membuatnya sering ditempatkan sebagai bek tengah maupun gelandang bertahan yang solid.

Riono merupakan salah satu representasi ketangguhan pemain bertahan pada masa kejayaan kompetisi kasta tertinggi yakni era Perserikatan.

Lahir di Kota Surabaya pada pertengahan Januari 1958, ia membawa semangat juang khas masyarakat Jawa Timur.

Baca Juga: Kevin Diks Jadi Pemain Terbaik Borussia Monchengladbach Bulan Februari

Dinasti Sepak Bola Keluarga Asnan di Persebaya

Nama besar Riono tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kuat keluarga Asnan dalam kancah olahraga di Surabaya.

Ia tumbuh besar dalam lingkungan keluarga yang memang memiliki dedikasi penuh terhadap perkembangan klub Persebaya Surabaya.

Saudara-saudaranya seperti Sutrisno, Hartono, serta Margono juga dikenal luas sebagai deretan pemain sepak bola yang profesional.

Karier awalnya di lapangan hijau bermula saat ia memperkuat tim berjuluk Bajul Ijo yang melegenda tersebut.

Kala itu Persebaya adalah kekuatan utama yang mendominasi peta persaingan sebelum memasuki era liga profesional sepenuhnya.

Setelah memutuskan untuk gantung sepatu dari dunia pemain, dedikasi Riono terhadap kulit bundar tidak lantas berhenti.

Beliau memilih jalur kepelatihan untuk menyalurkan ilmunya kepada generasi pemain muda yang sedang berkembang saat itu.

Pada kompetisi Liga Indonesia edisi tahun 1999, ia mendapatkan amanah besar untuk menjabat sebagai pelatih kepala Persebaya.

Penunjukan tersebut membuktikan bahwa kapasitasnya sebagai ahli taktik diakui oleh manajemen klub asal kelahirannya tersebut.

Langkah ini menjadi jembatan bagi dirinya untuk berkarier lebih luas di berbagai klub besar di tanah air.

Rekam Jejak Melatih di Berbagai Klub Daerah

Nama Riono Asnan tercatat pernah menukangi Persiku Kudus dalam dua kesempatan waktu yang berbeda bagi tim tersebut.

Kehadirannya di bangku kepelatihan Persiku terjadi pada periode tahun 2011 hingga 2012 serta kembali lagi tahun 2015.

Di sana ia berhasil membangun kerangka tim yang sangat kompetitif dan sulit dikalahkan oleh lawan-lawannya di liga.

Selain itu, tim Deltras Sidoarjo juga pernah merasakan sentuhan dingin dari strategi yang ia terapkan di lapangan.

Riono sangat identik dengan gaya permainan yang menekankan pada kedisiplinan tinggi serta skema serangan balik yang mematikan.

Pengalaman kepelatihannya semakin lengkap saat ia dipercaya untuk memimpin skuad Persiba Balikpapan pada musim tahun 2006.

Kualitasnya dalam meramu strategi bahkan sempat membuat namanya masuk dalam radar incaran tim besar seperti Persijap Jepara.

Bagi publik sepak bola Surabaya, beliau bukan sekadar mantan pemain biasa melainkan simbol dari sebuah tradisi keluarga.

Kehadirannya di pinggir lapangan selalu memberikan aura kepemimpinan yang kuat bagi setiap anak asuh yang ia tangani.

Meski usianya terus bertambah, semangatnya untuk memantau perkembangan kompetisi nasional tidak pernah padam sedikit pun di dadanya.

Perjuangan Melawan Penyakit di Masa Tua

Memasuki tahun 2025, publik sempat mengetahui kondisi kesehatan almarhum yang mulai mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Kabar ini mencuat saat Bambang Haryo Soekartono yang merupakan Anggota DPR RI datang membesuk di kediaman Sidoarjo.

Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk apresiasi tinggi atas seluruh jasa yang diberikan Riono untuk sepak bola.

Saat itu terungkap bahwa sang legenda tengah berjuang melawan gangguan kesehatan berupa vertigo serta masalah kekurangan kalsium.

Walaupun fisiknya melemah, semangat dan pikirannya tetap tercurah sepenuhnya untuk kemajuan olahraga bola kaki di Indonesia.

Kepergian Riono Asnan di tahun 2026 ini meninggalkan sebuah lubang besar di hati para pecinta bola.

Warisan berupa kedisiplinan dan teknik bertahan yang mumpuni akan selalu menjadi pelajaran bagi para pemain muda sekarang.

Dunia olahraga tanah air akan selalu mengenang jasa besar bek tangguh era 79 ini sebagai pahlawan bangsa.

Namanya akan tetap abadi sebagai salah satu putra terbaik Surabaya yang berhasil menembus ketatnya persaingan skuad nasional.

Kini sang legenda telah tenang, namun nilai-nilai sportivitas yang ia ajarkan akan terus hidup di lapangan hijau.

Load More