Bola / Bola Indonesia
Kamis, 16 April 2026 | 09:51 WIB
Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang. [Antaranews]
Baca 10 detik
  • Pemkab Malang secara resmi menolak memberikan rekomendasi izin untuk laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan pada 28 April 2026.
  • Penolakan ini didasarkan pada trauma dan luka mendalam dari Tragedi Kanjuruhan 2022, ditambah pihak kepolisian yang dikabarkan tidak siap mengawal laga.\
  • Pengamat menilai pemaksaan laga di Kanjuruhan mencederai empati publik, bermotif bisnis, dan mendesak pertandingan tersebut dipindah ke luar daerah.

“Ini kami dapat informasi bahwa Kapolres Malang tidak siap. Berarti sudah ada dua aspek. Satu aspek saja bisa membatalkan pertandingan. Ini sudah dua aspek. Tinggal kita tunggu putusan resminya,” katanya.

Solusi Pindah Venue

Rencana menggelar Derbi Jatim di lokasi tragedi ini seketika memantik amarah dari kalangan akademisi dan peneliti lokal.

Peneliti bernama Rafi Azzamy menilai PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi terlalu berorientasi pada kepentingan bisnis tanpa mempertimbangkan aspek kemanusiaan.

Rafi secara proaktif mendesak agar panitia pelaksana segera mencari kandang alternatif di luar daerah demi menghormati para korban.

“Saya menaawarkan solusi laga itu dipindah, terserah di mana, asal tidak di Kanjuruhan. Jadi laga di gelar di luar daerah. Soal anggaran terserah. Laga digelar di stadion Kanjuruhan itu kemungkaran,” tegasnya.

Harapan Kebangkitan di Tengah Bayang Tragedi

Di sisi lain, anggota DPRD Kota Malang, Ginanjar Yoni Wadoyo, mengingatkan bahwa tragedi kemanusiaan tersebut harus menjadi pelajaran sejarah yang tak boleh dilupakan.

Namun, ia juga menyoroti pentingnya kebangkitan mentalitas persepakbolaan di Malang Raya tanpa melukai nilai-nilai kemanusiaan yang ada.

Baca Juga: Skuad Pincang Bukan Halangan, Persija Jakarta Siapkan Taktik Lumat Persebaya

“Tapi itu tidak boleh terus berlanjut. Harus kita pulihkan. Kita harus bangkit bersama. Kita harus punya semangat bangkit. Dari perspektif kemanusiaan kita harus jadikan catatan, tapi dari perspektif sepakbola kita harus bangkit,” ucapnya.

Sebagai latar belakang, Stadion Kanjuruhan menjadi saksi bisu tragedi paling kelam dalam sejarah sepak bola Indonesia pada 1 Oktober 2022 lalu yang merenggut ratusan korban jiwa.

Insiden berdarah yang juga terjadi usai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya tersebut hingga kini masih meninggalkan trauma kolektif yang sulit dihapus oleh warga Malang Raya.

Oleh karena itu, pemaksaan untuk kembali menggelar laga dengan tensi serupa di lokasi yang sama dianggap oleh publik sebagai sebuah tindakan yang mencederai empati.

Load More