Bola / Bola Indonesia
Jum'at, 17 April 2026 | 10:19 WIB
Calvin Verdonk saat masih berseragam NEC Nijmegen. [Dok. X/@/Sjakieeeeeee]
Baca 10 detik
  • N.E.C. Nijmegen tampil sensasional dengan gaya sepak bola ofensif ekstrem yang membawa mereka ke posisi ketiga Eredivisie dan final KNVB Cup.
  • Kesuksesan klub didukung oleh investor miliarder lokal, Marcel Boekhoorn, yang berkomitmen membangun tim demi memenuhi janji kepada mendiang ayahnya.
  • Filosofi Total Football modern yang diterapkan pelatih Dick Schreuder menjadikan N.E.C. salah satu tim paling menarik dan produktif di kompetisi Eropa musim ini.

Suara.com - N.E.C. Nijmegen, mantan klub yang pernah dibela oleh bek Timnas Indonesia Calvin Verdonk, kini tengah menjadi fenomena di jagat sepak bola Eropa.

Berlokasi di tengah hutan Goffertpark, Nijmegen, klub yang sempat dianggap medioker ini menjelma menjadi kekuatan yang ditakuti berkat gaya permainan ofensif yang "gila" di bawah arahan pelatih Dick Schreuder.

Kini, tim yang baru saja berjuang di papan bawah Eredivisie ini berada di ambang sejarah terbesar dalam 125 tahun berdirinya klub, dengan ambisi menembus kompetisi elit Liga Champions musim depan.

Filosofi "Sepak Bola Gila" Dick Schreuder

Bek Timnas Indonesia, Calvin Verdonk saat bermain untuk NEC Nijmegen. [Dok. IG Calvin Verdonk]

Gaya permainan N.E.C. sering digambarkan oleh suporter maupun pengamat sebagai tindakan yang nekat, atau bahkan cenderung ceroboh bagi mata orang awam.

Ini adalah bentuk modern dari Total Football yang dulu dipopulerkan oleh Rinus Michels dan Johan Cruyff bersama Ajax Amsterdam di tahun 1970-an, sebuah filosofi yang selalu dirindukan oleh penggemar sepak bola Belanda.

Filosofinya sangat sederhana: "Di sini, kami menendang bola, kami berlari ke depan, dan kami mencetak gol," ujar salah satu suporter setia klub.

Pelatih Dick Schreuder, yang pernah menimba ilmu di Barnet (Inggris) dan Philadelphia Union (MLS), adalah otak di balik transformasi radikal ini.

Setelah sukses mengangkat performa PEC Zwolle, ia kini sukses menyihir Nijmegen dengan catatan 74 gol di Eredivisie musim ini, hanya terpaut tipis dari sang juara PSV Eindhoven.

Baca Juga: Justin Hubner Sindir NAC Breda yang Picu Polemik Paspoortgate di Belanda

Strategi Taktikal yang Mendobrak Pakem

Jika dilihat di atas kertas, N.E.C. mungkin terlihat menggunakan formasi 3-4-2-1, namun di lapangan, pergerakan mereka jauh lebih dinamis dan tak terduga.

Para bek sayap bermain layaknya pemain sayap murni, sementara gelandang serang mereka bertransformasi menjadi penyerang tambahan.

Bahkan, bek tengah mereka tidak ragu untuk maju hingga ke dalam kotak penalti lawan untuk menciptakan keunggulan jumlah pemain.

"Rotasi semacam ini membuat lawan sangat kebingungan dalam menjaga pemain. Semua orang bisa berada di mana saja, kecuali kiper," tulis laporan ESPN.

Meski berisiko tinggi saat terjadi serangan balik, statistik membuktikan efektivitas taktik ini dengan catatan kemenangan telak yang kerap diraih sepanjang musim.

Load More