Bola / Bola Indonesia
Rabu, 22 April 2026 | 12:57 WIB
Timnas Indonesia U-17 tersingkir di fase grup Piala AFF U-17 2026. Lini serang yang tumpul dan krisis pemain bintang jadi dua catatan merah skuad Kurniawan Dwi Yulianto. [ANTARA/Umarul Faruq]
Baca 10 detik
  • Timnas Indonesia U-17 gagal melaju ke semifinal Piala AFF U-17 2026 setelah hanya finis di peringkat ketiga Grup A, di bawah Vietnam dan Malaysia.
  • Kegagalan ini mengungkap masalah serius yakni minimnya produktivitas gol, di mana skuad Garuda Muda gagal mencetak skor saat melawan Vietnam dan Malaysia.
  • Penurunan kualitas individu pemain dibandingkan generasi sebelumnya membuat permainan tim tidak konsisten, menjadi peringatan keras jelang bergulirnya Piala Asia U-17 2026.

Suara.com - Kegagalan menyakitkan harus ditelan Timnas Indonesia U-17 yang terpaksa angkat koper lebih awal dari babak penyisihan grup ajang Piala AFF U-17 2026.

Bermain di hadapan ribuan pendukung sendiri, skuad asuhan pelatih Kurniawan Dwi Yulianto justru gagal menunjukkan dominasi sebagai tuan rumah turnamen kelompok umur se-Asia Tenggara tersebut.

Berdasarkan rilis klasemen akhir dari Soccerway.com, skuad Garuda Muda harus rela finis di peringkat ketiga Grup A di bawah bayang-bayang tim kuat Vietnam dan Malaysia.

Lini Serang Tumpul dan Miskin Gol

Pelatih Kurniawan Dwi Yulianto bongkar masalah transisi dan serangan balik yang bikin Timnas Indonesia U-17 tersingkir dari fase grup Piala AFF 2026 usai ditahan imbang Vietnam.[Dok. KitaGaruda]

Tersingkirnya pasukan Merah Putih ini meninggalkan dua catatan kritis yang kini menjadi pekerjaan rumah raksasa bagi jajaran tim pelatih.

Fakta memprihatinkan pertama yang langsung mencolok mata adalah minimnya tingkat produktivitas lini serang di sepanjang jalannya fase grup.

Dari total tiga pertandingan yang dilakoni, anak asuh Kurniawan Dwi Yulianto tercatat hanya mampu mencetak gol dalam satu laga saja.

Pesta empat gol tanpa balas ke gawang Timor Leste di laga pembuka ternyata menjadi satu-satunya momen selebrasi bagi barisan penyerang Indonesia.

Saat menghadapi lawan yang sepadan dan lebih terorganisir, ketajaman skuad Garuda Muda seolah menguap tak tersisa di atas lapangan hijau.

Baca Juga: Remuk di Piala AFF U-17, Timnas Indonesia Bakal Ketambahan 3 Pemain Diaspora untuk Piala Asia U-17

Kekalahan menyakitkan dari Malaysia dan kebuntuan total saat ditahan imbang oleh Vietnam menjadi bukti nyata betapa tumpulnya skema serangan yang dibangun.

Krisis Bintang dan Penurunan Kualitas Individu

Hal krusial kedua yang menjadi sorotan tajam publik adalah adanya penurunan kualitas individu secara keseluruhan jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Pada skuad yang tampil di tahun 2026 ini, tim pelatih terlihat kesulitan menemukan sosok pemain bintang yang benar-benar bisa menonjol sebagai pembeda.

Ketiadaan sosok jenderal lapangan atau penyerang berinsting pembunuh membuat irama permainan tim terlihat sangat monoton dan mudah terbaca oleh lawan.

Kondisi ini amat kontras dengan skuad generasi terdahulu yang selalu memiliki beberapa pemain kunci untuk memecah kebuntuan dalam situasi tertekan.

Load More