-
FIFA resmi terapkan kartu merah bagi pemain yang menutupi mulut saat berkonfrontasi di Piala Dunia.
-
Pemain dan ofisial yang melakukan aksi walk out protes wasit akan diusir dan didiskualifikasi.
-
Aturan baru ini bertujuan memberantas rasisme tersembunyi dan menjaga sportivitas di lapangan hijau.
Infantino menambahkan bahwa tidak ada alasan logis bagi seorang atlet untuk menyembunyikan gerak bibir jika tidak melontarkan kata-kata terlarang.
"Harus ada praduga bahwa dia telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dia katakan, jika tidak, dia tidak perlu menutupi mulutnya," tegas pria asal Swiss itu.
Ia meyakini bahwa kejujuran di lapangan hijau dimulai dari keberanian untuk menunjukkan apa yang diucapkan kepada sesama rekan profesi.
"Jika Anda tidak memiliki sesuatu untuk disembunyikan, Anda tidak akan menyembunyikan mulut Anda saat mengatakan sesuatu. Begitu saja, sesederhana itu," tutur Infantino.
Selain isu rasisme, FIFA juga membidik tindakan protes berlebihan yang mengganggu jalannya pertandingan atau mencederai marwah kompetisi resmi.
Wasit kini memiliki wewenang penuh untuk memberikan kartu merah kepada pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes atas keputusan pengadil.
Aturan ini tidak hanya berlaku bagi pemain yang aktif di lapangan, tetapi juga menyasar ofisial tim di area teknis.
"Atas diskresi penyelenggara kompetisi, wasit dapat menjatuhkan sanksi kartu merah kepada pemain mana pun yang meninggalkan lapangan pertandingan sebagai protes terhadap keputusan wasit," tulis pernyataan FIFA.
Ketegasan ini juga mencakup instruksi kepada staf pelatih yang memprovokasi pemainnya untuk berhenti bertanding atau melakukan mogok main.
Baca Juga: FIFA Guyur Rp14 Triliun untuk Piala Dunia 2026, Negara Peserta Ketiban Durian Runtuh
"Aturan baru ini juga akan berlaku bagi setiap ofisial tim yang menghasut pemain untuk meninggalkan lapangan pertandingan," lanjut pernyataan tersebut.
FIFA tidak main-main dalam menegakkan aturan ini, di mana tim yang menyebabkan pertandingan terhenti akan dianggap kalah secara otomatis.
Langkah ini menyusul drama memalukan pada final Piala Afrika tahun ini yang melibatkan tim nasional Senegal dan tuan rumah Maroko.
Saat itu, seluruh penggawa Senegal dan pelatih Pape Thiaw melakukan aksi walk out karena tidak terima dengan keputusan penalti wasit.
Meski Senegal akhirnya menang di babak tambahan, gelar juara mereka dicabut secara sensasional oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF).
Keputusan pahit CAF tersebut menjadi rujukan FIFA agar kejadian serupa tidak merusak atmosfer Piala Dunia yang akan digelar mendatang.
Rangkaian aturan baru ini diresmikan sesaat sebelum Kongres FIFA dilaksanakan di Vancouver sebagai persiapan akhir menuju turnamen akbar.
Piala Dunia mendatang akan menjadi sejarah baru karena diselenggarakan secara kolaboratif oleh tiga negara yakni Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat.
FIFA berharap dengan adanya regulasi ini, fokus penonton akan kembali sepenuhnya pada kualitas permainan sepak bola yang bersih dan adil.
Implementasi kartu merah untuk tindakan menutup mulut diharapkan mampu menjadi efek jera yang efektif bagi para pemain bintang dunia.
Otoritas sepak bola ingin memastikan bahwa keberagaman di Piala Dunia dihormati oleh semua pihak tanpa ada celah untuk diskriminasi tersembunyi.
Selama bertahun-tahun, FIFA menghadapi kritik keras karena dianggap lamban dalam menangani kasus rasisme yang terjadi di dalam stadion.
Fenomena pemain menutupi mulut saat menghina lawan menjadi tren negatif karena menyulitkan teknologi pemantau gerak bibir (lip-reading) untuk mengumpulkan bukti kuat.
Di sisi lain, aksi mogok tanding sebagai bentuk protes wasit mulai sering terjadi di turnamen regional, yang dianggap merusak nilai-nilai dasar sportivitas dan kontrak komersial penyiaran pertandingan.
Melalui revisi hukum pertandingan ini, FIFA berupaya memberikan alat penegakan hukum yang lebih instan bagi wasit di tengah lapangan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
BI Luncurkan Layanan Baru Penukaran Uang Rusak, Warga Sumsel Kini Punya Lebih Banyak Pilihan
-
Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI
-
Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional
-
Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total
-
Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi
-
Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?
-
Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak
-
Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus
-
Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler
-
Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123