- Mark Viduka memulai karier profesional di Melbourne Knights tahun 1993 sebelum sukses bersama Dinamo Zagreb dan Celtic.
- Ia mencatatkan rekor sebagai pemain Australia dengan gol terbanyak dalam sejarah Premier League melalui tiga klub berbeda.
- Viduka sukses memimpin Timnas Australia lolos ke Piala Dunia 2006 sebagai kapten setelah menanti selama 32 tahun.
Ditunjuk langsung oleh Guus Hiddink, ia menjadi pemimpin di lapangan selama kualifikasi dramatis melawan Uruguay.
Setelah kalah 0-1 di leg pertama, Australia butuh kemenangan di leg kedua.
Sebuah umpan cepat dari Viduka menjadi awal dari gol Mark Bresciano yang memaksa laga berlanjut ke babak adu penalti.
Meskipun Viduka sendiri gagal dalam eksekusinya, Australia pada akhirnya tetap memenangkan adu penalti dan lolos ke Jerman.
"Tentu saya sangat bangga dan karena tumbuh Bersama banyak rekan satu tim, saya senang generasi kami bisa mendapatkan kesempatan untuk bermain di Piala Dunia," ucap Viduka dikutip dari SBS Sport.
Di putaran final Piala Dunia 2006, Viduka selalu tampil dalam empat pertandingan Australia.
Ia menjadi bagian dari tim yang mengalahkan Jepang, menahan imbang Kroasia, sebelum akhirnya takluk dari Brasil dan sang juara, Italia.
Total, Viduka mengoleksi 43 caps dan 11 gol untuk negaranya.
Legacy Mark Viduka
Mark Viduka akan selalu dikenang sebagai salah satu striker paling mematikan yang pernah dimiliki Australia.
Baca Juga: Pavel Nedved Si Meriam Ceko: Jenderal Lapangan Tengah dengan Tendangan Roket Mematikan
Selama sembilan musim berkarier di Premier League bersama tiga klub berbeda, ia mencatatkan 92 gol dalam 240 penampilan.
Torehan tersebut mengukuhkan namanya sebagai pemain Australia dengan gol terbanyak dalam sejarah Premier League, melampaui rekor para legenda lain seperti Harry Kewell (57 gol) dan Tim Cahill (56 gol).
Tag
Berita Terkait
-
Rustu Recber Legenda Turki: Kisah Kiper Eksentrik dengan Cat Hitam di Mata Viral di Piala Dunia 2002
-
Paul Van Himst, 'The White Pele' dari Belgia yang Mengukir Keabadian
-
Eusebio Sang Black Panther Portugal: Ketajaman Abadi di Panggung Piala Dunia 1966
-
Didier Drogba Legenda Pantai Gading: Predator Paling Mematikan dalam Sejarah Piala Dunia
-
Kontroversi Harga Tiket Piala Dunia 2026, FIFA: Sesuai Pasar Amerika Utara
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Bangkit dari Cedera Parah, Pemain Parma Siap Bawa Jepang Bersinar di Piala Dunia 2026
-
Umuh Muchtar Sebut Laga Persija vs Persib Bandung Lebih dari Final
-
Persib Bandung Hormati Keputusan Venue Laga Kontra Persija Dipindah ke Samarinda
-
Hadiah Juara 3 Kali Lebih Besar dari Piala AFF, Timnas Indonesia Wajib Incar Trofi FIFA ASEAN Cup
-
Casemiro Nilai Michael Carrick Layak Jadi Pelatih Permanen Manchester United
-
AS Monaco Ingin Permanenkan Ansu Fati dari Barcelona
-
Legowo, Jonathan Tah Akui PSG Layak ke Final Liga Champions
-
Dikaitkan dengan Chelsea, Felipe Luis Mulai Urus Lisensi UEFA Pro
-
Bayern Munich Tersingkir, Vincent Kompany Murka dengan Keputusan Wasit
-
Vincent Kompany Sebut Wasit Berpihak ke PSG: Seharusnya Ada Penalti dan Kartu Merah