Bola / Bola Indonesia
Selasa, 12 Mei 2026 | 15:40 WIB
Duel Persija Jakarta vs Persib Bandung dalam laga pekan ke-32 BRI Super League 2025/2026 di Stadion Segiri, Samarinda, Minggu (10/5/2026) sore WIB. [Dok. Persija]
Baca 10 detik
  • Persaingan gelar juara Super League 2025/2026 antara Persib, Borneo FC, dan Persija berlangsung sangat ketat.
  • Persija menghadapi kendala non-teknis berupa ketidakpastian stadion kandang, berbeda dengan Persib dan Borneo FC yang stabil.
  • Pengamat sepak bola mendesak PSSI dan operator liga menjamin kepastian stadion demi kompetisi yang lebih profesional.

Suara.com - Persaingan gelar juara Super League 2025/2026 antara Persib Bandung, Borneo FC, dan Persija Jakarta berlangsung ketat. Namun, pengamat sepak bola nasional, Kesit Budi Handoyo, menilai ada persoalan non-teknis yang berpotensi menciptakan ketimpangan.

Menurutnya, Persija harus berjuang tanpa kepastian stadion kandang, sementara rival seperti Persib Bandung dan Borneo FC dapat memaksimalkan dukungan suporter di markas masing-masing.

“Kompetisi musim ini memang ketat dan bisa saja ditentukan hingga pekan terakhir. Persaingannya bagus,” kata Kesit kepada Suara.com.

Namun, ia menilai ada aspek yang tidak seimbang dalam kondisi tersebut.

Keuntungan Bermain di Kandang Sendiri

Duel Persija Jakarta vs Persib Bandung dalam laga pekan ke-32 BRI Super League 2025/2026 di Stadion Segiri, Samarinda, Minggu (10/5/2026) sore WIB. [Dok. Persib]

Kesit menyebut Persib Bandung tampil sangat kuat saat bermain di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) dengan dukungan Bobotoh.

Hal serupa juga dirasakan Borneo FC yang tampil solid di Stadion Segiri.

Persib diketahui mendapat hak pengelolaan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) melalui skema Kerja Sama Pemanfaatan (KSP) selama 30 tahun sejak 2024.

Sementara itu, Borneo FC konsisten menggunakan Stadion Segiri, Samarinda sebagai kandangnya untuk musim ini.

Baca Juga: Kiper Kelahiran Hoorn: Tanpa Staf Pelatih Belanda, Saya Mungkin Tak ke Indonesia

Sebaliknya, Persija tidak selalu dapat bermain di Jakarta. Situasi itu, menurutnya, berdampak pada performa tim sekaligus potensi pendapatan dari penjualan tiket.

“Bagaimana klub bisa meraih hasil dan pendapatan maksimal jika tidak bermain di kandangnya sendiri?” ujarnya.

Ia menilai kondisi ini perlu menjadi perhatian serius PSSI dan operator kompetisi, I.League.

Desakan Kepastian dan Profesionalisme

Kesit juga menyoroti kebijakan yang dinilai masih memberi kompromi kepada klub yang belum memenuhi standar infrastruktur.

Menurutnya, toleransi berlebihan dapat merugikan klub dan menurunkan citra liga.

Load More