-
Perubahan iklim memicu cuaca panas ekstrem pada 97 dari 104 laga Piala Dunia mendatang.
-
Suhu di atas 28 derajat Celsius menurunkan frekuensi lari cepat dan memperlambat pemulihan atlet.
-
Panas ekstrem mengancam keselamatan jiwa pemain sekaligus merusak kualitas taktik serta tempo pertandingan.
Suara.com - Ancaman nyata perubahan iklim kini merambah ke atas rumput hijau turnamen sepak bola terakbar sejagat Piala Dunia 2026. Krisis lingkungan ini diprediksi merusak kualitas kompetisi akibat lonjakan suhu udara yang tidak bersahabat bagi fisik manusia.
Riset terbaru yang dilaporkan Kyodo, melaporkan bahwa mayoritas pertandingan pada putaran final mendatang akan diguyur gelombang panas yang mengkhawatirkan. Kondisi tersebut memaksa para pesepak bola bertanding di bawah tekanan cuaca yang menguras energi.
Suhu tinggi di atas ambang batas normal dipastikan mengganggu kebugaran para pemain di lapangan. Dampak buruknya berkisar dari penurunan intensitas lari cepat hingga proses pemulihan fisik yang memakan waktu lebih lama.
Fenomena alam ini tidak hanya merugikan para aktor lapangan hijau yang memburu prestasi tertinggi. Keselamatan jiwa ribuan suporter di tribun stadium juga berada dalam intaian bahaya akibat sengatan panas.
Kondisi tersebut didapatkan setelah para ahli membandingkan tren iklim global saat ini dengan pemodelan bumi tanpa polusi. Hasilnya menunjukkan aktivitas merusak lingkungan oleh manusia mempercepat datangnya bencana bagi industri olahraga.
Timnas Jepang menjadi salah satu kontestan yang bakal langsung merasakan ujian berat ini di fase grup. Skuad Samurai Biru harus bersiap menghadapi atmosfer ekstrem pada tiga laga awal mereka.
Probabilitas terjadinya lonjakan suhu menyengat bagi Jepang menyentuh angka 95 persen saat bersua Belanda di Dallas. Angka risiko tersebut tetap bertahan tinggi pada pertandingan-pertandingan krusial berikutnya.
Ketika menghadapi Tunisia di Monterrey, peluang terjadinya panas ekstrem dilaporkan berada pada level 79 persen. Sementara itu, duel penutup grup melawan Swedia memuncaki risiko dengan persentase mencapai 98 persen.
Peningkatan statistik kelayakan cuaca yang memburuk ini tercatat melonjak drastis akibat efek pemanasan global. Lompatan risiko paling ekstrem diprediksi terjadi pada laga yang mempertemukan Uruguay dengan Spanyol di Guadalajara.
Baca Juga: Skandal Prancis Jelang Piala Dunia 2026: Nama Mbappe Diduga Dijual ke Rumah Judi
Wilayah Meksiko tersebut akan menyaksikan lonjakan probabilitas panas sebesar 37 poin persentase hingga menyentuh angka 70 persen. Fakta ini menjadi alarm keras bagi tim medis masing-masing negara peserta.
"Bermain di suhu atas 28 celcius mengubah permainan - mempengaruhi taktik, tempo, dan kualitas secara keseluruhan," ujar Mike Tipton, profesor di University of Portsmouth sekaligus anggota tim analisis Climate Central.
"Kami melihat adanya penurunan intensitas, berkurangnya sprint, dan potensi lebih sedikitnya peluang yang tercipta."
Keluhan senada juga disuarakan oleh para aktor yang merumput langsung di lapangan hijau. Lonjakan suhu global dinilai merusak keindahan permainan yang mengandalkan kecepatan tinggi.
Pemain tim nasional Norwegia, Morten Thorsby, menambahkan, "Analisis ini memperjelas bahwa kenaikan suhu tidak hanya menjadi risiko kesehatan yang serius bagi pemain dan penggemar, tetapi juga mulai mempengaruhi kualitas permainan itu sendiri."
"Ketika panas berdampak pada kemampuan sprint, pemulihan, dan intensitas secara keseluruhan, hal itu mengubah cara sepak bola dimainkan - dan perubahannya tidak ke arah yang lebih baik," katanya menegaskan.
Gelaran Piala Dunia mendatang dijadwalkan berlangsung mulai 11 Juni hingga 19 Juli dengan tiga negara bertindak sebagai tuan rumah bersama. Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat akan membagi tempat penyelenggaraan untuk 104 pertandingan.
Analisis dari lembaga riset iklim nirlaba, Climate Central, menemukan cuaca panas ekstrem membayangi 97 pertandingan dari total laga tersebut. Kajian ini menjadi bukti ilmiah teranyar bahwa krisis iklim global berimbas langsung pada masa depan kompetisi olahraga internasional.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Berapa Lama Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Bakal Mendekam di Rutan KPK?
-
Apa Kata KPK soal Klaim Kriminalisasi Febrie Adriansyah? Ini Penjelasan Lengkapnya
-
Tayang 2027, Drama Misteri-Kriminal 'Code' Rilis Jajaran Pemeran Utama
-
Karena Buru-buru Sudah Malam, Alasan Kejagung Tak Pakaikan Rompi Pink ke Febrie Adriansyah
-
Dua Kata Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Masuk ke Rutan KPK Tanpa Pakai Rompi Pink
-
Budget 4 Jutaan? 5 HP Gaming Ini Bisa Push Rank Tanpa Lag
-
Kejagung Tahan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah di Rutan KPK
-
Riset Economist Enterprise: Integrasi Self-Care ke Sistem Kesehatan Perlu Diperkuat
-
Film Istimewa Hadirkan Anak Disabilitas sebagai Tokoh Utama
-
Istimewa! Eks Jampidsus Febrie Ditahan Tanpa Rompi Pink dan Tangan Tak Diborgol