Bri / News
Jum'at, 27 Maret 2026 | 06:59 WIB
BRI terus memperkuat dukungannya bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan keluarga melalui layanan remitansi yang terintegrasi (Dok: BRI)

Keberhasilan menekan beban bunga ini menjadi faktor kunci yang mendongkrak Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) sebesar 4,84% yoy hingga mencapai Rp19,14 triliun.

Kendati demikian, margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) mengalami sedikit tekanan menjadi 6,15%, turun dari periode tahun lalu yang sebesar 6,25%.

Secara grup, manajemen BRI tetap optimis dengan menetapkan target NIM pada rentang 7,4% hingga 7,8% di sepanjang sisa tahun 2026.

Strategi Pengurangan Risiko dan Operasional

Kualitas aset yang terjaga membantu BRI dalam melakukan efisiensi pada pos kerugian kredit (impairment). Fakta keuangan menunjukkan penurunan pencadangan sebesar 15,77% menjadi Rp7,54 triliun. Penurunan beban provisi ini secara otomatis mendorong efisiensi operasional secara keseluruhan.

Beban operasional tercatat turun 2,4% menjadi Rp9,53 triliun. Kombinasi antara pendapatan yang terjaga dan penghematan biaya operasional ini menghasilkan laba operasional sebesar Rp9,61 triliun, atau tumbuh impresif sebesar 13,14% dibandingkan tahun lalu.

Dominasi Dana Murah (CASA) dan Likuiditas

Di sektor pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BRI tumbuh 9,26% yoy menjadi Rp1.508,84 triliun. Pertumbuhan ini didorong kuat oleh porsi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). Fakta rinciannya menunjukkan:

  • Giro tumbuh pesat sebesar 16,48% menjadi Rp428,89 triliun.
  • Tabungan meningkat 11,57% menjadi Rp588,38 triliun.
  • Deposito tumbuh moderat sebesar 1,28% menjadi Rp491,57 triliun.

Dengan total dana murah mencapai Rp1.017,27 triliun (tumbuh 13,59% yoy), rasio CASA BRI tetap solid di level 67,42%.

Baca Juga: IHSG Sempat Menguat Pagi Ini, Lalu Langsung Anjlok

Struktur pendanaan yang sehat ini memberikan fleksibilitas bagi BRI dalam mengelola margin.

Selain itu, rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR) juga terpantau lebih longgar di level 89,22% dibandingkan bulan sebelumnya yang sempat menyentuh 90,53%, memberikan ruang napas yang lebih luas bagi perseroan dalam penyaluran kredit ke depan.

Kontributor : Rizqi Amalia

Load More