- Saham GIAA resmi keluar dari papan pemantauan khusus BEI per 26 Maret 2026, menandakan perbaikan fundamental.
- Status GIAA kini kembali normal diperdagangkan dengan mekanisme Full Call Auction dan masuk papan pengembangan.
- Keluarnya dari pemantauan didukung ekuitas positif USD 91,9 juta pada 2025, meskipun masih mencatat kerugian bersih.
Suara.com - Saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) resmi keluar dari papan pemantauan khusus Bursa Efek Indonesia (BEI) per 26 Maret 2026. Langkah ini menjadi sinyal kuat perbaikan fundamental perseroan setelah menghadapi tekanan kinerja dalam beberapa tahun terakhir.
Dengan keluarnya dari pemantauan khusus, saham GIAA kini kembali diperdagangkan secara normal menggunakan mekanisme Full Call Auction (FCA) dan masuk ke papan pengembangan. Selain itu, notasi khusus 'E' yang menandakan ekuitas negatif juga resmi dihapus.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia, pada perdagangan hari ini saham GIAA melesat 15,07 persen atau 11 poin ke harga Rp 84 per lembar saham.
Pada hari Rabu, 25 Maret 2026, saham GIAA juga menguat 4,29 persen menjadi Rp 73 per lembar saham.
Perubahan status ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap kinerja Garuda, sekaligus memperbaiki likuiditas saham di pasar.
Bahkan, berdasarkan data RTI Business hingga pukul 09.35 WIB, saham GIAA sempat melonjak 21,92 persen ke level Rp 89 per lembar dan menyentuh batas atas auto reject (ARA).
Sebelumnya, saham Garuda masuk dalam papan pemantauan khusus akibat kondisi ekuitas negatif. Namun, perbaikan signifikan mulai terlihat setelah ekuitas perseroan berbalik positif menjadi USD 91,9 juta pada 2025, dari posisi minus USD 1,35 miliar pada 2024.
Meski demikian, dari sisi kinerja, Garuda masih mencatatkan kerugian bersih sekitar US$322,4 juta pada 2025. Tekanan juga terlihat dari pendapatan yang turun sekitar 5,85 persen secara tahunan.
Kendati masih merugi, perbaikan struktur keuangan ini dinilai menjadi titik awal kebangkitan Garuda. Transformasi yang dilakukan perseroan mulai menunjukkan hasil, terutama dalam memperbaiki kesehatan neraca keuangan.
Baca Juga: IHSG Kembali Ambruk 1,89% Hari Ini, Investor Banyak Ambil Untung
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
Pilihan
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
Terkini
-
Purbaya Terima Aduan 46 Ribu Masalah Ditjen Pajak dan Bea Cukai
-
Cerita Purbaya Ditekan Investor Asing Gegara Ragukan Kondisi Ekonomi RI
-
Diproyeksi Masih Tertekan, Intip Ramalan Pergerakan IHSG Pekan Depan
-
Progres Pembangunan Pabrik Kimia Milik Chandra Asri Capai 66%
-
Nilai Tukar Rupiah Bisa Terus Melorot ke Level Rp 17.500 di Pekan Depan
-
UMKM Binaan Pertamina Raup Potensi Bisnis Rp10,6 Miliar di Inabuyer 2026
-
Simulasi Pengajuan Cicilan KUR BRI Hingga Rp500 Juta untuk UMKM 2026
-
BI Lapor Uang Primer Tumbuh Melambat 14,3% pada April 2026
-
ASDP Masih Raih Pendapatan Rp 4,96 triliun pada 2025 di Tengah Tantangan Bisnis
-
OJK Restui Merger BPR Danaputra Sakti dengan BPR Harta Swadiri