/
Selasa, 11 Oktober 2022 | 15:00 WIB
Devi Athok Zulfitri (Beritajatim)

SuaraCianjur - Devi Athok Zulfitri masih dirundung kesedihan. Dua anaknya, Natasha Deby Ramadhani (16) dan Nayla Debi Anggraeni (13) tewas dalam peristiwa kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, pada Sabtu 1 Oktober 2022.

Kesedihan bertambah, ketika mantan istrinya yang juga ibu dari dua anakanya itu Geby Asta (43), turut tewas dalam kejadian tersebut.

"Sampai hari ini suara minta tolong masih terngiang di kuping saya. Semoga arwah kedua anak saya tenang di alam sana, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan menempatkannya dalam surga,” ungkap Warga Desa Krebet Senggrong Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang kepada Beritajatim.com-jaringan Suara.com.

Berhari-hari usai tiga orang yang sempat mewarnai hidupnya itu meninggalkan Athok, ia masih terngiang-ngiang teriakan dua anaknya saat meminta pertolongan di Kanjuruhan. Rasa sesal tak diingkarinya karena tidak dapat menolong kedua bidadarinya tersebut. 

Athok menikah dengan Geby, dan melahirkan dua anaknya itu. Delapan tahun silam Athok dan Geby memilih berpisah dalam rumah tangga. Saat berpisah, dua anaknya ikut dengan Geby.

"Geby mantan istri saya juga meninggal dunia," kata Athok sambil menahan tangis.

Athok bercerita, malam tragis tersebut, kedua anaknya ingin menonton tim kesayangannya yakni Arema. Sayangnya Athok tidak dapat mendampingi saat itu. 

"Saya bekerja, Tasya pamit mau nonton. Saya sempat khawatir. Apalagi ketika itu Tasya, Geby dan Nayla, duduk di tribun selatan. Selama ini Tasya tidak pernah nonton di tribun selatan."

"Selalu sama saya dan duduk di tribun Utara. Setelah pertandingan, saya dapat kabar ada ricuh. Saya ke Kanjuruhan. Suasana di depan stadion sudah ramai ketika itu. Saya cari anak saya dan bertemu di rumah sakit,” sambung dia.

Baca Juga: Sembilan Guru Besar Mendaftar Jadi Balon Rektor UNS

Malam itu, Athok mengemukakan, jika Tasya dan Nayla melihat pertandingan malam itu bersama Geby serta ayah tirinya, yang selamat dalam peristiwa itu.

Saat mendapat informasi anak dan mantan istrinya turut menjadi korban, dirinya langsung mendatangi Rumah Sakit Wava Husada, Kepanjen pada Sabtu malam itu juga.

"Waktu itu, saya sudah gelap mata. Sedih, marah dan tak tahu harus berbuat apa. Saya marah betul. Maaf untuk pihak rumah sakit, saya emosi sekali ketika itu. Sekali lagi tolong maafkan saya," ucap Athok terbata-bata.

Athok mengatakan, dua putrinya merupakan pendukung Arema FC. Bahkan, Natasha menjadi Aremanita sejati lantaran sejak kecil kerap diajaknya menyambangi pertandingan Singo Edan hingga ke luar kota. Tasha pun cukup dikenal Aremania dan Aremanita saat lawatan ke Bali. Almarhumah memiliki banyak kawan sesama suporter bola yang fanatik di Bali.

“Tasha mewarisi kecintaan saya terhadap sepakbola dan pendukung Arema. Sejak kecil, Tasha sudah sering ikut saya melihat pertandingan Arema. Tidak hanya laga home. Saya dan Tasha kerap mengikuti tim Arema jika bertanding ke luar Kota. Ke Jakarta, Magelang sampai ke Bali," ucapnya.

Ketiga jasad orang yang dicintainya dimakamkan di Pemakaman desa Wajak, Kabupaten Malang berdampingan. Athok mendesak agar Tragedi Kanjuruhan diusut tuntas dan pelaku penembakan gas air mata harus ditangkap serta diseret ke pengadilan untuk pertanggungjawabkan.

Load More