SuaraCianjur.id- Polri keukeuh dengan pernyataannya kalau gas air mata yang dilepaskan oleh Polri dalam Tragedi Kanjuruhan Malang bukanlah penyebab kematian.
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyarankan untuk menunggu hasil uji dari laboratorium.
Tragedi Kanjuruhan Malang sudah menewaskan 132 orang. Mereka yang panik lalu berhamburan dan berebut pintu keluar Stadion Kanjuruhan, dikarenakan lemparan gas air mata dari kepolisian.
Usai tragedi tersebut, ditemukan banyak korban yang mengalami gangguan kesehatan. Dan itu diduga akibat dampak dari gas air mata.
Menurut Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara, hasil uji laboratorium tersebut nantinya bukan terkait dengan kandungan kimia tapi dampak bagi kesehatan jiwa seseorang.
"Sebenarnya begini kalau kita bicara soal hasil laboratorium itu kan bukan hanya sekadar kandungan kimianya, tapi analisanya terhadap kesehatan. Itu kami menunggu dari hasil uji laboratorium," terang Beka di kantor Komnas HAM, Jakarta, seperti dikutip dari Suara.com Kamis (13/8/2022).
Sementara itu, Komisioner Komnas HAM lainnya, Choirul Anam, mengatakan banyak korban meninggal dengan wajah yang biru, mulut mengeluarkan busa, dan ada juga yang kejang-kejang. Hal itu berdasarkan dari temuan pihak mereka.
"Jadi, kami banyak cerita-cerita soal begitu dan terekam juga oleh teman-teman kedokteran. Termasuk juga orang-orang yang mengalami kejang-kejang," jelasnya.
Komnas HAM juga menemukan kalau banyak korban yang mengalami iritasi mata merah, dari para korban selamat Tragedi Kanjuruhan Malang. Bahkan ada yang matanya berwarna cokelat. Bukan itu saja, ada juga korban yang tak bisa melihat dalam beberapa hari.
Baca Juga: Resep Awet Muda ala Dokter Zaidul Akbar
"Ada bahkan kami Senin itu bertemu dengan salah satu korban.Dari Sabtu peristiwanya, sampai Minggu, Senin ketemu kami agak sore itu baru saja matanya bisa melihat," ungkap Anam.
Maka dari itu, untuk memastikan bagaimana dampak gas air mata utnuk kesehatan, maka Komnas HAM membuka peluang utnuk memintai keterangan dari para ahli kesehatan.
Nantinya dari keterangan itu akan dibarengi dengan hasil yang keluar dari uji laboratorium.
"Kalau diperlukan kami memang akan memanggil ahli kesehatan. Tapi sepanjang yang kami dapatkan dari berbagai cerita korban, kedokteran yang ada di Malang sana menunjukkan bagaimana itu berlangsung," kata Anam.
Seperti yang diketahui, pernyataan yang keluar dari mulut Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Dedi Prasetyo, mengatakan jika secara medis para korban yang jatuh di Tragedi Kanjuruhan Malang bukan diakibatkan karena gas air mata.
Malahan mereka mengklaim akibat kekurangan oksigen dan bahkan terinjak-injak, saat dipintu keluar stadion.
"Dari dokter spesialis penyakit dalam, penyakit paru, penyakit THT, dan juga spesialis penyakit mata, tidak satu pun yang menyebutkan bahwa penyebab kematian adalah gas air mata. Tapi penyebab kematian adalah kekurangan oksigen, karena apa? Terjadi berdesak-desakan, trerinjak-injak, bertumpuk-tumpukan mengakibatkan kekurangan oksigen," kata Irjen Dedi, Senin (10/10) kemarin.
Efek dari gas air mata menurut Irjen Pol Dedi, pada dasarnya hanya menimbulkan iritasi tidak sampai menyebabkan kematian. Hal itu dia katakan karena hingga kini belum ada jurnal ilmiah yang menyebut fatalitas gas air mata yang bikin orang tewas.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Mengintip Tren Wellness di Bali, Saat Pengalaman Air Jadi Daya Tarik Baru Industri Hospitality
-
PLN Hadirkan Diskon 50 Persen Tambah Daya Listrik hingga 27 Juli 2026
-
Doraemon the Movie: Misteri Kapal dan Bangkitnya Sistem Otomatis Atlantis!
-
Bom Rakitan di MAN 3 Padang Jadi Alarm, Pakar Minta Sekolah Perkuat Ruang Dialog
-
HP Apa yang Kameranya Bagus selain iPhone? Ini 5 Rekomendasi Terbaik sesuai Review
-
Feng Shui Pintu Utama 2 Daun Apakah Bagus untuk Rumah? Ini Penjelasannya
-
Eks Pimpinan KPK Desak Prabowo Perintahkan KPK Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah, Ini Alasannya
-
Strategi QRIS dan BRImo, Strategi UMKM Pemalang Ini Sukses Perluas Jangkauan Pasar
-
Hari Anak Nasional: Mengapa Orang Tua Perlu Berhenti Menuntut Anak Menjadi Sempurna?
-
Izin Freeport Diperpanjang hingga 2061, Legislator PDIP Tagih Kontribusi Nyata untuk Papua