/
Rabu, 07 September 2022 | 21:17 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani (Foto: Istimewa)

Deli.Suara.com -  Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan harga minyak dunia masih akan tidak pasti ke depannya dengan berbagai faktor dan tentunya akan mempengaruhi APBN.

Faktor lainnya adalah berapa lama perang Rusia dan Ukraina akan berlangsung. “Selama terjadi perang, berarti akan terus ada disrupsi suplai karena Rusia itu diembargo. Kemarin kita juga mendengar bahwa Amerika Serikat akan mencoba membuat price gap untuk minyak Rusia yang sekarang sudah diadopsi negara-negara G7,” jelas Sri Mulyani, Rabu (7/9/2022).

Selain itu, Sri Mulyani juga menyinggung potensi resesi global yang berdampak pada harga minyak dan komoditas lainnya pada 2023.

“Amerika dan Eropa jelas akan menghadapi potensi resesi yang sangat tinggi, mengapa? Karena inflasi mereka sangat tinggi, 40 tahun tertinggi dan saat ini direspons dengan kenaikan suku bunga acuan dan pengetatan likuiditas,” tutur Sri Mulyani.

Sri Mulyani menuturkan, awalnya sejumlah bank sentral di Amerika dan Eropa memperkirakan resesi hanya sementara karena efek pandemi Covid-19.

Namun, ketegangan politik antara Rusia dan Ukraina hingga perang yang berkepanjangan membuatnya memburuk. Bahkan, minyak kini diklaim jadi salah satu instrumen perang.

Oleh karena itu, Sri Mulyani melihat jika berbagai negara maju masuk ke delam jurang resesi, maka permintaan terhadap minyak menjadi turun dan tekanan kenaikan harga minyak diharapkan ikut menurun, sehingga tak lagi mencapai di atas 100 dolar AS per barel.

Saat ini harga minyak mulai menurun dalam kisaran 94 dolar AS per barel, setelah sempat melambung di level 126 dolar AS per barel.

Sumber: Suara.com 

Baca Juga: Bermula Dari Prank, Fitri Tropica Wujudkan Ugly Cake Untuk Anaknya

Load More