Baru-baru ini istilah skena dan anak skena, bahkan polisi skena menjadi bahasan yang viral di Twitter. Bahkan, belakangan makna anak skena bergeser menjadi semacam cemoohan di media sosial.
Sebenarnya dari mana asal skena dan anak skena? Mengapa istilah anak skena menjadi viral di Twitter?
Dalam dunia musik, skena adalah tentang suatu circle, kultur lingkungan atau tempat terjadinya interaksi antara musisi dan penikmat musik sebagai suatu komunitas.
Misalnya ketika perkumpulan tersebut merupakan penggemar musik punk, maka mereka dapat disebut dengan skena punk. Begitu pula dengan penggemar musik indie yang disebut sebagai skena indie.
Sayangnya, saat ini skena memiliki arti yang negatif, karena dianggap sebagai sekumpulan pecinta musik yang mengkritik penikmat musik lainnya yang dianggap berbeda dengan mereka, hingga membuat banyak orang merasa jengah.
Fenomena ini lantas memunculkan apa yang disebut sebagai polisi skena yang merujuk kepada individu-individu yang merasa memiliki wewenang untuk menghakimi selera, opini ataupun kebiasaan sesama penggemar musik di sosial media.
Dikutip dari stereogam, istilah skena adalah sebuah kiasan yang berasal dari subkultur emo di awal tahun 2000-an di seluruh Amerika Serikat. Nama tersebut mulai digunakan sekitar tahun 2002, melalui istilah "scene queen", sebuah istilah menghina yang menggambarkan perempuan menarik dan populer yang dianggap oleh musisi hardcore yang lebih tua hanya terlibat dalam subkultur hardcore
"Fashioncore" adalah estetika yang berasal dari band metalcore Orange County Eighteen Visions yang membantu memunculkan subkultur skena.
Semua itu berasal dari konfrontatif terhadap hipermaskulinitas hardcore, ia menggunakan banyak aspek yang akan menentukan mode pemandangan, seperti eyeliner, jeans ketat, kemeja berkerah, rambut lurus, dan ikat pinggang putih.
Baca Juga: 5 Tips Membantu Anak Menghadapi Rasa Takutnya, Orang Tua Wajib Tahu!
Sementara itu, dikutip dari berbagai sumber Subkultur skena dianggap oleh beberapa orang telah berkembang langsung dari subkultur emo dan dengan demikian keduanya sering dibandingkan.
Selama pertengahan 2000-an, anggota subkultur skena Inggris dan Amerika terinspirasi dari skena musik deathcore. Dalam sebuah artikel tahun 2005 oleh Phoenix New Times, penulis Chelsea Mueller mendeskripsikan penampilan band Job for a Cowboy (sebuah band yang menjadi deathcore pada saat itu) dengan menulis bahwa band tersebut "mungkin terlihat seperti anak skena dengan potongan rambut emo yang lusuh dan celana ketat, dan mungkin mengolok-olok band metal hebat, tapi band death-metal ini benar-benar nyata."
Mueller menggambarkan Job for a Cowboy sebagai "lima pria dengan jins perempuan dan kaus band ketat". Grup deathcore awal lainnya yang populer di kalangan anggota subkultur scene adalah Bring Me the Horizon.
Di Indonesia sendiri arti anak skena kerap dilekatkan untuk orang-orang yang suka mendengarkan musik non mainstream atau indie.
Bahkan saat ini, tren anak skena telah merambah ke dalam gaya hidup mereka. Ini bukan hanya tentang selera musik mereka, tetapi juga melibatkan kebiasaan dan gaya berpakaian tertentu.
Sebuah video di TikTok yang diunggah oleh akun @anak_ads_agency menyoroti bahwa anak skena tidak hanya ditentukan oleh selera musik mereka, tetapi juga oleh gaya hidup sehari-hari.
Seorang perempuan yang dikutip oleh Suara.com menjelaskan, "Anak skena adalah anak-anak yang menyukai band-band underground, yang sering membagikan undangan di Instastory."
Selain itu, menurutnya, anak skena sering menghabiskan pagi mereka dengan berkeliling menggunakan sepeda fixie untuk membeli kopi di kedai kopi, dan mereka bekerja di agensi pada siang hari. Pada malam hari, anak skena dikatakan sering berpesta.
"Terus kalo dia berpakaian kalau cewek itu rambutnya harus bondol kacamatanya tuh framenya jarus tebel terus warna rambutnya itu kalo nggak item pekat, warna merah.
"Terus dia itu pakai docmart atau enggak pakai new balance dan specificly yg warna abu-abu ya. Kalau cowok ya celananya dickies pakai docmart dan pakai salomon," ucap wanita tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jaksa Skakmat Nadiem: Mau Putus Konflik Kepentingan, Kok Saham Gojek Tak Dijual?
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
Pilihan
-
Harry de Fretes Bagikan Kabar Haji Bolot Meninggal, Keluarga: Hoaks, Itu Orang Kurang Kerjaan
-
Prediksi Meksiko vs Afrika Selatan: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Rekor Gila ARMY Indonesia! Belum Genap Sejam, Ratusan Ribu Tiket Konser OT7 BTS Ludes Tanpa Sisa
-
PTBA Kembangkan 500 Itik Petelur di Muara Enim, Hasilkan 200 Telur Omega per Hari
-
Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray
Terkini
-
Gembong Narkoba El Chapo Merengek Minta Pulang ke Meksiko, Mau Nonton Piala Dunia?
-
BBM Naik Tajam, Luthfi Siapkan Benteng Agar Harga Pangan Tak Ikut Meledak
-
Jakarta Bakal Gelap Gulita Selama 60 Menit pada Sabtu Malam, Ini Alasannya
-
LG OLED evo AI 2026 Meluncur, TV Terbaru Lebih Personal dan Bisa Terlindung dari Incaran Hacker
-
IHSG Melonjak ke Level 5.960 Jumat Pagi, Investor Serbu Saham-Saham Ini
-
Aktor Muzakki Ramdhan Dianiaya di Toilet Mal, Wajah Didorong ke Tembok hingga Bibir Berdarah
-
Tembus Perempat Final, Ana/Trias Berambisi Juara Australian Open 2026
-
Aura Tegang Warnai Latihan Terbuka Timnas Iran di Tijuana, Ada Apa?
-
Penuhi Nazar, Jamaah Haji Asal Kabupaten Semarang ini Jalan Kaki dari Asrama Haji Donohudan Boyolali
-
Pertamax Naik Rp16.250, Dirut Pertamina Ngaku Tetap Pertimbangkan Daya Beli Masyarakat!