"Itu (penembakan ke Brigadir Joshua) tidak mungkin dari satu senjata api. Tapi, pasti lebih dari satu senjata," jelas dalam acara Rosi yang tayang di Kompas TV, Kamis (8/9/20220) malam.
Ahmad Taufan Damanik memunculkan dugaan itu karena dari hasil autopsi maupun autopsi ulang, dan uji balistik, peluru yang bersarang dan melubangi tubuh Brigadir Joshua lebih dari satu.
"Bisa juga (dari dua senjata). Makanya saya munculkan juga misalnya kemungkinan ada pihak ketiga yang menembak," jawab Taufan.
Taufan pun menyatakan, Komnas HAM berharap penyidik tim khusus (Timsus) Polri memperdalam kemungkinan adanya orang ketiga yang menembak Brigadir Joshua.
“Kuat dugaan iya, tapi saya belum bisa memastikan siapa ya. Pasti satu diantara yang ada di situ. Termasuk Ibu Putri (Candrawathi), atau bisa juga Kuat (Ma’ruf)," kata dia.
Bahkan Taufan belum cukup percaya dengan hasil rekonstruksi yang digelar 30 Agustus 2022.
"Saya katakan juga berkali-kali. Saya belum begitu meyakini konstruksi peristiwa yang dibuat oleh penyidik sekarang,” tuturnya.
Cara Kerja Poligraf atau Lie Detector
Poligraf atau lie detector adalah alat untuk menguji kejujuran seseorang melalui reaksi tubuh. Biasa disebut pula psycho physiological decepticon detection atau pendeteksi kebohongan seseorang melakui gejala psikis yang membangkitkan bentuk reaksi fisiologis atau reaksi tubuh.
Agung Prasetya menjelaskan, Tim Asosiasi Poligraf Indonesia menjelaskan bahwa reaksi tubuh manusia bisa dalam berbagai macam bentuk. Ada reaksi tubuh melalui jantung, napas, dan kelenjar keringat. Ketika berbohong, reaksinya bisa bermacam-macam, bisa degup jantung meningkat, napas berat, atau keluar keringat.
“Ada juga reaksi tubuhnya berupa asam lambungnya naik, atau bisa berupa pupil matanya membesar, atau melalui ketegangan di area otaknya meningkat,” papar Agung melalui Youtube Polri TV.
Namun, lanjut Agung Prasetya, dalam teknik poligraf ini yang dilakukan Puslabfor Bareskrim Polri, membatasi hanya tiga hal. Yakni sensor jantung, kelenjar keringat di ujung jari, dan pernapasan.
Agung pun menjelaskan, Puspabfor Bareskrim Polri memiliki poligraf yang telah diakui Asosiasi Poligraf Amerika Serikat. Poligraf yang dimiliki Puslabfor Bareskrim Polri merupakan produksi Kanada.
“Ini memiliki tingkat akurasi 93 persen. Dan telah memiliki standar ISO,” jelasnya.
Untuk tahapan pemakaian lie detector atau polygraph, dia menjelaskan:
Tahap pertama: terperiksa akan diwawancara dulu oleh pemeriksa untuk memastikan subjek secara jasmani dan rohani, membangun hubungan untuk menyamakan bahasa dan empati, mengetahui latar belakang sosial terperiksa, menjelaskan prinsip kerja alat.
Lebih lanjut, pemeriksa mempelajari terperiksa dan bahasa tubuh terperiksa, menyamakan kedudukan kasus, dan mempersiapkan pertanyaan dalam tes,
Tahan Kedua: Sebelum pemeriksaan poligraf dimulai, pemeriksa akan menanyakan kesediaan terperiksa untuk dipasangi alat poligraf.
Tahap Ketiga: Pemeriksan bisa berlangsung dalam 3-6 jam. Hasil dari poligraf berupa grafik akan dituangan ke dalam form dan dilakukan analisis. Hasil dari uji kebohongan ini dapat dijadikan sebagai pendapat ahli yang dituangkan dalam berita acara pemeriksaan.
“Ini lah salah satu metode scientific crime investigation yang dilakukan Polri untuk mengusut kasus penembakan Birgadir J secara transparan dan profesional,” jelas Agung. (*)
Tag
Berita Terkait
-
Kronologi Lengkap, Motif dan Kesimpulan Kasus Ferdy Sambo Segera Sampai di Tangan Jokowi
-
Dipecat dari Polri, Ternyata AKBP Jerry Raimond Siagian Pernah Jadi Anak Buah Ferdy Sambo di Polda Metro Jaya
-
Bripka Ricky Mengakui, Om Kuat Bertanya ke Brigadir Joshua dan Langsung Lari Saat di Magelang
-
Komnas HAM Sebut Banyak Barang Bukti Dilenyapkan dalam Kasus Ferdy Sambo, Scientific Investigation Penting
-
Sosok AKBP Jerry Raimond Siagian, Dipecat karena Ferdy Sambo, Akpol 2001 asal Medan, Eks Wadirkrimum Polda Metro Jaya
Terpopuler
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
- 3 Rekomendasi Air Cooler 50 Watt yang Dingin Maksimal dan Suaranya Senyap
- 3 Sepatu Running Brodo Terlaris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Durian Musang King dan Black Thorn Jadi Komoditas Baru Andalan Sulsel
Pilihan
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
Terkini
-
Darurat Korupsi! Golkar Desak Evaluasi Total Rekrutmen Kepala Daerah Usai OTT Beruntun
-
Mulut Dimasukkan Sepatu! Viral Pengakuan Manajer Bank Ngaku Disiksa Atasan
-
Sita 74 Kg Emas dan Valas Rp476 Miliar, Kortas Tipidkor Polri Bongkar Brankas Rahasia di Sentul
-
Gebrakan RUU Sisdiknas: Wajib Belajar Kini 13 Tahun, Termasuk 1 Tahun di PAUD
-
Usai Cafe de'CLAN Signature, Polisi Sita 74 Kg Emas dan Ratusan Miliar Hasil TPPU di Sentul City!
-
Geledah Rumah Mewah di Sentul City Bogor, Polisi Diduga Sita Emas Hingga Mata Uang Asing
-
Rumah Mewah di Sentul City Digeledah Polisi Tengah Malam, Diduga Milik Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Rumah Mewah di Sentul City Bogor Digeledah Gabungan Polri
-
Suara.com Audiensi dengan KPID Kaltim, Bahas Masa Depan Industri Media
-
Meluas ke 12 Titik! Polisi Geledah Pacific Place hingga Rumah Mewah di Sentul Terkait Kasus TPPU