Suara Denpasar - RKHUP sudah disahkan menjadi Undang-undang. Kini, KHUP ini pun akan disosialisasikan hingga tahun 2026 nanti dan kemudian baru diberlakukan.
Sejumlah kelompok masih mempersoalkan sejumlah pasal yang ada. Mereka menyebut, KHUP ini masih terdapat sejumlah pasal yang bermasalah.
Seperti tentang kebebasan pers, hak asasi manusia dan hal lainnya. Pemerintah dan DPR menyarankan agar mereka yang tak setuju untuk melakukan judicial review ke Makahmah Konstitusi.
Namun dibalik ini semua, mengapa pemerintah dan DPR seoalah menutup kuping dan memaksakan untuk melakukan pengesahan KUHP ini dilakukan pada periode Presiden Jokowi?
Menteri Hukum dan Ham, Yasonna Laoly pun angkat bicara. Ia mengatakan, rancangan KHUP ini sudah dimulai dari jaman Presiden Soesilo Bambang Yudoyono. Namun gagal.
Di era Joko Widodo juga sempat gagal disahkan, yakni di tahun 2019, namun akhirnya berhasil disahkan di tahun 2022 ini.
Ia menyebut banyak profesor dan doktor hukum yang terlibat dalam pembuatan KUHP ini. Maka dia heran jika ada orang yang mempertanyakan logic dari KUHP ini.
"Padahal dia (orang yang mempertanyakan logic) hanya mengambil satu atau mungkin dua semester hukum pidana dan dia mempertanyakan logicnya, come on!," ujarnya dalam Podcast bersama Deddy Corbuzier.
Yasonna juga menyebut ada sejumlah Profesor yang terlibat dalam pembuatan atau perancang KHUP ini sudah meninggal dunia.
Baca Juga: Susunan Pemain Argentina vs Kroasia dan Link Live Streaming Semifinal Piala Dunia 2022
"Karena saya akan bertanggungjawab, kasian saya kepada orang-orang yang sudah meninggal ini. Capek dia. Seolah-olah logic mereka nggak punya gitu," ujarnya.
Dalam akhir podcast, Deddy Cobuzier mempertanyakan, jika tidak menjabat nanti lagi, Yasonna ingin dikenang sebagai apa?
"Saya bermimpi, saya ikut mengesahkan KUHP ini. Terlepas dengan banyak kritik-kritik tentang Omnibus Law," jawabnya.
Ia mengaku tak peduli jika ia pun dikenal sebagai menteri yang kontroversial, terpenting keluarganya bangga akan dirinya. (*)
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
- Bawa Energi Positif, Ini 7 Warna Cat Tembok yang Mendatangkan Hoki Menurut Feng Shui
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- 6 Sunscreen Moisturizer Terbaik untuk Anti Aging, Kulit Kencang dan Bebas Kerutan
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Pesona Elegan Anggun C Sasmi Bikin Wanda House of Jewels Jadikan 'D Color Lady'
-
Panasonic GOBEL Hadirkan ART with HEART: Pamerkan 70 Karya Seniman Difabel dan Senior
-
Mengapa 9 WNI Ditangkap Militer Israel? Kronologi, Misi, dan Jerat Hukum Internasional
-
Stok Sapi Kurban di Sleman Ternyata Minus 5.381 Ekor, Warga yang Mau Kurban Harus Bagaimana?
-
Menlu Sugiono Geram, Kutuk Tindakan Israel yang Rendahkan Martabat 9 WNI
-
Leony Vitria 'Kuliti' Borok Sampah Tangsel: Anggaran Miliaran, Hasilnya Nol Besar?
-
Puluhan Tas Mewah dan Perhiasan Sandra Dewi yang Laku Terjual di Pelelangan BPA Fair
-
LKPP Akui Sistem Belum User Friendly, Padahal Anggaran Pengadaan Capai Rp1.200 Triliun
-
Berburu Harta Karun Koruptor, Jejouw Gigit Jari Gagal Bawa Pulang Harley Davidson
-
Sedang Tidur Pulas, Gunawan Dihujani 9 Bacokan Celurit di Kontrakan Tomang