- Menkeu Purbaya menyayangkan prinsip ekonomi syariah kurang diterapkan di Indonesia, negara mayoritas Muslim.
- Kunjungan Menkeu ke Jerman 2012 menemukan bank lokal menerapkan prinsip mirip syariah dengan bunga sangat rendah.
- Ekonom Jerman menyatakan negaranya lebih syariah, sistemnya kuat meskipun Indonesia adalah negara Islam terbesar.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyayangkan prinsip ekonomi syariah kurang diperhatikan di Indonesia. Lebih lagi RI menjadi negara yang memiliki penduduk Islam terbanyak di dunia.
Menkeu Purbaya menilai kalau prinsip ekonomi syariah justru malah berhasil diterapkan di Jerman yang sejatinya negara non muslim. Hal ini dia peroleh dari pengalamannya berkunjung ke sana pada 2012 silam.
Kala itu Purbaya ingin mengetahui bagaimana ekonomi diterapkan di Jerman karena dianggapnya hampir menghancurkan mata uang Euro dan bahkan Uni Eropa secara keseluruhan.
"Saya 2012 datang ke jerman, ketemu (Deutsche) Bundesbank, wah orang pintar ada di sana, think thank-nya. Saya pengin pelajari waktu itu, kenapa Jerman sedemikian bodoh sehingga ECB (European Central Bank) tidak bisa bergerak bebas, tidak beli boleh bond di pasar sekunder pun, dan hampir menghancurkan Euro dan EU secara keseluruhan," kenang Purbaya di acara Sharia Ekonomi Forum 2026, dikutip Senin (16/2/2026).
Dalam pertemuannya dengan ekonom Jerman selama lima jam itu, Purbaya disambut dengan stigma bahwa Indonesia kalah syariah dibanding Jerman.
"Pas dia ketemu, yang dia ucapkan ke saya pertama apa? 'Selamat datang di Jerman. amu tahu? Walaupun negara kamu negara Islam terbesar di dunia, negara saya lebih syariah dari negara kamu'," tuturnya.
Dari pengakuan ekonom itu, Purbaya menyebut kalau 80 persen perbankan Jerman dikuasai oleh bank-bank kecil maupun daerah yang prinsipnya mirip seperti ekonomi syariah.
Di sana, lanjut Purbaya, bank Jerman menerapkan bunga 1 persen ke masyarakat. Sedangkan biaya pinjaman hanya 2 persen. Ia juga mempertanyakan kenapa bank Jerman tidak tergoda dengan bunga yang lebih tinggi seperti 4-5 persen.
Ekonom itu menjawab Purbaya bahwa orang Jerman justru lebih tertarik dengan 1 persen. Hal itu membuat sistem perbankan kuat.
Baca Juga: Kabar Gembira! Anggaran THR PNS 2026 Naik Jadi Rp55 Triliun, Cair Mulai Awal Ramadan
"Ini kan prinsip syariah. Pokoknya profitability-nya khusus untuk biaya operasional saja. Enggak untung besar-besaran," lanjutnya.
Purbaya mengaku kalau ekonom Bundesbank itu menerapkan sistem ekonomi syariah karena peristiwa di Indonesia, di mana letusan Gunung Tambora pada tahun 1800-an membuat mereka krisis ekonomi.
Untuk membangkitkan perekonomian, Bendahara Negara bercerita bahwa para pendeta Jerman mengumpulkan harta-harta dari masyarakat sulit yang kemudian dipinjamkan ke pengusaha dengan bunga rendah.
"Saya yakin dia belajar dari Islam, cuma orang Islamnya lupa. Kan ngomongnya tiba-tiba jadi pintar kayak gitu dia. Ya cuma kita enggak pernah ngelakuin dengan benar. Jadi kita sekarang kayaknya berpikiran ekonomi barat yg terbaik," papar dia.
Dari pengalamannya ini, Purbaya menyimpulkan kalau prinsip ekonomi syariah sebenarnya bisa dijalankan juga di Indonesia.
"Kalau Jerman aja yang dianggap negara dengan struktur terkuat, menjalankan prinsip yang sebenarnya syariah, kata ahli bank sentral itu, harusnya kita juga bisa," tegasnya.
Berita Terkait
-
Kabar Gembira! Anggaran THR PNS 2026 Naik Jadi Rp55 Triliun, Cair Mulai Awal Ramadan
-
Purbaya Akui Indonesia Tak Berpihak ke Ekonomi Syariah, Singgung Peran Menteri Agama
-
BI: Ekonomi Syariah Jadi Pilar Strategis Hadapi Ketidakpastian Global
-
Gibran Janji Perkuat Ekosistem Ekonomi Syariah Nasional
-
Kementerian ESDM Beri Izin Perusahaan Israel Garap Proyek Geothermal di Halmahera?
Terpopuler
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- Biar Terlihat Muda Pakai Lipstik Warna Apa? Ini 5 Pilihan Shade yang Cocok
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
- 7 HP Flagship Terkencang Versi AnTuTu Februari 2026, Jagoannya Gamer dan Multitasker
- Kenapa Pajak Kendaraan Jateng Naik, tapi Jogja Tidak? Ini Penjelasannya
Pilihan
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
Terkini
-
Harga Emas Mulai Tekan Para Pengusaha Perhiasan
-
Menteri PU Tekankan Percepatan Rekonstruksi Aceh Usai Bencana
-
Isu Tambang Emas BRMS Disegel, Manajemen Klarifikasi
-
Dasco Ungkap Pengusaha ASEAN Diculik, Indonesia Kini Jadi 'Surga' bagi Investor
-
Lewat BPBL, Kementerian ESDM dan PLN Wujudkan Penyambungan Listrik Gratis bagi 750 Warga Bengkulu
-
Waspada Modus Penipuan Meniru Petugas Pajak, Ini 6 Cirinya!
-
Rupiah Loyo ke Rp16.823 per Dolar AS, Cek Kurs di Mandiri, BNI, BRI, dan BCA
-
BRI Peduli Salurkan Bantuan Sarana Produksi untuk Dukung UMKM Kreatif Sumbar
-
Purbaya Akui Indonesia Tak Berpihak ke Ekonomi Syariah, Singgung Peran Menteri Agama
-
Bahlil Bongkar Borok Produksi Minyak: 22 Ribu Sumur Nganggur!