/
Minggu, 10 September 2023 | 11:01 WIB
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) (instagram AHY)

Suara DenpasarPartai Demokrat yang dipimpin Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY telah mencabut dukungan untuk mendukung Anies Baswedan menjadi calon Presiden.

Kepusan itu setelah Partai Nasdem mendeklarasikan Muhaimin Iskandar atu Cak Imin sebagai calon wakil presiden.

Atas kondisi itu, AHY disebut memiliki peluang lebih tinggi untuk memberikan dukungan ke Prabowo ketimbang bergabung dengan koalisi yang dibangun PDI Perjuangan.

Peluang itu disampaikan oleh Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Siti Zuhro, sebagaimana di lansir dari suara.com

Ia menilai Partai Demokrat memiliki kalkulasi politik untuk menentukan arah dukungan di Pilpres 2024 mendatang.

Hanya saja lanjut dia,Demokrat lebih masuk akal jika bergabung dalam Koalisi Indonesia Maju  mendukung Prabowo Subianto sebagai calon presiden

"Dari perspektif publik, opsi bergabung dengan Partai Gerindra yang oke dan masuk akal,” kata Siti Zuhro di Jakarta dikutip Minggu (10/9/2023).

Menurutnya, dari dua opsi yang ada yakni mendukung Ganjar Pranowo atau Prabowo Subianto, Demokrat sudah memiliki kalkulasi politik dengan poros mana yang menguntungkan partai tersebut.

Ada faktor yang menentukan partai menentukan koalisinya. Ia menilai, keputusan parpol untuk berkoalisi, biasanya dilakukan ketika chemistry antara ketua umum masing-masing partai terhubung.

Baca Juga: PSIS Semarang Seret Oknum Suporter ke Jalur Hukum, Panser Biru: Blacklist Seumur Hidup!

“Akan sulit dibayangkan koalisi bisa dibangun bila hubungan antara ketua umum tidak baik,” ujarnya.

Sementara itu, soal kans Demokrat merapat ke PDIP, kata dia, hal itu bisa saja terjadi.

Namun, menurutnya, pasti membutuhkan proses untuk melakukan komunikasi politik dan berbagai penyesuaian sehingga relasi kedua parpol itu membaik.

Ia pun menjelaskan, kondisinya akan berbeda apabila Demokrat merapat ke Gerindra, karena tidak terlalu memerlukan waktu yang lama dalam melakukan komunikasi politik dan penyesuaian.

Hal itu, kata dia, disebabkan komunikasi politik Demokrat dan Gerindra yang sudah terjalin dan pengalaman kedua partai yang pernah berkoalisi di pemilu yang lalu. (*)

Load More