Depok.suara.com - Guru Gembul seorang tenaga pengajar yang double profesi sebagai Youtuber, menyinggung sistem pendidikan di Indonesia.
Menurutnya sistem pendidikan sekolah-sekolah di Indonesia, memiliki banyak kekurangan. Diantaranya penyamarataan minat dan bakat siswa.
Bagaimana jadinya jika Leo Messi terlahir dan sekolah di Indonesia, apakah dirinya akan menjadi pemain bola terbaik.
Dilansir dari video viral TikTok akun @_ikshan_13 (13/5/2023), Guru Gembul membicarakan salah satu sistem pendidikan Indonesia yang berdampak buruk bagi masa depan anak.
Masa depan anak sangat bergantung akan kelebihan dan kemampuan mereka, sebagai salah satu anugrah dari Tuhan. Biasa kita sebut bakat alamiah.
Sistem pendidikan memaksa anak-anak untuk belajar sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Mereka harus mengikuti rancangan pembelajaran, suka ataupun tidak suka. Sehingga itu semua hanya akan manjadikan anak semakin bodoh.
Bodoh karena apa, Karena dia dijauhkan dari bakat alamiahnya, dia dijauhkan dari takdir yang diajukan Tuhan. Bukan berarti melanggar takdir.
"Sekolah-sekolah itu mengajarkan duduk dengan diam, untuk pelajaran-pelajaran yang tidak berguna di masa depan."
"Jadi kalau misalkan ada anak di Indonesia atau misalkan kita, bikin sedikit imajinasi Messi lahir di Indonesia."
"Dia bakat luar biasa di bidang bola, kemudian karena dia dibesarkan di Indonesia, pas dia lagi latihan bola dimarahin, di jewer dibawa pulang sama Mamanya."
"Nanti kamu harus belajar matematika dulu, main bola lagi, ditarik lagi kamu harus belajar bahasa Indonesia dulu dan sebagainya."
Akhirnya apa, matematika, bahasa Indonesia karena dia tidak berbakat di situ dan dia tidak berminat di situ, dia tidak akan terlalu menguasainya.
Dan main bola bakat yang sudah jadi bakat alaminya, tidak akan terasa menggairahkan lagi, karena sejak awal tidak ada latihan lagi.
"Akhirnya apa? Di masa depan dia tidak akan jadi apa-apa, dan orang tuanya akan memberikan penghiburan kepadanya 'nak nanti kalau lulus ini, lulus ini nanti kamu jadi PNS'."
Sistem pendidikan seperti ini malah menghancurkan masa depan si anak yang sebenarnya unik dan spesifik. Setiap anak itu harus dibesarkan sesuai dengan minatnya, sesuai dengan kebahagiaannya.
Karena itulah dia akan mencapai sesuatu puncak di masa depan. Tapi itu tidak akan terjadi, karena mereka yang begitu sangat berbeda, harus dibatasi dalam sebuah kelas pengajaran.
Kemudian nilai yang mereka dapat distandirasikan, oleh namanya Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Dan hal itu melanggar hak asasi manusia, dan masih terjadi.***
Berita Terkait
-
Jenita Janet Mantap Berhijab, Meskipun Harus Berpisah Dengan Wig Warna-warni: Engga Ngerasa Jadi Aneh Lagi Karena Pakai Wig
-
Mancing-Mancing Ya! Inara Rusli Nyari Baju Dinas, Netizen: Demi Keselamatan Kalian Biarkan Saya Maju Duluan
-
Masih Bekelin Anak Mie Instan dan Nasi Putih? Kalian Paham Gizi dan Pertumbuhan Gak Sih, Arie Kriting: Pasti Anak Orang Kaya!
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Kasus Hafalan Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Sound Project Dilimpahkan ke Polda Metro Jaya
-
Pelaku Pemerkosaan dan Pembunuhan di Tangerang Beraksi Saat Mabuk, Pintu Rumah Korban Tak Terkunci
-
Donald Trump Ingin 3 Periode, Bakal Tabrak Konstitusi AS?
-
Tak Ditemukan Tanda Kekerasan, Penyebab Kematian Sutrimo Masih Misteri
-
Bencana Karhutla Bukan Soal Tak Mampu, Masalahnya Ada di Komitmen
-
Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
-
Korban Tolak RJ, Sidang Kasus Pengeroyokan Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Berlanjut
-
Telok Abang Palembang Bukan Sekadar Tradisi Agustus, Kini Jadi Ikon Budaya Kota
-
Terungkap, Trik Warga Israel Bisa Lolos Masuk Bali Meski Tak Ada Hubungan Diplomatik
-
Insanul Fahmi Terpuruk dan Jualan Sayur, Wardatina Mawa: Tapi Semua Sudah Terlambat