/
Selasa, 26 September 2023 | 13:50 WIB
Arseto Solo klub milik anak Soeharto yang pernah menjadi semifinalis Liga Champions Asia (Wikipedia)

Depok.suara.com - Mantan Presiden Republik Indonesia, Soeharto memang dikenal tak menyukai olahraga sepakbola seperti Soekarno. Namun siapa sangka jika salah satu anggota Keluarga Cendana pernah memiliki klub sepakbola.

Tak banyak yang tahu, jika keluaraga Soeharto pernah memiliki klub sepakbola semi-profesional di kompetisi Galatama.

Tentu banyak publik sepakbola tanah air yang tidak tahu bahwa cikal bakal kompetisi sepakbola profesional hadir di era kepemimpinan Soeharto sebagai Presiden Republik Indonesia.

Sebelum memasuki era profesional, Liga Indonesia memiliki kompetisi yang sama besarnya yakni Perserikatan untuk level amatir dan Liga Sepakbola Utama alias Galatama di level semi-profesional.

Kompetisi Galatama tentunya berbeda dengan perserikatan, karena banyak diikuti banyak klub-klub perusahaan yang tidak dibiayai oleh APBD.

Klub-klub sepakbola Galatama berjuang untuk mendapatkan sisi komersial untuk menghidupi klub mereka dan hal inilah disebut kompetisi profesional pertama di Indonesia.

Tentu saja hal tersebut berbeda dengan Perserikatan klub-klub legendaris seperti Persija, Persib, Persebaya hingga PSMS Medan.

Melansir dari Surat Kabar Merdeka yang dikutip dari Hops.ID pada Selasa (26/9/2023), perserikatan merupakan kompetisi amatir yang manajemennya banyak dipegang oleh orang Pemerintah Daerah/Kota.

Karena mewakili daerah, tak heran jika Perserikatan lebih bergengsi dan digandrungi oleh pecinta sepakbola Indonesia.

Baca Juga: Polisi Bakal Periksa Mayang dan Lolly Unyu Buntut Aksi Tertawakan Upacara Bendera

Ketika Galatama begulir, Soeharto secara tidak langsung membangun industri sepakbola meski melalui putranya.

Ya, putra Soeharto yang berperan aktif di dunia sepakbola adalah Sigit Hardjojudanto, yang merupakan pengusaha dan pemilik perusahaan Arseto Group.

Bisnis Arseto sendiri berada di bidang perkebunan, pertambangan, kimia, hotel dan penerbangan.

Saat Galatama masih bergulir, Sigit pun memutuskan untuk membuat klub sepakbola Arseto yang awalnya berbasis di Jakarta pada 1978 lalu.

Namun, karena di Jakarta sudah banyak klub Galatama, seperti Jayakarta, Pelita Jaya, UMS 80. Akhirnya Arseto dipindahkan ke Solo dan berubah nama menjadi Arseto Solo.

Ketenaran Sigit sebagai putra Presiden Soeharto membuatnya ditunjuk sebagai Ketua Haran Liga Sepakbola Utama.

Memiliki jabatan yang berkualitas, pengaruh Sigit di PSSI semakin menguat usai menjadi Kepala Proyek PSSI Garuda dan menjadi Ketua I PSSI.

Meskipun Arseto didirikan di Jakarta, namun klub tersebut sangat dirindukan oleh masyarakat Kota Solo terutama yang hidup di era Galatama.

Ketenaran Arseto saat itu juga menggusur nama besar Persis Solo yang merupakan klub legendaris di Indonesia.

Hal tersebut tentunya tak terlepas dari prestasi Arseto yang cukup mentereng, mulai dari menjuarai Piala Liga 1 tahun 1985.

Dua tahun kemudian, Arseto Solo tampil sebagai juara Invitasi Perserikatan-Galatama dan mewakili Indonesia di ajang Liga Champions Asia.

Klub tersebut sukses mencatatkan sejarah dengan keberhasilannya melaju ke babak semifinal Liga Champions Asia.

Meski dikenal tak menyukai olahraga sepakbola, namun nyatanya keluarga Soeharto memiliki peran penting bagi perkembangan sepakbola Indonesia.

Hal ini terlihat dalam sambutan Soeharto sebagai presiden Indonesia dalam sebuah majalah sepakbola yang diterbitkan PSSI pada 1975.

Dalam sambutannya itu, ia menantang PSSI untuk membentuk tim yang kuat karena dengan 130 juta penduduk Indonesia saat itu, tentunya tak sedikit muncul bibit pemain berkualitas.

Selain itu, Soeharto juga menghadiri peringatan ulang tahun PSSI pada tahun 1990. Dalam sambutannya Soeharto menegaskan bahwa PSSI tak hanya menjadi organisasi olahraga saja, tapi juga bisa menekankan prestasi dengan mendukung program pemerintah. (*)

Load More