Entertainment / Film
Selasa, 11 November 2014 | 04:55 WIB
Film Senyap (The Look of Silence) karya Joshua Oppenheimer. (Youtube/Calengklik)

Suara.com - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) kembali mengajak masyarakat Indonesia untuk mengingat kembali sejarah pembantaian yang begitu keji kepada jutaan anggota PKI pada 1965 silam. Kali ini melalui karya seni berupa film.

Setelah sebelumnya, masyarakat Indonesia dibuat terbelalak dengan film dokumenter berjudul "Jagal" yang memperlihatkan aksi pembantaian korban 1965, sekuel kedua berjudul "Senyap" atau (The Look of Silence) resmi ditayangkan secara perdana pada Senin (10/11) di Graha Bakhti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Film karya Joshua Oppenheimer ini ingin menunjukkan bagaimana para korban dan pelaku pembantaian peristiwa 49 tahun lalu ini masih hidup penuh kebencian meski berdampingan. Mengambil latar di daerah Deli Serdang, Sumatera Utara, sebagai lokasi nyata pembantaian anggota PKI 1965, Joshua turut menjadikan adik korban pembantaian sebagai karakter utama dari film berdurasi 98 menit ini. 

Berbeda dengan film Jagal yang mengambil perspektif para pelaku pembantaian tersebut, film Senyap mengambil perspektif dari keluarga korban. Film ini bercerita mengenai keluarga Adi Rukun yang mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana kakaknya dibunuh dan siapa yang membunuhnya.

Sebagai adik bungsu, Adi bertekad untuk memecah belenggu kesenyapan dan ketakutan yang menyelimuti kehidupan para korban, dan kemudian mendatangi mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan kakaknya.

Dalam konferensi pers yang diadakan sebelum pemutaran film berlangsung, Joshua yang saat ini sedang berada di Denmark, dihadirkan melalui sambungan Skype. Lelaki berusia 40 tahun ini menyampaikan apresiasinya kepada semua pihak yang membantu terlaksananya pemutaran perdana film Senyap. Melalui film ini, Joshua berharap pemerintahan Indonesia yang baru untuk membentuk rekonsiliasi baru dan pembenaran kepada publik.

"Melalui film ini saya berharap apa yang diupayakan oleh Adi dan keluarga korban lainnya bisa meretas kebisuan yang telah diciptakan rezim orde baru selama puluhan tahun sejak tragedi 1965 silam. Meski telah berlalu, tapi luka itu masih ada dan kami harap ada pengakuan maaf dari pemerintah kepada para korban," ujarnya.

Pascapemutaran film ini, penonton yang hadir dikejutkan dengan hadirnya sosok Adi Rukun, tokoh utama dalam film tersebut. Adi dengan segala konsekuensinya menjadi tokoh utama, ingin menunjukkan kepada masyarakat tentang apa yang sesungguhnya terjadi pada 1965.

"Para pembunuh (orang-orang yang dituduh PKI) bilang, itu bagian dari masa lalu. Yang berlalu biarlah berlalu. Akan tetapi stigma masih ada. Anak-anak masih mendapatkan pendidikan stigma negatif terhadap para korban," papar Adi.

"Pelaku menganggap tragedi keji itu sebagai masa lalu, padahal bagi kami, para keluarga korban tidak mudah menganggapnya demikian. Stigma negatif kepada kami para keluarga anggota PKI masih ada. Saya tak ingin anak-anak saya dan generasi selanjutnya masih mendapatkan stigma negatif terhadap para korban melalui pendidikan sejarah yang keliru," tuturnya.

Sementara itu, Muhammad Nurkhoiron selaku komisioner Komnas HAM berharap presiden Jokowi sebagai kepala pemerintahan yang baru bisa mengungkap kebenaran dan memberikan pernyataan terkait dengan komitmen penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu.

"Kita berharap bisa mengundang Pak Jokowi untuk menonton film ini bersama-sama dan atas nama bangsa Indonesia meminta maaf kepada para korban tragedi 1965 ini," katanya.

Tag

Load More