Suara.com - Kepribadian Jessica Wongso terpidana kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin pada 2016 lalu menjadi sorotan usai dirilisnya podcast Deddy Corbuzier yang menghadirkan Edward Omar Sharif Hiariej atau Prof Eddy sebagai narasumber.
Dalam kasus kopi sianida, Prof Eddy merupakan salah satu saksi ahli yang memberatkan Jessica Wongso.
Lelaki yang kini menjabat sebagai Wakil Menteri Hukum itu menyampaikan tentang hasil profiling Jessica yaitu proses pengumpulan informasi dan data tentang seseorang dengan tujuan untuk memahami karakteristik, kepribadian, preferensi, perilaku, hingga kecenderungan mereka.
Menurutnya, hasil profiling membuat tim Jaksa Penuntut Umum semakin yakin bahwa Jessica Wongso adalah pelaku, selain bukti-bukti yang berhasil mereka kumpulkan selama penyelidikan.
Lantas apa saja temuan fakta kepribadian Jessica Wongso dari profiling yang dilakukan? Berikut ulasannya.
1. Terlibat 14 Kasus Kriminal di Australia
Diungkapkan oleh Prof Eddy, Jessica Wongso terlibat 14 kasus kriminal di Australia. Fakta ini sebelumnya telah dibeberkan oleh anggota kepolisian negara bagian New South Wales, Australia, John Torres.
Salah satu kasus yang melibatkan Jessica antara lain mengendarai mobil dalam pengaruh alkohol. Kasus-kasus lainnya berhubungan dengan mantan kekasihnya yang bernama Patrick O'Connor, di mana Jessica dilaporkan sering mengancamnya.
2. Kecenderungan untuk Bunuh Diri
Baca Juga: Satu Keinginan Jessica Wongso usai Bebas dari Penjara: Kita Harus Ketemu!
Beberapa kasus kriminal yang melibatkan Jessica Wongso di Australia adalah ancaman untuk melakukan bunuh diri. Hal tersebut dilaporkan oleh Patrick O'Connor.
Dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang disebutkan oleh Deddy Corbuzier di podcast, Jessica Wongso pernah melakukan percobaan bunuh diri sampai empat kali menggunakan racun.
3. Ancam Membunuh Bosnya
Masih berhubungan dengan racun, Jessica Wongso disebutkan pernah mengancam untuk membunuh bosnya. Jessica menyampaikannya pada Kristie, temannya di Australia.
"(Jessica bilang), 'Saya tahu itu cara yang tepat untuk membunuh dan sebagainya.' Karena itu tadi, berdasarkan digital forensik, dia memang sudah men-search bagaimana sianida itu dan dia sudah menonton film, jadi dia sudah paham sebetulnya," kata Prof Eddy.
4. Keingintahuan yang Tak Wajar Tentang Sianida
Prof Eddy juga mengungkapkan hasil digital forensik dari laptop Jessica Wongso yang disita. Ditemukan riwayat pencarian tentang sianida, racun yang diduga kuat menjadi penyebab kematian Mirna, serta film yang sempat ditonton oleh Jessica.
"Pada tahun 2015, dia menonton film The Hateful Eight. Film itu menceritakan tentang 8 koboi, di mana satu koboi, dia membunuh tujuh temannya dengan menggunakan sianida yang dia masukkan ke dalam kopi. Itu sempat di-profiling," ujar Prof Eddy.
5. Menangis saat Berhadapan dengan Ronny Nitibaskara
Prof Eddy menceritakan perilaku Jessica Wongso saat fisiognomi (ahli membaca gestur) Profesor Ronny Nitibaskara dihadirkan sebagai saksi di persidangan. Jessica yang sebelumnya selalu tenang, langsung menangis.
"Selama persidangan, Jessica itu tenang, dia senyum-senyum. Tapi coba perhatikan, coba lihat baik-baik, ketika Profesor Ronny Nitibaskara memberikan kesaksian, Jessica kan nangis, dan itu sempat diprotes oleh kuasa hukum," ungkapnya.
6. Tidak Mempan Lie Detector
Prof Eddy menjelaskan kondisi psikologis Jessica Wongso berdasarkan keterangan Profesor Ronny Nitibaskara dan dokter Nathalie selaku psikiater. Dia menyebutkan tentang skala psikologis manusia yang berada di level 1 sampai 20.
"Jessica ini berada di skala 19 atau berapa ya, jadi hampir mendekati sempurna. Ini yang kemudian disimpulkan oleh profesor Ronny, bahwa orang seperti ini, dideteksi dengan lie detector secanggih apapun, tidak akan terbukti," ujarnya.
Oleh karena itu, Polri tidak pernah menggunakan lie detector pada Jessica Wongso.
Kontributor : Chusnul Chotimah
Berita Terkait
-
Minta RUU Pidana Mati Segera Dibahas DPR, Wamenkum Usul Metode Suntik dan Kursi Listrik
-
Wamenkum: Penyadapan Belum Bisa Dilakukan Meski Diatur dalam KUHAP Nasional
-
Hindari Overkapasitas Lapas, KUHP Nasional Tak Lagi Berorientasi pada Pidana Penjara
-
Wamenkumham Bongkar Aturan: Polisi Tak Bisa Asal Jerat Demonstran, Ini Satu-satunya Celah Hukum
-
Pemerintah-DPR Sepakat Pertegas Pencabutan Hak Profesi bagi 'Residivis' di RUU Penyesuaian Pidana
Terpopuler
- Bukan Hanya Siswa, Guru pun Terkena Aturan Baru Penggunaan Ponsel di Sekolah Sulbar
- 7 HP 5G Termurah 2026 Rp1 Jutaan, Tawarkan Chip Kencang dan Memori Lega
- 5 HP dengan Kamera Leica Termurah, Kualitas Flagship Harga Ramah di Kantong
- Ganjil Genap Jakarta Resmi Ditiadakan Mulai Hari Ini, Simak Aturannya
- 16 Februari 2026 Bank Libur atau Tidak? Ini Jadwal Operasional BCA hingga BRI
Pilihan
-
Resmi! Kemenag Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh Pada Kamis 19 Februari 2026
-
Hilal Tidak Terlihat di Makassar, Posisi Bulan Masih di Bawah Ufuk
-
Detik-detik Warga Bersih-bersih Rumah Kosong di Brebes, Berujung Temuan Mayat dalam Koper
-
Persib Bandung Bakal Boyong Ronald Koeman Jr, Berani Bayar Berapa?
-
Modus Tugas Kursus Terapis, Oknum Presenter TV Diduga Lecehkan Seorang Pria
Terkini
-
Hormati Mendiang Ayah, Sarwendah Rayakan Imlek tanpa Angpao dan Baju Merah
-
Sikap Gelisah Nia Ramadhani saat Makan Kenapa? Gerak-geriknya Jadi Tebak-tebakan
-
Kematian Tragis Kurt Cobain, Pukulan Telak Grunge dan Misteri Bunuh Diri atau Dibunuh
-
Lamar Claudia Andhara, Momen Riza Syah Salaman dan Cium Tangan Calon Ibu Mertua Kena Julid
-
Setelah Inara Rusli, Giliran Insanul Fahmi Ngadu ke Komnas PA: Belum Bertemu Anak 4 Bulan
-
Sinopsis 5 Film Indonesia di Puncak Netflix per Hari Ini
-
KNetz vs SEAblings Masih Panas, Kini Pemain Film Lara Ati Jadi Korban
-
Sinopsis Heartbreak High Season 3, Musim Penutup Penuh Skandal di SMA Hartley
-
Ini Video Lengkap Aurel Hermansyah Disebut Diabaikan Gen Halilintar
-
Sinopsis Salmokji, Kim Hye Yoon Terjebak Teror Mengerikan di Waduk Terpencil