Entertainment / Film
Selasa, 27 Januari 2026 | 19:15 WIB
Petikan trailer film Film Teman Tegar Maira: Whisper from Papua [Youtube]
Baca 10 detik
  • Film Teman Tegar Maira: Whisper from Papua akan tayang 5 Februari 2026, membawa pesan tentang inklusivitas dan pelestarian hutan Papua.

  • Cerita berkembang dari impian sederhana Tegar melihat Cendrawasih menjadi misi penyelamatan hutan adat bersama sahabat barunya, Maira.

  •  Proses syuting dilakukan di pedalaman Kaimana dengan melibatkan 70 persen kru lokal, menghadapi tantangan minim sinyal hingga adegan berenang bersama Hiu Paus.

Untuk menghidupkan karakter Maira, tim produksi melakukan pencarian bakat langsung di Kaimana, Papua Barat.

Anggi tidak mencari aktor profesional, melainkan local talent yang memiliki jiwa kepemimpinan alami. Pilihan itu jatuh pada Elisabeth Sisauta, gadis asli Kampung Lobo.

"Saya melihat ada satu hal yang unik dari Maira (Elisabeth). Saya suka sorot matanya, saya suka bagaimana dia jadi leader. Saya suka bagaimana dia berproses dan bertumbuh sebagai anak perempuan di sana yang punya kemandirian," beber Anggi mengenang proses casting.

Elis kemudian menjalani pelatihan intensif selama tiga bulan untuk mendalami seni peran.

Elisabeth sendiri mengaku sempat tidak percaya diri saat terpilih.

"Awalnya tuh Teteh (Anggi) sama kru dari Jakarta cari anak-anak kecil buat audisi, nyanyi-nyanyi bareng. Saya ikut tapi malu-malu, mulut kaku banget. Pas dibilang jadi pemeran utama, saya sempat ragu, 'Bisakah tidak ya saya memerankan Maira?'. Tapi Puji Tuhan, saya bisa memerankan sampai selesai," cerita Elisabeth dengan logat Papua yang khas.

Dinamika "Tom and Jerry" di Balik Layar

Meskipun di depan kamera Tegar dan Maira terlihat sebagai sahabat yang saling melengkapi, kenyataan di balik layar pada awal produksi justru sebaliknya.

Aldifi dan Elisabeth mengaku sempat kesulitan membangun chemistry, bahkan sering terlibat perselisihan kecil layaknya "kucing dan tikus".

Baca Juga: Spider-Man (2002): Mahakarya Sam Raimi yang Mengubah Wajah Sinema Superhero, Malam Ini di Trans TV

"Sebenarnya kalau kita berdua bergabung tuh, di sana ya... susah. Kayak kucing sama tikus. Jadi pokoknya kayak tidak bisa bersatu. Nanti persahabatan itu cuma di depan kamera, tapi di belakang itu musuhan," ungkap Elisabeth sembari tertawa, yang langsung diamini oleh Aldifi dengan sebutan "Tom and Jerry".

Anggi Frisca menyadari kompetisi diam-diam antara kedua aktor cilik ini bisa menghambat produksi. Dia pun turun tangan untuk menengahi.

"Awalnya yang satu pengin main bagus banget, yang satu merasa tersaingi. Sampai akhirnya kita meeting, saya ajak diskusi bahwa kalian tidak sedang berkompetisi, kalian sahabat. Goal-nya bukan tentang ego, tapi menyelaraskan permainan," kata Anggi.

Momen perdamaian itu terjadi di dapur, di mana Joan Wakum juga turut serta mendamaikan mereka.

"Kata Teteh kalau bermusuh-musuhan itu enggak baik. Jadi kita harus akur. Tiba-tiba jadi akur aja setelah diskusi itu," tambah Aldifi tersenyum.

Tantangan Produksi: Minim Sinyal hingga Nyuci di Sungai

Syuting di pedalaman Papua, khususnya di wilayah Kaimana dan Kampung Lobo, memberikan tantangan logistik yang luar biasa bagi Aksa Bumi Langit.

Joan Wakum menceritakan betapa sulitnya komunikasi karena ketiadaan sinyal seluler, yang seringkali menyebabkan miskomunikasi jadwal syuting.

"Di sana tidak ada sinyal. Es Teh Manis adalah surga pada saat itu," canda Joan menggambarkan betapa sederhananya kebahagiaan kru di tengah keterbatasan.

Namun, keterbatasan itulah yang justru mempererat rasa kekeluargaan antara kru Jakarta dan masyarakat lokal. Produksi film ini melibatkan sekitar 70 persen kru dan pemain lokal. Anggi menceritakan situasi unik di mana fasilitas mewah ala syuting di kota besar tidak berlaku di sini.

"Bayangkan dengan kru 100 orang, mobilnya cuma tiga. Di sana memang tidak ada kendaraan. Beberapa kendaraan mati harus kita hidupkan dulu. Tim laundry juga kita bawa mesin cuci dari kota, tapi kalau cucian numpuk, kita nyuci ramai-ramai di sungai. Divisi musik, divisi lain, semua turun tangan," kenang Anggi.

Berenang Bersama Hiu Paus

Salah satu adegan yang paling dinantikan dalam Teman Tegar Maira adalah interaksi para pemain dengan alam bawah laut Papua.

Aldifi, yang memerankan Tegar, mendapatkan pengalaman tak terlupakan berenang bersama Hiu Paus (Whale Shark).

"Yang kedua ini lebih seru karena ada adegan Tegar berenang sama Hiu Paus. Itu pengalaman pertama Tegar juga," ujar Aldifi antusias.

Elisabeth pun merasa bangga melihat rekannya bisa menaklukkan rasa takut tersebut, sekaligus bangga sebagai anak Papua yang bisa menunjukkan keindahan alamnya.

"Itu pengalaman luar biasa. Jarang sekali lihat anak kecil mandi sama Hiu Paus. Bapak saya penyelam, suka antar tamu lihat Hiu Paus, tapi saya sendiri anaknya belum pernah. Jadi pas bisa berenang, Bapak bangga banget," tutur Elisabeth.

Pesan untuk Penonton: Kita Jaga Hutan, Hutan Jaga Kita

Menutup sesi wawancara, Anggi Frisca menekankan bahwa Teman Tegar Maira bukan sekadar tontonan hiburan.

Film ini adalah media meditasi untuk menghubungkan kembali manusia dengan alam. Musik dan narasi yang kuat menjadi elemen spiritual yang diharapkan sampai ke hati penonton.

"Cerita ini memang petualangan, tapi sebuah perjalanan harusnya bisa menghubungkan manusia dengan alam. Di titik itu area spiritual bermain," imbuh Anggi.

Para pemain berharap film ini memberikan pengalaman sinematik yang berbeda dan menanamkan kesadaran lingkungan.

"Satu kata buat film ini: Terbaik. Keren. Fauru," ucap Elisabeth dan Aldifi bersahutan.

Jangan lewatkan petualangan Tegar dan Maira dalam menjaga hutan adat mereka. Teman Tegar Maira: Whisper from Papua siap menyapa penonton mulai 5 Februari 2026.

Load More