- Sebanyak 16 kelas di SMPN 3 Depok tidak memiliki meja dan kursi meskipun gedung baru saja direnovasi dengan biaya Rp28 miliar.
- Siswa terpaksa belajar di lantai atau membawa meja lipat sendiri dari rumah jika ingin tetap masuk sekolah pada jadwal pagi.
- Pihak sekolah meminta bantuan Wali Kota Depok untuk segera mengadakan fasilitas mebel agar kegiatan belajar mengajar kembali normal.
Suara.com - Suasana belajar di SMP Negeri 3 Depok kini tengah menjadi sorotan publik karena kondisi ruang belajar yang berbeda dari sekolah pada umumnya.
Sejumlah murid harus membawa meja lipat sendiri dari rumah masing-masing. Di ruang kelas mereka tak terdapat kursi maupun meja belajar.
Pemandangan tak umum ini viral di media sosial. Mereka yang terlihat pulang sekolah, tampak menggotong meja dan menaiki motor.
Ironisnya, ketiadaan fasilitas ini terjadi setelah gedung sekolah direnovasi dengan biaya fantastis, Rp28 miliar.
Tercatat, hanya 17 dari 33 kelas yang hanya mendapat bangku dan meja. Sementara itu 16 kelas kosong tanpa fasilitas.
Alhasil, 16 kelas lainnya terpaksa merelakan diri belajar secara lesehan. Bagi mereka yang mendapat kelas tersebut harus membawa meja lipat milik pribadi.
Saat dimintai keterangan oleh reporter yang ada di dalam video, salah seorang siswa pasrah melihat kondisi ruang kelasnya.
Terkait polemik ini, Kepala Sekolah SMPN 3 Depok, Ety Kuswandarini, memberikan penjelasan mengenai kebijakan serta kendala yang dihadapi.
Ety menjelaskan, keputusan membawa meja lipat adalah pilihan bagi orangtua yang ingin anaknya tetap mengikuti jadwal sekolah di waktu pagi hari.
Baca Juga: Akhirnya Diperbaiki, 'Jebakan Batman' Jalan Juanda Depok yang Bikin Celaka Pengendara
"Semua adalah keinginan dari orangtua dan anak. Kalau di siang hari, mangga (silahkan), ada meja dan kursi. Tapi siang. Gantian dengan kelas yang masuk pagi," ungkap Ety.
Hingga saat ini, pihak sekolah masih terus menunggu adanya pengadaan fasilitas dari Pemerintah Kota Depok agar proses belajar mengajar bisa kembali berjalan dengan normal.
"Ya mohon dibantu lewat Bapak Wali Kota untuk mendorong pengadaan meja dan kursi siswa SMP Negeri 3 Depok," ucap Ety Kuswandarini.
Berita Terkait
-
Media Internasional Sorot Orang Indonesia Jual Bayi ke Singapura
-
Diteror Tetangga Bertahun-tahun, Ibu Suraji Trauma hingga Takut Keluar Rumah
-
Berkaca dari Kasus Viral di Depok, Punya Tetangga Baik adalah Privilege
-
Bukan Granat Aktif! Benda di Drone Teror Advokat Depok Hanya Replika
-
Pemkot Depok Usul Lima Rute Baru Transjabodetabek
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan