Entertainment / Gosip
Minggu, 22 Februari 2026 | 16:05 WIB
Dwi Sasetyaningtyas alumni LPDP terciduk pamer fasilitas Negara. (threads)
Baca 10 detik
  • Rekam jejak digital Dwi Sasetyaningtyas kembali viral karena membandingkan perlakuan mertua dan ayah kandungnya.
  • Ia menceritakan difasilitasi mewah oleh mertua di Sumba, namun dilarang makan sushi oleh ayahnya di Surabaya.
  • Tyas mengaku harus ke psikolog untuk memaafkan ayahnya atas kejadian tersebut yang menjadi kenangan terakhirnya.

Suara.com - Belum reda terpaan kritik terkait pernyataannya yang enggan sang anak menjadi Warga Negara Indonesia (WNI), rekam jejak digital Dwi Sasetyaningtyas kini "dikuliti" habis oleh netizen. 

Kali ini, perhatian publik tertuju pada unggahan lama sang alumnus beasiswa negara tersebut yang membandingkan perlakuan ayah mertua dengan ayah kandungnya sendiri.

Curhatan Dwi Sasetyaningtyas di media sosial miliknya tersebut kembali viral setelah dibagikan ulang oleh akun X @hanif_ai pada Sabtu, 21 Februari 2026. 

Dalam unggahan tersebut, perempuan yang akrab disapa Tyas ini menceritakan pengalamannya saat hamil anak pertama di tengah masa studi S2 di Belanda.

Fasilitas Ajudan vs Dilarang Makan Sushi

Cerita bermula saat Tyas harus kembali ke Indonesia untuk mengerjakan tesis di Pulau Sumba beberapa tahun lalu. Dia menceritakan betapa dirinya dimanjakan oleh sang ayah mertua. 

"Sepanjang di Sumba aku ditemenin sama Papa Mertuaku, dijagain, diurusin, dikasih mobil-supir-hotel, sampe dikasih ajudan buat jagain aku," tulisnya membanggakan sang mertua.

Kontras dengan fasilitas mewah di Sumba, konflik batin muncul saat dia mampir ke Surabaya untuk mengunjungi orang tua kandungnya. 

Tyas yang saat itu tengah hamil empat bulan mengaku sangat ingin makan sushi karena harga makanan tersebut di Belanda sangat mahal. Namun, keinginan itu ditolak mentah-mentah oleh ayah kandungnya.

"Susha sushi terosss, panganan mentah ngono ae lapo seh dituku, larang pisan, gak usah!" (Sushi terus, makanan mentah gitu aja kenapa sih dibeli, mahal sekali, tidak usah!), tulis Tyas menirukan teguran sang ayah dalam bahasa Jawa.

Baca Juga: Nyawa Siswa MTs Melayang, Dihantam Helm Oknum Brimob di Maluku

Alih-alih menyantap sushi di restoran nyaman, Tyas mengaku dipaksa makan di warung ikan bakar lesehan tanpa pendingin ruangan (AC) di tengah cuaca Surabaya yang terik. 

"Aku dimarahin dan cuma bisa nunduk di dalam mobil... Sekali lagi, Aku datang dari Belanda, lagi hamil anak pertama empat bulan," keluhnya dalam tulisan tersebut.

Sulit Memaafkan Hingga ke Psikolog

Poin yang paling memancing reaksi keras netizen adalah pengakuannya mengenai dampak psikologis dari kejadian tersebut. 

Tyas menyebutkan bahwa momen dilarang makan sushi itu menjadi kenangan terakhirnya bersama sang ayah yang meninggal dunia satu bulan kemudian, saat dirinya sudah kembali ke Belanda.

Meski sang ayah telah tiada, Tyas mengaku masih menyimpan luka batin yang mendalam terkait insiden tersebut. Dia bahkan mengeklaim harus berkonsultasi dengan profesional untuk mengatasi rasa kecewanya.

"Sampe sekarang aku bolak balik ke psikolog CUMA BUAT MEMAAFKAN perilaku bapakku," tegasnya dalam unggahan tersebut.

Unggahan ini pun dibanjiri komentar pedas dari warganet. Banyak yang menilai Tyas sebagai sosok yang kurang bersyukur dan memiliki sindrom "pick me". 

Warganet menganggap permintaannya untuk memaafkan perilaku sang ayah hanya karena urusan makanan adalah hal yang berlebihan, apalagi mengingat status sang ayah yang sudah meninggal dunia.

"Kirain menderita banget jadi WNI. Ternyata hanya orang yang nggak bersyukur aja," tulis akun @hanif_ai dalam takarir unggahannya yang telah dilihat lebih dari 2,4 juta kali.

Munculnya kembali tulisan ini seolah memperkeruh suasana bagi Tyas. Sebelumnya, alumni Teknik Kimia ITB ini sudah menjadi bulan-bulanan publik lantaran konten video paspor Inggris anaknya yang dianggap tidak nasionalis. 

Padahal, dia merupakan lulusan S2 di Belanda yang dibiayai penuh oleh negara melalui dana LPDP.

Hingga saat ini, belum ada tanggapan terbaru dari pihak Dwi Sasetyaningtyas mengenai viralnya kembali unggahan soal keluarga tersebut. 

Namun, jejak digital ini semakin menguatkan sentimen negatif publik terhadap integritas dan empati sang influencer lingkungan tersebut.

Load More