Entertainment / Gosip
Rabu, 15 April 2026 | 18:27 WIB
16 Mahasiswa FH UI Diduga Terlibat Kasus Pelecehan. (Twitter/X)

Suara.com - Di tengah kasus pelecehan seksual di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI), beredarnya tangkapan layar yang menunjukkan isi percakapan di sebuah grup WhatsApp yang diduga beranggotakan orang tua dari para pelaku.

Alih-alih menunjukkan empati mendalam terhadap korban, isi percakapan tersebut justru menuai kecaman luas.

Ini karena mereka dianggap sangat defensif dan mencoba memitigasi konsekuensi hukum maupun akademik bagi anak-anak mereka.

Dalam potongan chat yang viral, terlihat beberapa orang tua mengungkapkan kekhawatiran mereka terhadap sanksi Drop Out (DO) yang membayangi para pelaku.

Salah satu anggota grup menuliskan, "Duh prihatin, kasihan ya. Semoga ada solusi lain selain DO."

Pernyataan ini memicu kemarahan publik, terutama bagi mereka yang menganggap tindakan pelecehan seksual di lingkungan akademik seharusnya mendapatkan hukuman terberat demi menjamin ruang aman bagi seluruh mahasiswa.

Lebih mengejutkan lagi, terdapat upaya untuk membedakan kadar pelecehan yang dilakukan oleh anak-anak mereka.

Orang tua pelaku mempertanyakan bentuk kekerasan yang dialami korban dengan nada yang dianggap meremehkan dampak psikologis pelecehan digital.

Dalam chat tersebut tertulis, "Pastinya korban sangat perlu lebih diperhatikan. Cuma korbannya emang diapain, secara fisik atau hanya lewat medsos aja?"

Baca Juga: Cinta Laura Desak Kasus Pelecehan Seksual FH UI Diusut, Minta Maaf Tak Cukup

Menanggapi hal ini, banyak pihak menekankan kekerasan seksual, baik dilakukan secara fisik, verbal, maupun daring melalui media sosial, tetaplah merupakan tindakan kriminal yang merusak mental korban.

sidang kasus pelecehan seksual di FH UI (X.com)

Sentimen yang berkembang di grup tersebut juga menunjukkan kecenderungan menyalahkan pihak yang menyebarkan informasi atau whistleblower.

Para orang tua menyesalkan mengapa kasus ini harus mencuat ke publik dan menjadi bola liar.

"Maaf kalau boleh tahu mereka chatnya di grup umum atau privat? Andai saja si penyebar lebih bijak. Diingatkan/dinasehatkan terlebih dahulu sesama teman atau melibatkan pihak kampus (intern saja). Jika tidak berubah baru punishment. Kalau disebar seperti ini da menjadi bola liar. Semua pihak dirugikan," bunyi salah satu chat dari orangtua di grup itu.

Kritik tajam muncul menanggapi pernyataan ini, karena jika informasi tersebut tidak tersebar, kemungkinan besar hanya korban yang akan terus dirugikan tanpa adanya keadilan.

Beberapa orang tua bahkan mencoba mengusulkan sanksi alternatif yang dianggap lebih "ringan" daripada dikeluarkan dari kampus.

Load More