Entertainment / Music
Rabu, 03 Juni 2026 | 14:16 WIB
Teater Musikal Senja Teduh Pelita akan memperpanjang pementasan hingga Minggu, 12 Juli 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. [Instagram]
Baca 10 detik
  • Jakarta Movin, Maliq & D'Essentials, dan Indonesia Kaya memperpanjang pementasan teater musikal Senja Teduh Pelita hingga 12 Juli 2026.
  • Pementasan di Graha Bhakti Budaya, Jakarta, ini mengadaptasi lagu Maliq & D'Essentials menjadi kisah fiksi ilmiah bertema lingkungan.
  • Keputusan perpanjangan jadwal dilakukan karena tiket pertunjukan utama untuk tanggal 3 hingga 5 Juli 2026 habis terjual.

Suara.com - Jakarta Movin berkolaborasi dengan Maliq & D'Essentials dan Indonesia Kaya resmi memperpanjang pementasan teater musikal Senja Teduh Pelita hingga Minggu, 12 Juli 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Keputusan ini diambil setelah tiket pertunjukan utama untuk tanggal 3 hingga 5 Juli 2026 ludes hanya dalam waktu tiga hari. 

Menariknya, adaptasi teater musikal ini justru membantu sang pencipta karya untuk memahami musik mereka sendiri. 

Vokalis Maliq & D'Essentials, Angga Puradiredja membuat pengakuan bahwa dia baru memahami makna mendalam dari lagu-lagu di album ketujuh mereka, Senandung Senandika, setelah digarap menjadi naskah teater musikal oleh sutradara Nuya Susantono. 

"Gue enggak ngerti nih sama lagu-lagu album ke tujuh ini. 'Hah, ini kan lagu tentang kehidupan. Gue kan ngertinya cuma cinta doang'," kata Angga dalam konferensi pers yang digelar di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat pada Rabu, 3 Juni 2026.

Teater Musikal Senja Teduh Pelita yang ceritanya diambil dari sejumlah lagu Maliq & D'Essentials akan memperpanjang pementasan hingga Minggu, 12 Juli 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. [Tiara Rosana/Suara.com]

"Dan 10 tahun kemudian sejak album yang gue enggak ngerti itu, inspirasi drama musikal ini ternyata banyak dari lagu-lagu yang gue enggak ngerti itu. Dan gue baru ngerti makna lagu itu gara-gara Nuya buat drama musikal ini," ujarnya menyambung.

Nuya Susantono, selaku sutradara sekaligus penulis naskah, menjelaskan bahwa alur cerita Senja Teduh Pelita memang bergeser dari tema cinta romantis biasa ke arah fiksi ilmiah berlatar kehancuran bumi di masa depan. 

Kisahnya menyoroti Pasukan Pelita, sekelompok anak tangguh yang berjuang bertahan hidup di bumi yang runtuh akibat perang dan krisis iklim.

Mereka melakukan perjalanan mencari orangtua mereka menuju Aurora, namun terdampar di tempat bernama Teluk Pelita setelah dihantam badai besar. 

Baca Juga: Review Teater Musikal Sayap Cinta: Perpaduan Akting, Nyanyian, dan Cinta Abadi Habibie Ainun

Di sana, mereka dihadapkan pada dilema, yakni menetap dalam kenyamanan Teluk Pelita atau melanjutkan misi mencari orang tua mereka.

Lagu-lagu Maliq & D'Essentials yang bernuansa futuristik menjadi inspirasi utama penulisan cerita ini. 

"Sebenarnya sci-fi itu juga dari lagu Maliq, itu aku mendengar banyak bunyi-bunyi futuristik yang kalau kita bayangkan ini di tahun berapa ya? Ya bisa sih ini 100 tahun lagi bunyi ini masih adalah bunyi yang terdengar di peradaban saat itu gitu," imbuh Nuya.

Kepedulian terhadap bumi juga diwujudkan secara nyata di area luar panggung.

Pihak penyelenggara bekerja sama dengan beberapa mitra pengelolaan sampah untuk mengedukasi penonton tentang pentingnya memilah sampah sejak dari rumah hingga tempat acara. 

"Kita juga bisa mengedukasi penonton untuk bisa menerapkan proses memilah sampah agar semua bisa menciptakan habit-habit yang lebih ramah lingkungan," tutur Nuya.

Load More