Foto / Tekno
Kamis, 16 April 2026 | 18:50 WIB
Petugas memeragakan cara penggunaan mesin jahit berteknologi AI dalam pameran Indo Intertex–Inatex 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (16/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Petugas memeragakan cara penggunaan mesin jahit berteknologi AI dalam pameran Indo Intertex–Inatex 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (16/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Petugas memeragakan cara penggunaan mesin jahit berteknologi AI dalam pameran Indo Intertex–Inatex 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (16/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Petugas memeragakan cara penggunaan mesin jahit berteknologi AI dalam pameran Indo Intertex–Inatex 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (16/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Petugas memeragakan cara penggunaan mesin jahit berteknologi AI dalam pameran Indo Intertex–Inatex 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (16/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Petugas memeragakan cara penggunaan mesin jahit berteknologi AI dalam pameran Indo Intertex–Inatex 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (16/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Petugas memeragakan cara penggunaan mesin jahit berteknologi AI dalam pameran Indo Intertex–Inatex 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Upaya peningkatan kualitas produk garmen nasional terus didorong lewat pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan daya saing industri. Salah satunya melalui peluncuran mesin jahit berbasis kecerdasan buatan (AI) oleh Hikari (Shanghai) Precise Machinery Science & Technology Co., Ltd.

Peluncuran perdana dilakukan di Semarang sebelum diperkenalkan di ajang Indo Intertex 2026 pada 15–18 April di Jakarta. Kehadiran teknologi ini menjadi bagian inovasi di sektor produksi tekstil dan garmen.

Hikari menegaskan komitmennya mengembangkan mesin jahit pintar berbasis AI. Teknologi ini dinilai penting untuk menjawab kebutuhan industri dalam meningkatkan efisiensi serta kualitas produksi yang terus berkembang.

Mesin ini mampu mendeteksi kesalahan jahitan secara otomatis dan menyesuaikan pengaturan sesuai jenis kain. Hasilnya lebih rapi, presisi, dan konsisten, sekaligus menekan biaya teknis dibanding mesin konvensional.

Indonesia menjadi pasar prioritas seiring pertumbuhan industri garmen. Kehadiran teknologi ini diharapkan memperkuat daya saing nasional. Indo Intertex–Inatex 2026 diikuti 428 perusahaan, dengan 65% peserta dari dalam negeri. [Suara.com/Alfian Winanto]

Load More