SUARA GARUT - Istana Batu Tulis akhir-akhir ini telah menjadi sorotan publik sejak Ketum PDI-Perjuangan, Megawati Soekarnoputri mengumumkan Ganjar Pranowo sebagai Capres 2024-2029.
Sebelumnya Megawati juga pernah melakukan beberapa kali pertemuan politik dengan Jokowi, Prabowo dan terakhir dengan Ganjar Pranowo di Istana Batu Tulis.
Lantas, apa dan bagaimana hubungan Istana Batu Tulis dengan sosok ketum PDI-P tersebut?
Berdasarkan catatan sejarah, Istana Batu Tulis dibangun sejak masa kolonial Belanda oleh seorang ahli vulcanologi Belanda bernama Abraham Riebeeck.
Sejak meletusnya Gunung Salak tahun 1699, Reebeck ditugaskan pemerintah Hindia Belanda untuk mengamati kondisi Buitenzorg (Bogor) akibat efek letusan Gunung Salak sekitar tahun 1704. Untuk itu dia mendirikan tempat pengamatan di sekitar Batu Tulis.
Batu Tulis, adalah sebuah prasasti yang dibuat oleh Prabu Surawisesa,sebagai penghargaan anak terhadap jasa ayahnya Sri Baduga Maharaja atau yang dikenal Prabu Siliwangi.
Kemudian pasca kemerdakaan di tahun 1960 Soekarno membeli tanah di sekitar itu dan membangun tempat tersebut oleh arsitek RM.Soedarsono dengan menyerupai istana Tampak Siring Bali.
Karena berlokasi tidak jauh dari Prasasti Batu Tulis tersebut, maka sejak itu istana yang menjadi favoritnya Bung Karno tersebut dijuluki Istana Batu Tulis.
Pasca Orde Baru berkuasa Istana ini menjadi lokasi pengasingan Soekarno dan menjadi tempat peristirahatan favorit Soekarno dan menyimpan banyak catatan sejarah dan kehidupan pribadi beliau.
Baca Juga: Adu Harta Kekayaan Anies vs Prabowo vs Ganjar: Tiga Bakal Capres 2024
Namun kemudian pemerintahan Soeharto merubah hak pengelolaan atas tanah dan bangunan Istana Batu Tulis dan diputuskan sebagai milik negara melalui Keppres No. 2 Tahun 1973.
Namun di era Presiden Abdurrahman Wahid pengelolaan istana ini dikembalikan kembali kepada ahli waris keluarga Bung Karno.
Sebagai saksi bisu sejarah dan catatan kehidupan pribadi Bung Karno, Istana Batu Tulis menyimpan banyak misteri yang bisa jadi mempengaruhi berbagai keputusan besar arah perjuangan bangsa ini.
Maka sejak itu keputusan tersebut tidaklah heran jika Megawati Soekarnoputri sering melakukan pertemuan politik di tempat.
Menjaga nilai tradisi dan sejarah yang ditorehkan oleh Bung Karno kiranya itu yang kemudian diteruskan oleh Megawati Soekarnoputri hingga saat ini. (*)
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
Terkini
-
Siap Diresmikan Prabowo, LRT Jakarta Rute Manggarai Beroperasi Agustus 2026!
-
Bupati Ponorogo Nonaktif Sugiri Sancoko Dituntut 7 Tahun Penjara
-
Review Agent Kim Reactivated: Ketika Orang Baik Dipaksa Menjadi Buas
-
Bedah Data Wholesales GAIKINDO Semester 1: Ini Daftar Mobil Terlaris Toyota
-
2 Perempuan Ditetapkan Tersangka dalam Kasus ASN Nias Tewas di Apartemen Medan
-
Kemarahan Publik: Indikator Kebijakan Benar-benar Berpihak Kepada Rakyat
-
Tak Sekadar Chatbot, Investor Ritel Bisa Manfaatkan AI untuk Analisis Saham
-
Rupiah Menguat Tipis Berkat Sentimen Positif S&P Global Ratings
-
Resmi Debut! Super Junior-83z Berjanji Tuk Saling Setia di Lagu Promise
-
Apa Bedanya Bekas Jerawat PIH dan PIE? Ini Perbedaan hingga Cara Memudarkannya