SUARA GARUT - Ramainya pemberitaan tentang isu perselingkuhan Syahnaz Sadiqah dengan Rendy Kjaernett, mengundang pendapat dari berbagai pihak.
Perselingkuhan Syahnaz Sadiqah dengan Rendy Kjaernett terbongkar akibat dari curhatan istri Rendy, Lady Nayoan beberapa waktu ke belakang.
Isu pereelingkuhan Syahnaz Sadiqah dengan Rendy Kjaernett rupanya bukan isapan jempol belaka.
Belakangan muncul video klarifikasi Rendy Kjaernett dan juga video Syahnaz yang di dampingi suaminya, Jeje Govinda.
Video Klarifikasi tersebut secara tidak langsung membenarkan jika diantara Syahnaz Sadiqah dengan Rendy Kjaernett ada hubungan gelap seperti yang di ceritakan Lady Nayoan.
Ramainya isu perselingkuhan Syahnaz dengan Rendy tentu saja mengundang beragam reaksi. Baik dari masyarakat maupun para pakar atau ahli.
Dari sekian banyak pendapat, ada yang mengusulkan kalau Syahnaz dan Rendy harus di boikot.
Ada pula yang menginginkan kasus tersebut diselesaikan melalui jalur hukum.
Melihat hal tersebut, seorang pengamat sosial, Devie Rahmawati mengungkapkan pendapatnya yang tayang dalam video kanal youtube Cumicumi pada Selasa (11/7/2023).
Baca Juga: Review Motorola Edge 40: Layar P-OLED 144Hz, Tahan Debu dan Air, Skor AnTuTu 688.347
Menurut Devie, Masyarakat Indonesia berbeda dengan masyarakatndi luar negeri. Istilah boikot sosial di Indonesia ini tidak menjadi hal yang dominan.
"Masyarakat Indonesia bedanya dengan masyarakat negara lain seperti Korea misalnya, yang mengenal istilah boikot sosial atau cancel culture. Di kita, boikot sosial itu tidak menjadi dominan, kenapa, karena masyarakat kita adalah masyarakat yang penuh kasih sayang." ungkap Devie.
Selain itu, Devi mengatakan jika masyarakat di Indonesia adalah masyarakat yang sangat menghargai kebersamaan dan keharmonisan.
"Artinya, masyarakat kita memiliki kelenturan untuk bisa menerima ketika seseorang setelah mereka khilaf atau salah kemudian memperbaiki diri.
Devi menambahkan, hal ini adalah satu model tradisi yang baik. Artinya masyarakat di Indonesia ini memberikan kesempatan bagi setiap orang yang melakukan kesalahan untuk memperbaikinya.(*)
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
Terkini
-
Generasi Muda Terperangkap Utang Paylater dan Pinjol: Kurangnya Literasi Keuangan Jadi Pemicu?
-
Sukses, Peserta dari Empat Provinsi Antusias Ikuti Workshop "AI Tools for Journalists" di Palembang
-
KPK Tahan Ketua dan Wakil Ketua PN Depok, Buntut Dugaan Minta Fee Rp850 Juta
-
Yudi Purnomo Soal Wacana Polri di Bawah Kementerian: Ingat Pengalaman KPK
-
Soal Usul Duet Prabowo-Zulhas di 2029, Dasco: Kita Anggap Wacana dan Hiburan Buat Rakyat
-
Dasco Ungkap Arahan Prabowo di HUT ke-18 Gerindra: Jaga Uang Rakyat, Jangan Berbuat Perilaku Tercela
-
Derbi Mataram PSIM vs Persis Tanpa Pemenang, Milo Puas Laskar Sambernyawa Curi Poin
-
Gerindra Akhirnya Minta Maaf, Atribut Partainya Ganggu Masyarakat di Jalan
-
Habiburokhman Sebut Pernyataan Abraham Samad Soal Reformasi Polri Salah Kaprah
-
IPW Nilai Polri Bisa Mudah Dipengaruhi Kepentingan Politik Jika di Bawah Kementerian