Suara.com - Apakah Anda selalu menentukan standar yang tinggi? Apakah ketika mendapat bukan A akan membuat Anda stress? Jika ya, maka Anda tergolong seorang perfeksionis. Sifat perfeksionis seperti pedang bermata dua.
Berjuang untuk menjadi yang terbaik adalah bagus, tetapi menjadi perfeksionis kadang justru menyebabkan gangguan emosional. Penelitian menunjukkan bahwa pefeksionis sering dikaitkan dengan depresi, kecemasan, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan makan hingga sindrom kelelahan kronis .
Kesimpulan ini didasarkan penelitian Brook University di Ontario, Kanada yang meneliti hubungan antara perfeksionisme dengan kesehatan fisik. Penelitian ini melibatkan 492 laki-laki dan perempuan usia antara 24-35 tahun. Dan mereka yang perfeksionis sering mengeluh tidak enak badan, sakit perut, tidak bisa tidur, sesak napas, rasa sakit dan kelelahan.
Karena takut gagal, seorang perfeksionis akan menunda pekerjaan mereka hingga benar-benar siap. Psikolog David D Burns dalam sebuah artikelnya di "Psychology Today" menyebut karena ingin meraih bintang seorang perfeksionis mungkin malah akan mencengkeram udara alias gagal total.
Sayangnya perfeksionisme adalah skarakter, sehingga sulit untuk berubah. Secara sosial seorang perfeksionis, digambarkan sebagai seseorang yang selalu dihantui rasa khawatir bahwa orang lain akan mengejeknya jika prestasinya tidak sempurna. Ini juga sering dikombinasikan dengan tuntutan kesempurnaan kepada keluarga, teman dan koleganya.
Para peneliti Ontario menemukan seorang perfeksionis juga cenderung untuk tidak memiliki dukungan sosial yang kuat, karena mereka cenderung kritis terhadap orang lain. Selain itu mereka juga akan merasa malu untuk meminta bantuan dari orang lain.
Pada tingkat tertentu, perfeksionis sebenarnya sehat. Terutama jika seorang perfeksionis bisa secara internal termotivasi dan dapat bangkit kembali dari kekecewaan. atau jika dia tidak terlalu mengritik diri sendiri dan tidak merasa yang paling baik, perfeksionis bahkan bisa menjadi pendorong untuk meraih prestasi terbaik.
Penelitian itu juga menunjukkan, jika seorang perfeksionis tidak selalu menargetkan tujuannya tercapai dan tidak selalu menyalahkan diri ketika gagal maka akan lebih baik. Seorang perfeksionis juga disarankan untuk tidak terlalu terobsesi menjadi yang terbaik. (The Guardian)
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?