Suara.com - Beberapa fungsi tubuh ditunjukkan oleh hal-hal yang bersifat pribadi, seperti kotoran misalnya. Jadi sesekali jangan buru-buru menekan tombol flush seusai buang air besar. Sejenak perhatikan kotoran Anda, baik warna konsistensi, bentuk, untuk memprediksi kondisi kesehatan dalam perut Anda.
Bentuk kotoran bisa mengindikasikan berbagai penyakit seperti iritasi usus, kanker usus besar, atau obstruksi usus. Berikut adalah panduan singkat bagaimana 'menilai' kotoran Anda.
Pelajaran kedua adalah apapun makanan yang diasup baik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi maupun untuk pengobatan dapat memicu respon hormonal dan refleks saraf di perut. Pada beberapa orang ini, jenis makanan tertentu dapat membuatnya langsung ke kamar mandi. Ini mungkin merupakan tanda dari alergi atau sensitivitas.
"Makanan masuk ke usus dan menyebabkan reaksi alergi dan peradangan yang dapat menggangu proses pencernaan dalam usus. Dan ketika usus tidak melewati hal-hal seperti itu maka Anda mengalami gangguan," kata Michael B. Stierstorfer, MD, seorang profesor dermatologi klinis di University of Pennsylvania.
Tapi menurut Stierstorfer stres akut juga dapat memicu seseorang untuk sering buang air besar. Untuk mengatasai kondisi ini, mungkin Anda perlu mengungkap alergi makanan yang tak terdiagnosis. Dalam penelitiannya, Dr Stierstorfer menemukan bahwa penerapan uji makanan pada kulit dapat membantu mendeteksi alergi makanan yang menyebabkan masalah usus.
Anda bisa mencoba di rumah, jika jari Anda menjadi merah dan gatal setelah menangani satu jenis makanan untuk jangka waktu lama "Maka hindari makanan itu selama seminggu untuk melihat apakah Anda merasa lebih baik," kata Dr Stierstorfer.
Sedangkan dari golongan obat yang dapat merangsang saraf Anda, umumnya adalah antibiotik, penghilang rasa sakit NSAID, magnesium yang mengandung antasida, dan inhibitor pompa proton untuk mulas.
Jika curiga Anda alergi pada salah satu dari jenis obat ini, maka tak ada salahnya Anda berbicara dengan dokter pribadi Anda untuk menyesuaikan dosis atau obat-obatan. Hal lain yang bisa dilakukan untuk mencegah alergi adalah dengan mengurangi stres. (menshealth.com)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi
-
Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga
-
Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan
-
Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal