Suara.com - Korea Selatan (Korsel), Rabu (3/6/2015), memastikan lima penderita tambahan dari wabah Sindroma Pernafasan Timur Tengah (MERS), sehingga membuat jumlah korban menjadi 30 orang sejak wabah itu berjangkit pada dua pekan lalu dan merenggut dua nyawa.
Walaupun belum ada bukti penularan antar-manusia, skenario terburuknya adalah terjadi perubahan virus dan menyebar dengan cepat, sebagaimana Sindrom Pernafasan Akut Berat (SARS) pada 2002-2003, yang menewaskan sekitar 800 orang di seluruh dunia.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan MERS pertama kali didapati pada manusia pada 2012 dan disebabkan oleh koronavirus dari keluarga sama dengan SARS. Namun, MERS memiliki angka kematian lebih tinggi, yaitu 38 persen.
Belum ada obat atau vaksin bagi virus tersebut.
Tiongkok pada pekan lalu melaporkan kasus MERS pertamanya, setelah seorang lelaki dari Korsel yang positif terjangkit virus kabur dari rumah karantina dan pergi ke Hong Kong dan ke daratan Tiongkok.
Korsel, Selasa (2/6/2015), melaporkan dua kasus kematian pertama akibat MERS sekaligus memicu ketakutan, karena menjadikannya negara yang memiliki kasus terbanyak di luar Timur Tengah, di mana penyakit ini pertama kali muncul.
Korsel telah mengarantina atau mengisolasi sekitar 1.300 orang yang kemungkinan terjangkit infeksi MERS.
Dari lima penderita baru, empat di antaranya berada di rumah sakit yang sama dengan pasien pertama, yaitu seorang lelaki berusia 68 tahun yang kembali dari perjalanan ke empat negara di Timur Tengah. Pasien berikutnya, seorang lelaki 60 tahun, yang tertular dari orang lain yang juga terinfeksi.
Media mengatakan pihak otoritas kesehatan sedang melakukan tes pada pasien lanjut usia yang meninggal pada Minggu setelah berbagi bangsal rumah sakit yang sama dengan salah satu dari dua orang terinfeksi MERS yang telah meninggal.
kementeriaan Pendidikan Korsel mengatakan lebih dari 200 sekolah, terutama di provinsi Gyeonggi di sekitar ibu kota, Seoul, yang menjadi tempat di mana kematian pertama terjadi pada Senin, ditutup selama seminggu.
Penderita baru tersebut membuat jumlah global pasien MERS menjadi 1.166 orang, berdasarkan data WHO, dengan setidaknya 436 kematian.
Seorang pejabat kementerian kesehatan mengatakan WHO belum merekomendasikan pembatasan perdagangan atau perjalanan untuk Korsel, meskipun pihak otoritas pengawasan perbatasan negara tersebut telah menerapkan larangan perjalanan ke luar negeri bagi orang terisolasi karena kemungkinan terinfeksi.
Tekanan bagi pemerintah mengemuka untuk segera mengidentifikasi rumah sakit yang merawat pasien terinfeksi karena ketakutan dan kebingungan masyarakat telah meningkat.
Pejabat kesehatan masyarakat telah bersikeras bahwa hal tersebut "bermanfaat" untuk merahasiakan nama-nama rumah sakit tersebut dari masyarakat. Namun dalam jajak pendapat yang diterbitkan Rabu, 83 persen responden menuntut pemerintah untuk mengidentifikasinya.
Ian Jones, seorang ahli virus dari Universitas Reading, Inggris, yang telah mengikuti perkembangan MERS sejak kemunculannya, mengatakan bahwa transparansi dari pemerintah akan membantu dalam upaya menghentikan wabah.
"Menjadi terbuka terkait kasus, lokasi dan kondisinya, adalah hal terbaik untuk mengontrol, meskipun hal tersebut menyebabkan ketakutan jangka pendek," katanya.
Beberapa ahli mengatakan bahwa tingkat kematian MERS yang mencapai angkan 38 persen mungkin terlalu dilebih-lebihkan karena pasien dengan sedikit atau tanpa gejala mungkin tidak turut terdeteksi. Tingkat kematian dari SARS adalah 9 hingga 12 persen, meningkat menjadi lebih dari 50 persen untuk pasien di atas 65 tahun.
WHO menyebutkan gejala MERS antara lain batuk, demam dan sesak napas. Hal tersebut kemudian dapat menyebabkan kegagalan sistem pernapasan. (Antara/Reuters)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
Terkini
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia