Suara.com - Ilmuwan dari Massachussets General Hospital, Amerika Serikat berhasil mengembangkan tes genetik yang dipercaya mampu mendeteksi potensi demensia dan Alzheimer jauh sebelum gejala keduanya muncul pada seseorang. Dengan tes genetik itu, potensi demensia dan Alzheimer bisa terdeteksi sejak usia 35 tahun.
Pengujian tes genetik tersebut, seperti dilaporkan The Telegraph pada tengah pekan ini, melibatkan 166 orang demensia dan 1.026 jiwa tanpa demensia dari berbagai usia. Metode tes genetik tersebut adalah mengombinasikan serangkaian varian gen yang diketahui meningkatkan risiko demensia.
Tes ini membuat tindakan penanganan dan pencegahan dengan obat-obatan, perbaikan gaya hidup, plus perubahan pola makan dapat dilakukan sejak jauh-jauh hari sebelum semuanya terlambat.
Demensia sendiri ialah istilah untuk gangguan degeneratif yang menyebabkan kemunduran fungsi otak secara bertahap semisal berpikir, berlogika, dan mengingat. Sementara, Alzheimer merupakan salah satu bentuk lanjutan paling umum dari demensia.
Gejala demensia biasanya baru muncul pada usia 60-an tahun.
Lebih lanjut, dari pengujian tes genetik yang dilakukan Massachussets General Hospital diketahui bahwa semakin tinggi skor para peserta tes, semakin kecil hippocampus mereka. Kesamaan ini ditemukan baik pada mereka yang mengalami kerusakan kognitif ringan maupun tidak.
Adapun hippocampus adalah bagian otak yang memainkan peran penting dalam menyimpan memori plus kemampuan spasial manusia.
Keberhasilan riset Massachussets General Hospital dianggap vital untuk penanganan demensia sejak dini. Pasalnya, hingga kini dunia medis belum menemukan penangkalnya. Obat-obatan yang dikembangkan lebih ditujukan untuk memperlambat dan menekan gejala.
Hasil penelitian ini pun telah dipublikasikan di Jurnal Neurology.
Direktur Riset Alzheimer Society Dr. Doug Brown mengatakan tantangan terbesar dari riset itu adalah memastikan skor yang dihasilkan dalam tes genetik dapat menunjukkan level risiko secara akurat.
Sangat penting bagi tes ini untuk memberikan informasi tepercaya dan berguna bagi seseorang agar mereka dapat segera mengambil tindakan pencegahan tanpa menimbulkan kecemasan berlebih.
"Demensia disebabkan oleh perpaduan rumit antara faktor genetik, gaya hidup, dan lingkungan sehingga skor di dalam tes yang hanya melihat secara genetik cuma memberikan sebagian gambaran. Cara terbaik mengurangi risiko demensia ialah berolahraga rutin, tidak merokok, dan mengonsumsi makanan yang sehat serta berimbang," tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
Terkini
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak