Suara.com - Biasanya usai mengunjungi dokter, pasien akan diberi resep obat untuk dikonsumsi. Mungkin tak ada yang salah dengan hal ini, karena obat memang sebaiknya dikonsumsi sesuai anjuran dokter.
Namun anggapan yang harus diluruskan adalah tak selamanya dokter harus memberikan obat atas keluhan yang dialami pasien. Menurut Putri Suhendro selaku perwakilan dari Yayasan Orangtua Peduli (YOP), obat seharusnya diberikan hanya pada kondisi yang benar-benar dibutuhkan.
"Kami mengedukasi bahwa saat pergi ke dokter bukan harus mendapatkan obat, yang lebih penting justru konsultasi. Kalau betul-betul batuk pilek apa yang harus jadi dilakukan," ujar Putri pada Pekan Peduli Antibiotik 2016 di Jakarta, Selasa (22/11/2016).
Menurutnya, pemberian obat seringkali memicu tindakan medis berlebihan. Bahkan, tak sedikit penyakit yang sebenarnya tak perlu diobati dengan antibiotik.
"Setiap obat selalu mengandung zat aktif yang berisiko. Sering kali tidak ditanyakan misal ada pasien yang alergi obat atau obat yang diberikan tidak sesuai indikasi," imbuhnya.
Dia menambahkan, salah satu risiko dari konsumsi obat-obatan yang tak dibutuhkan tubuh, terlebih jenis antibiotik, dapat memicu resistensi bakteri. Ia menegaskan, tidak semua penyakit membutuhkan antibiotik. Apalagi jika penyakit disebabkan oleh infeksi virus.
"Batuk pilek itu penyakit harian yang tidak butuh obat apalagi antibiotik. Tapi sayangnya, masyarakat menganggap bahwa penyakit seperti itu harus diatasi dengan obat, bahkan antibiotik," tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba, dr Harry Parathon, SpOG(K) mengatakan bahwa penggunaan antibiotik yang tidak tepat, membuat tubuh kebal pada bakteri sehingga ketika terinfeksi penyakit. Seseorang membutuhkan antibiotik satu tingkat diatasnya yang tentu saja memiliki efek samping yang lebih tinggi.
"Kalau digunakan tidak sesuai tujuan, yakni mengobati penyakit bukan karena infeksi bakteri, maka akan mengganggu bakteri normal yang ada dalam tubuh. Akibatnya bakteri baik akan berubah menjadi bakteri jahat yang menyebabkan penyakit," tambahnya.
Baca Juga: Masih Ada Dokter Berikan Antibiotik untuk Hal yang Tak Mendesak
Untuk menekan kematian yang disebabkan oleh antibiotik, dr Harry mengimbau agar masyarakat lebih pintar dalam menyikapi keberadaan antibiotik.
"Pertama, gunakan antibiotik secara bijak, yakni saat terjadi infeksi bakteri. Lalu cegah penularan bakteri resisten dari satu pasien ke pasien lainnya, terutama saat menjenguk orang sakit, lalu jaga kebersihan lingkungan dan selalu cuci tangan pakai sabun," pungkas dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?