Suara.com - Saat orang-orang begitu terobsesi dengan apa yang mereka makan. Beberapa orang menjadi lebih pemilih karena alasan kesehatan atau bahkan gaya hidup. Tapi bagaimana bila kita tidak bisa memakan makanan tertentu dan memasukannya ke dalam mulut? Bagaimana bila sekuat apapun mencoba, kita terlalu takut memasukan makanan itu ke mulut kita?
Beberapa orang akan menilai hal tersebut sebagai 'pemilih makanan', lainnya akan menganggap hal tersebut sebagai gangguan makan yang disebut Selective Eating Disorder atau SED.
Konsep SED belum bisa diterima oleh seluruh kalangan masyarakat luas. Di tahun 2013, SED diakui sebagai kategori gangguan makan di American Psychiatric Association's Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders.
Namun di Inggris, hal tersebut merupakan cerita lain. Deanne Jade, pendiri National Centre for Eating Disorders mengatakan hal sebaliknya.
"Makan selektif adalah kata lain untuk makan yang bukan-bukan, dan bukan merupakan gangguan makan," katanya.
Felix Economakis seorang psikolog konseling dan hipnotis klinis di Inggris mengklaim bahwa SED benar-benar ada. Ia pertama kali menyadari ketika muncul dalam seri dokumenter yang tayang di TV Inggris pada 2007 silam.
Pada serial tersebut, Felix bertemu orang-orang yang tampaknya tidak hanya apatis terhadap makanan tertentu tapi juga merasa takut. Sejak saat itu, Felix mulai melakukan terapi bagi orang-orang yang fobia terhadap makanan tertentu.
Menurut Felix, ada perbedaan antara SED dan pemilih makanan. Meski kadang membingungkan, SED adalah benar-benar jenis fobia dimana seseorang tidak dapat makan atau menelan makanan tertentu, bahkan jika mereka ingin.
Felix telah bertemu seseorang yang hanya dapat makan roti, hanya roti. Felix juga kerap melihat orang yang hanya bisa menelan 15 jenis makanan. Meski terlihat banyak, 15 jenis makanan masih jauh dari jumlah seluruh makanan yang ada di bumi.
Baca Juga: Posisi iPhone di Cina Anjlok
Felix merangkum ada tiga penyebab utama terjadinya SED. Hal yang paling sering terjadi adalah Food PTSD. Biasanya terjadi pada seseorang yang memiliki pengalaman kurang mengenakan dengan makanan tertentu misal, tersedak atau sakit perut.
"Kita akan langsung berpikir, apa penyebabnya? Oke, makanan. Saya tidak bisa makan itu lagi," kata Felix.
Selain itu, hal lain yang menjadi isu pada gangguan makan adalah adanya masalah pada proses sensori.
"Beberapa tekstur mungkin terasa terlalu renyah atau terlalu basah atau aneh, apa pun yang mungkin terjadi," ujarnya.
Alasan terakhir adalah pergeseran dalam dinamika keluarga.
"Orang-orang mungkin seperti, 'Anak saya makan seperti biasanya, hingga akhirnya saya bercerai atau pindah dan tiba-tiba ia benar-benar rewel dengan makanan'," ungkap dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
Pilihan
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
Terkini
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi