Tingginya Persalinan di Dukun Beranak
Lalu mengapa masih ada kasus gizi buruk di Kota Bogor? Staf Promosi Kesehatan Puskesmas Bogor Selatan, Indri menuturkan, penyebab kasus gizi buruk di Bogor memang multifaktor. Selain kemiskinan, kesadaran masyarakat yang kurang akan menjaga kesehatan juga menjadi salah satu alasan mengapa gizi buruk masih ada di Bogor.
Ia berkisah, meski berada tak jauh dari pusat kota Bogor, masih ada ibu hamil yang mempercayakan persalinannya pada dukun beranak atau dikenal dengan sebutan Paraji demi melestarikan budaya yang telah turun temurun. Jalan ini pula yang dipilih Cici Nuraeni saat melahirkan Arif.
“Prevalensi melahirkan di dukun beranak di Bogor Selatan mencapai 80 persen, jadi baru 20 persen saja yang melahirkan di fasilitas kesehatan,” ujar Indri pada suara.com.
Alasan ibu hamil enggan melahirkan di fasilitas kesehatan ini pun bermacam-macam, mulai dari takut mendapat jahitan, keterbatasan biaya, maupun faktor budaya. Padahal, melahirkan tanpa didampingi tenaga kesehatan cukup berisiko, mulai dari risiko kematian saat melahirkan yang cukup tinggi, hingga peluang tidak dilakukannya Inisiasi Menyusui Dini (IMD), yang menjadi gerbang dari potensi gizi buruk anak di masa mendatang.
“Target ibu melahirkan di faskes 90 persen, tentu saja angka ini masih sangat jauh. Untuk itu kami membuat komitmen dengan paraji, agar ketika ada ibu hamil yang akan melahirkan segera dilaporkan ke bidan untuk dibawa ke puskesmas. Puskesmas Bogor Selatan buka 24 jam untuk layanan persalinan dan tidak perlu membayar dengan membawa kartu BPJS atau KIS, atau Keterangan Tidak Mampu,” tambah Indri.
Faktor Penyebab Gizi Buruk
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Bogor, Rubaeah mengatakan permasalahan gizi buruk pada balita di wilayahnya juga terjadi, karena kurangnya pemahaman masyarakat mengenai pola pengasuhan. Baru 40.4 persen ibu di kota Bogor yang memberikan ASI sebagai makanan terbaik bagi buah hati.
Sisanya bisa jadi memberikan susu formula atau justru makanan lunak yang sebenarnya belum boleh diberikan pada bayi dibawah usia enam bulan.
“Kesehatan balita sangat ditentukan dari status gizinya. Khususnya pada 1000 hari pertama kehidupan itu perlu dilakukan pengecekan terhadap balita. Bila pada periode emas ini bayi mengalami kekurangan asupan makanan maka dapat mengakibatkan gangguan kesehatan dan otak balita kurang maksimal,” ujar Rubaeah.
Ia tak menampik, masih belum optimalnya pelaksanaan sistem rujukan termasuk akses terhadap sarana kesehatan dan pembiayaannya juga menjadi salah penyebab masih tingginya kasus gizi buruk di Kota Bogor. Hingga Maret 2017 cakupan peserta Jaminan Kesehatan Nasional di Kota Bogor memang baru 74 persen dari total penduduk, yakni 727.982 jiwa.
Sedangkan jumlah penerima bantuan iuran (PBI) yang terdata hanya 255.932 jiwa. Itu berarti masih banyak masyarakat golongan menengah ke bawah yang belum diikutsertakan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kota Bogor, Erna Nuraini, menambahkan, usia melahirkan terlalu dini atau terlalu tua juga bisa menjadi faktor risiko balita lahir dengan gizi buruk.
Begitu pula dengan berat badan kurang saat hamil dan kondisi anemia serta hipertensi yang bisa menjadi pemicu anak lahir dengan gizi buruk.
“Melahirkan dibawah usia 20 tahun atau diatas 35 tahun sangat berisiko. Begitu juga kalau mengalami anemia atau hipertensi saat hamil, itu berisiko membuat anak lahir dengan status gizi yang buruk berupa lahir pendek atau berat badan kurang dari tiga kilogram saat lahir,” tambah dia.
Selain disebabkan oleh ibu yang berisiko, Erna menyebut status gizi balita juga dipengaruhi faktor eksternal seperti kelayakan dan kebersihan lingkungan tempat tinggal. Jika sang ibu berisiko, namun lingkungan tempat tinggal layak huni dengan kebersihan yang terjaga, maka status gizi buruk pada buah hati bisa dicegah.
Ia pun menekankan pentingnya edukasi masyarakat terutama pada perempuan yang berencana untuk menikah dan memiliki keturunan untuk memperhatikan kesehatan diri dan lingkungannya.
“Generasi berkualitas bermula dari kondisi ibu yang bagus. Jadi sasaran kami adalah menciptakan remaja yang sehat, karena Ia calon ibu yang menentukan generasi selanjutnya,” tandasnya dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- HP Bagus Minimal RAM Berapa? Ini 4 Rekomendasi di Kelas Entry Level
- Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
Pilihan
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
-
Lagu "Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)" Milik Gandhi Sehat Ditarik dari Peredaran, Ada Apa?
Terkini
-
Ruam Popok Bukan Sekadar Kemerahan, Cara Jaga Kenyamanan Bayi Sejak Hari Pertama
-
Tak Hanya Indonesia, Nyamuk Wolbachia Cegah DBD juga Diterapkan di Negara ASEAN
-
Dokter Ungkap Pentingnya Urea Breath Test untuk Cegah Kanker Lambung
-
Self-Care Berkelas: Indonesia Punya Layanan Kesehatan Kelas Dunia yang Nyaman dan Personal
-
Lupakan Diet Ketat: Ini 6 Pilar Nutrisi Masa Depan yang Bikin Sehat Fisik dan Mental di 2026
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
-
Rahasia Puasa Tetap Kenyang Lebih Lama Tanpa Loyo, Ini Pendamping Sahur yang Tepat
-
Lantai Licin di Rumah, Ancaman Diam-Diam bagi Keselamatan Anak
-
Zero-Fluoroscopy, Solusi Minim Risiko Tangani Penyakit Jantung Bawaan Anak hingga Dewasa