Kisah Arif, Balita Gizi Buruk di Bogor
Ani bercerita, saat berusia 17 bulan, bobot Arif menyusut hingga 6.4 kilogram dengan panjang badan 74.5 cm. Merujuk pada standar status gizi berdasarkan berat badan, umur, dan tinggi badan, buah hatinya itu dikategorikan sebagai balita gizi buruk, sangat kurus dan pendek.
Tubuhnya sangat kerempeng, tulang kaki yang begitu kecil, dengan bola mata yang hampir keluar. "Makannya sedikit, padahal waktu lahir berat badannya bagus 3 kilogram. Saya juga kasih ASI, tapi begitu di atas satu tahun terus turun berat badannya,” ujar Ani dengan suara lirih.
Perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini mengatakan bahwa kondisi Arif semakin memburuk ketika timbul gejala batuk yang membuat napasnya tersengal-sengal. Ia dan Asep sempat ragu membawa anaknya ke dokter, karena keterbatasan biaya.
Asep hanyalah seorang tukang rak piring yang mendapat penghasilan Rp 60 ribu sehari atau Rp 1.5 juta sebulan untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya.
“Rumah ngontrak, sebulan dua ratus ribu. Ini juga sudah dua bulan belum bayar. Kemarin pas Arif sakit sebulan nggak kerja, gantian jaga anak. Jadi nggak ada pemasukan,” imbuh Ani.
Keterbatasan ekonomi ini jualah yang membuat si sulung Andri terpaksa putus sekolah. Ani sebenarnya tak tega melihat putra pertamanya itu hanya mendekam di balik lemari, karena malu tak bersekolah seperti teman-teman lainnya.
Namun pendapatan sang suami yang pas-pasan memaksa Ani harus memberi pengertian pada Andri untuk berbesar hati. “Ya nanti kalau ada uang diterusin. Masuk sekolah kan mahal, bulanannya Rp 45 ribu,” ujar Ani.
Sehari-hari Ani mengaku memberikan makanan cukup gizi kepada buah hatinya. Biasanya ia memasak ikan, telur, atau mie sebagai lauk nasi yang praktis. Terkadang untuk makan, ia dibantu mertua atau tetangga dengan memberikan lauk dan sayuran untuk meringankan bebannya. Ia pun kebingungan mengapa Arif bisa menderita gizi buruk.
“Saya mah kasian lihat Arif sakit begini. Tiduran terus. Pas lahir juga gemuk, tapi kenapa sekarang bisa jadi begini,” ujar Ani sembari menitikkan air mata.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dari Koruptor Kembali ke Rakyat: Aset Rp16,39 Miliar Kini Disulap Jadi Sekolah hingga Taman di Jabar
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- HP Bagus Minimal RAM Berapa? Ini 4 Rekomendasi di Kelas Entry Level
- Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
Pilihan
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
-
Lagu "Cita-citaku (Ga Jadi Polisi)" Milik Gandhi Sehat Ditarik dari Peredaran, Ada Apa?
Terkini
-
Ruam Popok Bukan Sekadar Kemerahan, Cara Jaga Kenyamanan Bayi Sejak Hari Pertama
-
Tak Hanya Indonesia, Nyamuk Wolbachia Cegah DBD juga Diterapkan di Negara ASEAN
-
Dokter Ungkap Pentingnya Urea Breath Test untuk Cegah Kanker Lambung
-
Self-Care Berkelas: Indonesia Punya Layanan Kesehatan Kelas Dunia yang Nyaman dan Personal
-
Lupakan Diet Ketat: Ini 6 Pilar Nutrisi Masa Depan yang Bikin Sehat Fisik dan Mental di 2026
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
-
Waspadai Jantung dan Stroke Tak Bergejala, Teknologi Presisi Jadi Kunci Penanganan Cepat
-
Rahasia Puasa Tetap Kenyang Lebih Lama Tanpa Loyo, Ini Pendamping Sahur yang Tepat
-
Lantai Licin di Rumah, Ancaman Diam-Diam bagi Keselamatan Anak
-
Zero-Fluoroscopy, Solusi Minim Risiko Tangani Penyakit Jantung Bawaan Anak hingga Dewasa