Suara.com - Peritoneal Dialysis membantu seorang anak dengan gagal ginjal memiliki hidup yang relatif normal, dan mengejar cita-citanya.
Aliefka (13) pergi ke sekolah, bermain bersama teman-temannya dan memiliki hidup normal, meski mengalami sakit gagal ginjal kronik (GGK). Umumnya, GGK menyerang orang dewasa tetapi juga dapat terjadi pada anak-anak.
Penyakit ginjal sering disebut dengan "silent disease", karena tidak selalu menunjukkan gejala awal. Sakit ginjal adalah penyakit yang menjangkit seumur hidup dan tidak dapat sembuh dengan sendirinya, tetapi beberapa tipe sakit ginjal dapat diberikan perawatan-khususnya jika diketahui lebih awal-yang mana penting untuk mengenali faktor risiko serta gejala-gejala awalnya.
Meski menghadapi cobaan yang berat, Aliefka tetap berpikir positif dan optimis. Dia dapat menerima kondisinya dan tetap berusaha menggapai mimpinya.
Pada hari Aliefka divonis gagal ginjal, dia berkata, "Aku bisa menerima apa yang terjadi padaku, namun tidak ingin pasrah dengan keadaan. Aku ingin menggapai mimpi dan belajar bahasa Inggris lalu bekerja di luar negeri. Semoga mimpi itu bisa terwujud suatu hari nanti."
Sikap optimis Aliefka memberikan semangat dan kekuatan untuk Indri. "Kalau anak saya tidak pernah mengeluhkan kondisinya, kenapa justru saya yang mengeluh? Jadi, tugas saya sebagai orang tua adalah mendukung cita-citanya dan mewujudkannya menjadi nyata," ujarnya.
Aliefka pun dirujuk untuk melakukan cuci darah. Namun, perjalanan dari Balikpapan ke Jakarta menghabiskan waktu untuknya dan Aliefka. Putranya kehilangan hari-hari di sekolah.
Merasa frustasi, Indri diperkenalkan dengan metode Peritoneal Dialisis (PD), yaitu metode cuci darah yang telah terbukti memberikan keleluasaan bagi pasien untuk dapat cuci darah di rumah.
Metode PD bekerja dengan membersihkan racun dalam darah dan membuang cairan berlebih menggunakan membran pada tubuh, yaitu membran peritoneal, sebagai penyaring racun. Membran peritoneal menyaring racun serta cairan dari darah melalui cairan. Cairan yang mengandung racun akan dikeringkan dari rongga peritoneal setelah beberapa jam dan berganti dengan cairan baru. Ini disebut pergantian. Pada umumnya, pasien membutuhkan tiga hingga empat kali pergantian di setiap hari dengan waktu selama 30 menit. Pada saat proses penggantian, pasien dapat menjalani aktivitas dengan normal.
"Terapi PD untuk GGK adalah pilihan banyak pasien anak di beberapa negara Eropa dan penggunaannya terus meningkat ke berbagai negara lainnya, termasuk Indonesia. PD dapat digunakan untuk pasien anak usia berapapun dalam menunggu tujuan utama perawatan yang sesungguhnya, yaitu transplantasi ginjal," jelas Dr. Cahyani Gita Ambarsari, Spesialis Nefrologi pada anak di rumah sakit rujukan nasional.
Aliefka merupakan satu dari ribuan anak yang mengalami penyakit mematikan tersebut setiap tahunnya. Penelitian menunjukkan di Indonesia, angka penderita GGK pada anak-anak terus meningkat. Berdasarkan penelitian oleh UNICEF pada World Children Report 2012, Indonesia berada pada peringkat pertama di negara ASEAN dengan jumlah anak obesitas terbanyak, yaitu sebesar 12,2 persen, hal tersebut berpotensi untuk meningkatkan angka gagal ginjal pada anak.
"Dengan menjalani PD, putra saya bisa pergi ke sekolah, bermain bersama teman-temannya, dan bersosialisasi. Menjalani perawatan PD tidak dijadikan beban olehnya. Bahkan dia sudah bisa memasang sendiri peralatan PD, tanpa diperintahkan oleh saya. Ini merupakan tugas orangtua untuk memberikan perawatan terbaik bagi anak-anak kita, membesarkannya dan menjadikan mereka sukses. Jadi kita harus gigih serta disiplin," sambung Indri.
Berbicara mengenai Gagal Ginjal Kronik (GGK), dr. Cahyani Gita Ambarsari memaparkan beberapa gejala gagal ginjal pada anak, sebagai berikut:
1. Tangan dan kaki membengkak, area sekitar mata membengkak.
2. Tidak nafsu makan.
3. Frekuensi buang air kecil yang menurun atau bahkan meningkat.
4. Berubahnya warna urin menjadi kemerahan dalam waktu lama, hal ini mengindikasikan adanya darah, biasanya urine akan berbusa karena adanya protein.
5. Pusing karena tekanan darah yang tinggi
6. Gejala seperti flu, mual, muntah, lesu, kelelahan, dan tidak napsu makan.
7. Pertumbuhan cenderung lambat dibanding anak seusia lainnya.
8. Kesulitan berkonsentrasi dan prestasi yang buruk di sekolah.
Apabila anak sudah menunjukkan gejala-gejala tersebut, orangtua harus segera membawa anaknya ke spesialis nefrologi anak agar dapat diberikan perawatan yang sesuai.
"Mendeteksi penyakit pada waktu yang tepat dan memilih dialisis sebagai perawatan membantu dia untuk bangkit dalam menjalani hidup. Sebagai orangtua, saya merasa melihat putra saya dapat tetap tumbuh dan berinteraksi sebagai anak usia 13 tahun yang normal. Saya membayangkan hari di mana segala cita-cita Aliefka dapat terwujud," ungkap Ibu Indri sambil berlalu memandang putranya bermain bersama teman-temannya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Misi Juara Piala AFF: Boyongan Pemain Keturunan di Super League Kunci Kekuatan Timnas Indonesia?
-
Bukan Ragnar Oratmangoen! Persib Rekrut Striker Asal Spanyol, Siapa Dia?
Terkini
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak
-
Dokter Saraf Ungkap Bahaya Penyalahgunaan Gas Tawa N2O pada Whip Pink: Ganggu Fungsi Otak!
-
Tidak Semua Orang Cocok di Gym Umum, Ini Tips untuk Olahraga Bagi 'Introvert'
-
Dehidrasi Ringan Bisa Berakibat Serius, Kenali Tanda dan Solusinya