Suara.com - Tidak ada hal lain di muka bumi yang bisa membandingkan kegembiraan ketika memiliki bayi bagi semua orang tua di dunia.
Tapi perlu diketahui, kelahiran anak juga dapat mempengaruhi kesehatan mental seorang ibu dengan cara mengubah suasana hati perempuan setelah persalinan.
Mulai dari depresi ringan hingga depresi klinis yang bertahan lama dan lebih mendalam yang juga dikenal sebagai depresi pascamelahirkan.
Depresi pascamelahirkan (PPD) sangat umum terjadi setelah seorang perempuan melahirkan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), depresi mempengaruhi 1 dari 6 perempuan yang telah melahirkan.
Namun, menurut sebuah studi terbaru, satu dari lima atau 21 persen ibu baru yang mengalami gangguan mood postpartum tidak mengungkapkan gejala mereka pada penyedia layanan kesehatan.
Studi tersebut menunjukkan bahwa lebih dari 10-20 persen perempuan mengalami gangguan mood yang signifikan setelah melahirkan, dan kelainan tersebut dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan emosional ibu serta anak-anak.
"Studi kami menemukan bahwa banyak perempuan yang mendapat manfaat dari perawatan tidak menerimanya, karena mereka tidak mengatakan kepada siapapun bahwa mereka menghadapi tantangan," kata Betty-Shannon Prevatt, psikolog klinis dan mahasiswa doktoral di North Carolina State University. .
Studi tersebut menemukan bahwa perempuan yang tidak bekerja, memiliki riwayat masalah kesehatan mental atau sedang yang mengalami gejala parah lebih cenderung tidak ingin melaporkannya ke dokter.
Baca Juga: Pertama Kali Bercinta setelah Melahirkan, Perhatikan Hal Ini
Dan hampir semua perempuan yang mengalami tingkat stres tertinggi, dan juga dikelilingi orang-orang dengan jaringan dukungan sosial terkuat, paling mungkin melaporkan gejala mereka ke penyedia layanan kesehatan.
Untuk penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Kesehatan Ibu dan Anak, tim peneliti tersebut melakukan survei anonim terhadap perempuan yang telah melahirkan dalam jangka waktu tiga tahun sebelumnya.
Tanggapan survei menunjukkan bahwa 51 persen peserta penelitian memenuhi kriteria gangguan mood postpartum.
Namun, lebih dari satu dari lima orang yang mengalami hal ini tidak mengungkapkan masalah mereka ke penyedia layanan kesehatan.
"Studi ini menyoroti pentingnya jaringan pendukung dan kebutuhan untuk menormalkan beragam reaksi yang dialami wanita setelah melahirkan," kata Prevatt.
"Kita perlu memperbaikinya agar perempuan membicarakan kesehatan mental mereka, sehingga mereka dapat memiliki akses perawatan yang lebih baik. Bekerja dengan orang-orang di sekitar ibu baru mungkin menjadi kunci," Prevatt menambahkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 5 HP Baterai 7000 mAh Terbaru 2026, Tahan Seharian dan Kencang Mulai Rp1 Jutaan
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?